Minggu, 22 Mei 2022

LUKA DI WAJAH ISTRIKU

 Luka berbentuk bintang dengan empat garis bersilangan di wajah perempuan itu mengejutkanku. Seperti luka yang kutorehkan di wajah istriku duapuluh dua tahun yang lalu...

Cerita tentang Monang dan Alya ini cukup keren, sayang kalau dilewatkan... 


Bab 1

Hari sangat terik, posisi matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Tetapi belum ada satu orang pun yang menggunakan jasaku.  Kuusap kotak kayu berisi peralatan sol sepatu, apakah hari ini juga harus seperti kemarin? Rejeki yang kudapatkan hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi berlauk telur dadar dan dua batang rokok saja. Dua tahun belakangan ini memang terasa sulit, tapi bulan-bulan terakhir kurasa lebih sulit lagi.

Aku memang tidak menghidupi anak dan istri, aku hidup sendiri di rumah peninggalan orangtuaku yang telah wafat beberapa tahun lalu. Aku pernah punya istri dan dua orang anak, tapi entah dimana mereka kini. Kalaupun mereka ada bersamaku mungkin kehidupanku lebih sulit lagi, ataukah kesulitanku sekarang akibat perbuatanku di masa lalu? Kuusap dadaku yang mendadak terasa sakit mengingat itu semua.

Seorang perempuan setengah baya dan seorang pemuda berjalan ke arahku. Langkah si perempuan agak tertatih, si pemuda, mungkin anaknya, tampak menuntun sang ibu sambil tersenyum.

"Pak, sol sepatu ya?" tanya pemuda itu. Ia berwajah tampan dan berkulit bersih, meski sebagian wajahnya tertutup masker sekali pakai berwarna biru. Matanya tajam, alisnya tebal. Rambutnya tersisir rapi. Tubuhnya proposional. Kelihatannya dia terpelajar.

Aku mengangguk, "iya, ada yang bisa dibantu?" tanyaku sambil mengucap syukur dalam hati.

"Ini sendal ibu saya, talinya ada yang lepas, bisa minta tolong dijahitkan?" tanyanya sambil meminta sang ibu melepaskan sendal dimaksud dan mengulurkannya padaku.

Aku memperhatikan sendalnya, kualitas baik, mungkin harganya cukup mahal.

"Bisa,"jawabku.

"Tolong dijahitkan ya, Pak," ujar pemuda itu. Aku mengangguk dan menyiapkan peralatan.


 Kuangsurkan kotak kecil berisi karet dan bahan-bahan sol lainnya kepada ibu tadi, kupersilakan ia duduk menunggu.

"Bu, duduk disini, adek mau beli minum dulu disana ya," kata pemuda itu. Ia menunjuk ke arah booth jus buah yang tak jauh dari kami.

"Ibu mau jus apa?" tanyanya.

"Mangga saja," jawab si Ibu.


Si pemuda berlalu. Kuperhatikan si ibu sejenak. Suaranya seperti sering kudengar, entah dimana. Wajahnya tertutup masker, kulitnya berwarna coklat muda dan bersih, seperti anaknya tadi. Ia berkacamata, dengan lensa berwarna abu-abu dan pantulan cahaya kebiruan dibawah sinar matahari. Tubuhnya ramping dengan outfit sederhana tapi kekinian. Mereka pasti keluarga berada, pikirku.


Aku mengerjakan pekerjaanku tanpa suara. "Bu, ini dijahit saja semua sisinya ya, supaya lebih kuat," ujarku pada perempuan itu. 

"Iya, pak. Bagaimana paling baik menurut Bapak saja. Itu tadi tidak sengaja terinjak orang yang berjalan di belakang saya waktu melangkah, malah tali sampingnya lepas," terangnya sambil tersenyum. 

Sempat kulihat kilatan kejut dimatanya saat ia menatapku. Tapi sedetik kemudian ia memandang ke arah anaknya yang masih menunggu jus buah pesanannya. 

Suara ibu ini, aku yakin sekali tidak asing. Tapi entahlah!


Si pemuda kembali ke arah kami, membawa tiga cup jus buah. Ia memberikan pesanan ibunya lalu mengangsurkan satu cup jus alpukat padaku, "untuk Bapak," ujarnya. Aku agak terkejut, tapi kuucapkan terimakasih. Dari pagi aku memang belum minum apa pun.


"Itu punyamu jus apa?" tanya si ibu.

"Strawberry campur apel," jawabnya sambil tertawa, memamerkan geliginya yang rapih dan bersih. Ah, aku teringat gigiku sendiri yang mulai banyak ditempeli karang gigi dan plak nikotin.

"Setelah ini kita kemana, Bu?" tanya si anak.

"Kita ke Masjid Al-Furqon ya, sekalian sholat Zuhur disana," jawab sang ibu.

"Dimana itu?"

"Di Jalan Diponegoro, nanti ibu beritahu arahnya,"

"Kenapa harus kesana?" 

"Ada yang ingin ibu lihat,"

Si pemuda mengangguk sambil ber-oh.


Masjid Al-Furqon, aku pun punya banyak kenangan disana. Saat aku dan istriku masih menjalin hubungan kasih sebelum kami menikah dulu. Kami sering menikmati siang hingga sore di kerimbunan taman kota yang ada di depan halaman masjid, memandangi kendaraan yang melintas, sambil berbincang tentang apa saja. Saat bertengkar pun kami memilih pergi ke tempat itu, untuk sekedar duduk menenangkan hati dengan semilir angin yang berhembus rapat disana.


Dimanakah perempuan itu kini? Perempuan baik yang kusia-siakan hidupnya, yang baru kusadari sangat berharga saat ia telah pergi meninggalkanku dengan luka yang kutorehkan duapuluh dua tahun lalu.


Pekerjaanku selesai. Aku menyorongkan sepasang sendal itu ke kaki si ibu.

"Sudah, Bu," ujarku.

"Berapa, Pak?" tanya si pemuda.

"Sepuluh ribu rupiah," jawabku. Terbayang nasi sayur dan telur dadar di benakku.

Si anak mengeluarkan uang dari kantungnya, tapi si ibu lebih cepat, diulurkannya pecahan seratus ribu kepadaku. 

"Tidak usah dikembalikan, untuk Bapak saja," katanya pelan. Ia menatapku lama.

Aku terpaku, tak menyangka dapat rejeki sebanyak ini. Kuucapkan terimakasih dengan suara serak.


"Ibu tidak minum?" tanya si anak.

"Nanti saja di mobil," jawab si Ibu.

"Cupnya penuh, diminum sedikit saja dulu, agar tidak tumpah saat dibawa," saran anaknya.

Si ibu menunduk, menatap cup jus mangga miliknya. Perlahan ia menurunkan masker, lalu menyesap jus melalui pipet plastik.


Aku terperanjat, ribuan jarum terasa menusuk hatiku. Dadaku terasa nyeri. Aku menatap wajah si ibu tak berkedip. Meski tak terlalu kentara, aku melihat guratan halus berbentuk bintang, empat garis lurus saling bersilangan di pipi kanannya. Seperti bekas luka akibat benda tipis dan tajam seperti silet, halus tapi dalam dan membekas selamanya.


Ia perlahan bangkit, mengabaikan aku yang masih tercengang memandanginya. Benarkah ia Alya? Alya istriku, ibu dari anak-anakku?


 Bekas luka itu, tak mungkin aku lupa, aku yang memberikannya. Aku melukainya secara sadar saat aku kalut dan terjebak emosi yang meluap. Aku sengaja melukainya agar ia tak pergi meninggalkanku karena wajahnya telah rusak. Tapi ia tetap meninggalkanku.


Ibu dan anak itu berlalu, si pemuda menggandeng lengan ibunya dengan kasih. Wajahnya bahagia, tetapi ada mendung di wajah sang ibu.


Sepuluh meter jarak mereka dariku, aku merasa harus mengambil kesempatan, menuntaskan rasa penasaran.

"Dik!" panggilku, "terimakasih jusnya," ucapku. 

Si pemuda menoleh, "iya, pak, sama-sama." Ia menebarkan senyum ramahnya. Si Ibu tak menoleh sedikit pun.

"Tinggal dimana?" tanyaku sambil berjalan mendekat.

"Kami hanya sedang berkunjung kesini," jawab si pemuda. 

"Seperti sering lihat," ujarku, beralasan.

Pemuda itu hanya tersenyum, "mari, pak," pamitnya sopan.


Aku mengiyakan. Ada yang berdenyut nyeri di dalam dadaku. Jika perempuan itu benar Alya, maka pemuda tadi adalah Alka, anakku yang kedua. Betapa tampannya ia. 


Aku kembali duduk diatas kotak peralatan sol sepatu dengan pikiran mengembara. Jika ia benar Alya, betapa beda nasib kami kini. Terlihat dari penampilannya dan anaknya, mereka pasti berpunya. Anak itu pasti sekolah tinggi, minimal sarjana strata satu. Gerak geriknya, gaya bicaranya, ibunya berhasil mendidik putranya.


Semakin kupikirkan, semakin aku yakin bahwa kemiskinan dan ketidakberdayaanku saat ini adalah buah dari perbuatanku di masa lalu. Aku, suami dan Bapak yang tidak bertanggungjawab, suami dan Bapak yang dzalim. Hingga di setengah abad usiaku, aku masih dalam kesulitan hidup. Bahkan untuk mengisi perutku sendiri setiap hari pun nyaris tak sanggup.


Kupandangi kotak sol sepatu, satu-satunya harta berharga yang kumiliki saat ini. Penyesalan kembali menderaku, meninggalkan bilur-bilur membiru dalam kalbu.


Benarkah mereka Alya dan Alka? Pertanyaan itu terus bergelayut hingga matahari luruh ke barat, tak kurasakan perutku yang kosong. Pikiranku yang penuh tentang perempuan dan pemuda tadi mengalahkan rasa lapar sepanjang siang.

Kamis, 19 Mei 2022

SENJA BERSAMA AISHA (Cerpen)

Matahari hampir luruh ke barat, saat mobilku memasuki sebuah area wisata pantai di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Aku bersama Aisha, putriku. Sudah dua Minggu ia merengek, minta rekreasi ke laut. Baru sore ini aku berkesempatan mengajaknya kesini.


Wajah Aisha terlihat gembira, matanya berbinar. Senyum tak henti terkembang di bibirnya yang tipis dan mungil. Senyum yang membawa bahagia sekaligus membuatku sedih hingga kini. Senyum putriku, mengingatkan aku pada seseorang yang kini entah ada dimana.

#

Umurku belum genap 17, saat aku jatuh cinta pada Ahsya, kakak kelasku di SMA. Dia baik, ramah, dan perhatian. Wajahnya manis, murah senyum. kulitnya putih kemerahan. Aku mengenalnya di sebuah kegiatan ekstrakurikuler. Dia pembimbing kami.

"Muthia!" panggilnya setiap kali lewat depan kelasku.

Teman-teman sekelas hafal kebiasaan Ahsya Biasanya mereka akan meledekku. Aku hanya tersenyum malu.

Pernah suatu hari panggilannya disahut oleh Eddy, teman sekelasku.

"Muthia gak masuk! Sakit!" teriaknya.

Teman yang lain tertawa.

Ahsya berhenti sejenak di depan kelas, melongok dari jendela dan melihat ke arah tempat dudukku. Kemudian berlalu sambil tersenyum.


Seperti remaja SMA umumnya, aku melalui hari-hari yang indah dan menyenangkan, apalagi ditambah Ahsya, hariku menjadi lebih berwarna. Saat bersama Ahsya, pelangi pun menjadi pudar keindahannya.


Aku dan Ahsya sangat dekat. Tak ada hari tanpa Ahsya di sampingku. Ia menungguku saat pulang sekolah, mengantarku sampai ke rumah. Kadang-kadang kami bermain dulu ke taman kota atau pusat perbelanjaan, sekedar melihat-lihat dan jajan.


Suatu hari Ahsya mengajakku pergi agak jauh, ke sebuah resort di Lampung Selatan. Aku menyetujuinya. Jujur, aku pun ingin pergi yang jauh berdua saja bersama Ahsya. Maka kami pun berangkat. Hanya berdua.


Setelah puas bermain-main di pantai, Ahsya mengajakku mampir ke resort. Memesan kamar untuk istirahat. Aku agak terkejut.

Ahsya tersenyum, memahami keterkejutan ku.

"Kita pulang nanti sore, tidak menginap," katanya.

Aku sedikit tenang, meski masih agak takut.


Kami menghabiskan siang yang panas itu dalam kamar peristirahatan. Aku capek sekali setelah berjam-jam bermain air di pantai. Aku pun tertidur. 

Dalam tidur aku dan Ahsya berkejaran di tepi pantai, menangkap ikan-ikan kecil dan memasukkannya ke dalam botol. Kami penuh tawa. Tiba-tiba aku merasa dadaku sesak, mulutku tersumbat oleh sebuah mulut lain.

Aku terbangun.


Tubuh Ahsya ada diatas tubuhku, dia menciumi wajahku, tangannya bergerak kesana kemari ke sekujur tubuhku. Aku berteriak, memukuli punggungnya. Tapi ia tak berhenti. Aku mencakar wajahnya, mendorong tubuhnya yang menghimpit ku. Lalu Ahsya berteriak pelan, dan melepaskan tubuhnya dari tubuhku.


Aku merasakan sakit dan pedih di organ intimku. Ahsya telah memperkosaku. Aku menangis. Ahsya memelukku, berusaha menenangkanku, tapi aku terlanjur takut.

Kukenakan pakaianku, melesat keluar kamar, berlari meninggalkan resort. Masih kudengar Ahsya memanggil-manggil namaku.

#

"Bunda, Bunda," Aisha menggoyang-goyang tanganku. 

Aku terkejut. Melamun terlalu lama.

"Ya, sayang," jawabku.

"Aish main kesana ya, tangkap ikan," katanya sambil menunjukkan jaring kecil yang dibawanya dari rumah.

Aku mengangguk.

"Hati-hati ya, jangan ke tengah," pesanku.

"iya, Bunda," jawabnya.

Kaki kecilnya menapaki pasir, menuju air.

Aku masih memandanginya. Aisha, ia tumbuh menjadi anak pemberani dan mandiri, tentu saja itu tidak lepas dari didikan ayah, ibu, kakak, dan adik-adikku.

Ya, aku membesarkan Aisha bersama keluargaku.

Angin laut bertiup agak kencang, membawa kembali aku dalam lamunan.

#

Aku berlari keluar resort, mencari taxi. Pulang.

Sesampainya di rumah, aku mandi berjam-jam. Aku merasa jijik sekali pada tubuhku. Tubuhku kotor, penuh dosa. Aku menangis tak henti dibawah shower. Berkali-kali menggosok badanku dengan sabun dan spon mandi, hingga habis sabun cair satu botol. Tapi aku tetap merasa kotor.


Aku benci sekali pada Ahsya. Mengapa ia melakukan itu padaku?


Aku menghindari Ahsya di sekolah. Aku tak mau bertemu dengannya. Pokoknya aku benci, benci sekali padanya.


Kekalutanku bertambah di bulan berikutnya, saat siklus menstruasiku terlambat. Aku bingung. Dan menelan sendiri semua kebingungan ku hingga Minggu keempat. Pada siapa aku harus bercerita?

Ahsya tak pernah lagi tampak di sekolah. Menurut berita yang ku dengar ia pindah bersama orangtuanya yang mendapat tugas ke kota lain.


Aku pun menangis. Takut dan bingung menderaku. Tapi tak mungkin aku menghadapinya sendirian. Aku mengajak tanteku bicara. Kuceritakan semuanya. Tante Lily tampak terkejut. Ia berusaha menghiburku dan berjanji akan membicarakan ini pelan-pelan pada ayah dan ibu.


Ayah dan Ibu sangat shock. Tapi mereka mampu mengendalikan emosi. Diambillah keputusan, untuk sementara aku harus pergi dari kota ini, ikut pada keluarga pamanku di Pekanbaru. Ayah mengurus segala sesuatunya. 


Aku tinggal bersama Paman Jauhari. Bibi Yuli baik sekali padaku. Mereka tak memiliki anak. Maka akulah yang menerima limpahan kasih sayang mereka. Aku yang hamil, tapi seolah mereka yang akan mendapatkan bayi. Mereka bahagia sekali.

Setiap kali janin dalam perutku bergerak, Bibi akan berteriak kegirangan sambil memanggil Paman, lalu paman ikut mengelus perutku yang mulai membesar. Mereka berpandangan dan tertawa bahagia.


Awalnya aku membenci kehamilanku, tapi sikap paman dan bibi merubah perasaanku. Mereka ingin sekali memiliki anak, tapi tidak bisa. Sedangkan aku, belum waktunya memiliki anak tapi aku hamil.

Betapa anehnya hidup ini.


Paman dan bibi sering menasehati, bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Mereka selalu mengingatkan aku untuk bersabar atas ujian ini.


Tujuh bulan kemudian bayiku lahir, seorang putri cantik. Paman dan bibi memberi nama "Aisha". Melihatnya, semua kesakitan dan kesedihanku terasa sirna. Aku bertekad akan membesarkan bayi ini, meski tanpa ayahnya.


Paman dan bibi mendaftarkan aku sebagai murid pindahan di sebuah sekolah swasta di Pekanbaru. Aisha diakui sebagai putrinya. Hingga aku menyelesaikan pendidikan di SMA. Paman dan Bibi masih menahanku untuk tinggal, namun ayah memintaku untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi di kota kami. Aku pun kembali ke rumah saat Aisha berusia dua tahun.


Aisha anak yang lincah dan lucu, keluargaku menyayanginya. Terutama Ibu. Tak pernah kudengar sekalipun mereka mengungkit tentang ayahnya, apalagi tentang masalahku di masa lalu. Maka aku bisa menyelesaikan kuliahku dengan tenang.


Kini Aisha berumur tujuh tahun. Aku sudah bekerja di sebuah bank swasta. Secara ekonomi hidup kami cukup. Paman dan Bibi setiap tahun datang untuk menjenguk Aisha. Tahun lalu aku yang membawa Aisha ke Pekanbaru.

#

Tiba-tiba aku mendengar teriakan Aisha. Aku menoleh kearahnya. Tampak Aisha sedang tertawa gembira dengan jaring dan wadah ikan ditangannya. 

Tapi aku terkesiap melihat seorang lelaki yang bersama Aisha. Aku menatapnya tak berkedip. Sosok itu, ah.... Tak mungkin!

"Bunda!!" seru Aisha

"Aish dapat ikan banyak!" serunya gembira.

Lelaki itu mengikuti arah Aisha bicara. Ia tampak terpaku.

Aisha berlari membawa wadah ikan ke arahku. Lelaki itu mengikutinya.

Aku semakin yakin, dia Ahsya.


Kini ia berdiri di hadapanku.

"Muthia..." bisiknya. Suaranya bergetar.

Aku membuang muka.

"Ini anakmu?" tanyanya sambil mengelus kepala Aisha.

Aku tak menjawab.

"Om kenal bunda?" tanya Aisha polos

Ahsya diam. Matanya terus menatapku. Tangannya mengelus kepala Aisha.

"Aish, kita pulang, sayang," ajakku pada Aisha.

Ahsya membungkuk, mengelus pipi Aisha.

"Aisha sudah sekolah? dimana?"

"Sudah, om. Di SD Pelita. Kelas satu A," jawab Aisha.

"Aisha!" panggilku, sambil berjalan menuju mobil.

"Aisha lahir tanggal berapa?" tanya Ahsya.

"4 September. Om mau kasih kado ya?" tanya Aisha polos.

Ahsya tertawa. Tapi kemudian tertegun.

"Aish!" panggilku agak keras.

Aisha berlari ke arah mobil.

"Dadah, oom !!" Aisha melambaikan tangan pada Ahsya.

Ahsya mengejar, berdiri di samping jendela mobil.

"Muthia, Aisha, Aisha... apakah Aisha...." kata-katanya terputus.

Aku menginjak pedal gas. Berlalu dari hadapannya.

Aisha menatapku, bingung.

Kulihat dari spion, Ahsya menatap kepergian kami...

SUATU PAGI DI MASA PANDEMI (Cerpen)

 SUATU PAGI DI MASA PANDEMI


Aku masih ingat salah satu pagi di Bulan Juni 2020, langit biru cerah, sinar matahari kemilau di arah timur. Cuaca yang membangkitkan harapan terutama bagi orang-orang yang beraktifitas di sektor-sektor non formal, pedagang pasar, pedagang keliling, usaha laundry, ojek, dan profesi lain yang selalu berharap cuaca cerah. Seperti biasa aku berangkat ke sekolah, melaksanakan tugas mulia sambil berharap menjadi ladang amal dan pahala. Jalan lengang. Sejak diberlakukan pembatasan sosial karena pandemi covid-19, jalan-jalan kota cenderung lebih sepi, tidak seramai hari-hari sebelumnya.

Tiba di sekolah suasana juga lengang meski beberapa petugas harian tetap beraktifitas. Peserta didik sejak minggu ketiga Bulan Maret sudah menjalani pembelajaran jarak jauh dengan metode daring. Biasanya ketika datang ke sekolah pemandangan yang dilihat adalah remaja-remaja berseragam putih abu-abu dengan senyum ceria dan suara yang penuh semangat, terdengar lantunan tadarrus atau lagu-lagu perjuangan dari sentral audio sekolah, serta kesibukan guru-guru mempersiapkan pembelajaran. Namun beberapa bulan terakhir suasana itu menjadi berbeda. Kami hanya disambut gedung megah yang sunyi, ruang-ruang kelas kosong, serta guru-guru yang serius menyampaikan materi belajar melalui gawai. 

Aku menapaki anak tangga agak cepat, mensupport diri sendiri agar bersemangat. Di teras ruang guru terlihat empat orang sedang duduk, dua orang dewasa, dua lagi peserta didik kami. Berbeda dengan cuaca cerah diluar, wajah mereka terlihat agak muram. 

Melihat kedatanganku, peserta didik tersenyum dan menyalami.

“Assalamu’alaikum, ibu,” sapa mereka

“Walaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Apa kabar, anak ibu yang cakep-cakep soleh dan soleha ini? Sudah cuci tangan?” Aku menjawab salam mereka.

“Baik, ibu.. Alhamdulillah, sudah pakai handsanitizer juga.” Mereka menjawab serentak.

Dua orangtua yang sedang duduk ikut tersenyum, aku menyalami mereka.

Memasuki ruang guru, Pak Arief, wakil kepala sekolah menghampiriku.

“Bu, orangtuanya Lukman dan Asyifa mau menghadap ibu.”

“Ada masalah apa, pak?”

“Belum bisa membayar biaya sekolah.” 

Aku ingat Lukman Hakim, peserta didik kelas 11, rajin, berkarakter tenang dan soleh. Sering memimpin tadarrus pagi dan mengimami sholat dzhuhur di musholla kecil sekolah kami. Ayahnya seorang karyawan toko. Asyifa peserta didik kelas 11 dari jurusan lain, aktif di ekstrakurikuler seni dan olahraga, ayahnya sopir bus antar provinsi.

“Dipersilakan masuk saja,” kataku kepada Pak Arief yang langsung mengiyakan.


Beberapa saat kemudian seorang Bapak yang tadi bertemu di teras memasuki ruangan.

“Assalamu’alaikum, bu. Saya Yusuf, orangtuanya Lukman Hakim,” sapanya sambil memperkenalkan diri.

“Walaikumsalam, pak. Mari silakan duduk. Ada yang bisa kami bantu?”

“Sebentar lagi Ujian Kenaikan Kelas ya, bu? Tapi mohon maaf sebelumnya, saya belum bisa membayar biaya pendidikan Lukman. Minta tolong penangguhan waktu ya, bu. Sejak Februari toko tempat saya bekerja omzetnya turun dan terus menurun hingga bulan kemarin. Karyawannya dari 10 orang terus dikurangi setiap bulan. Bulan kemarin saya pun kena giliran. Saat ini saya belum memiliki alternatif penghasilan lain, untuk biaya sehari-hari masih pakai simpanan yang ada, itu pun tidak seberapa. Mungkin dipakai untuk kebutuhan dua bulan juga habis.”

Aku diam mendengarkan, memahami permasalahannya. 

“Kalau kondisinya seperti itu, pak, kami cuma bisa memberi kelonggaran waktu pembayaran. Lukman harus tetap mengikuti ujian kenaikan kelas, nanti kami bicarakan dengan wali kelasnya. Bapak dan keluarga tidak perlu sedih atau putus asa, di luar sana masih banyak orang lain yang mungkin kondisinya lebih sulit dari kita. Bapak yang sabar, semoga nanti ada rezeki lain untuk keperluan biaya pendidikan Lukman.” Aku menanggapi keluhan sekaligus memberi penghiburan.

Pak Yusuf tersenyum, mengucapkan terimakasih, berjanji mengupayakan biaya yang dibutuhkan, lalu keluar ruangan.

Berikutnya orangtua Asyifa, Ibu Erni, begitu beliau memperkenalkan diri. Dia juga mengutarakan permasalahannya. Ayah Asyifa masih tertahan di wilayah Jawa Timur karena perusahaan Otobusnya sudah tiga bulan tidak mengizinkan perjalanan ke luar provinsi. Sehingga pekerjaan tidak ada, pulang belum bisa, uang pun tidak punya. 

“Saya sudah berusaha mencari tambahan, bu. Bekerja di laundry dekat rumah. Tapi laundry juga sekarang sepi,” keluhnya. Aku mengangguk tanda mengerti.

Kepada Bu Erni aku juga cuma bisa menanggapi keluhan dengan penghiburan kecil, menyarankan untuk bersabar dan mengupayakan hal-hal lain yang dianggap bisa menjadi sumber pemasukan keluarga.

Seperginya Bu Erni, aku termangu. Begitu mudahnya aku memberi penghiburan kepada orang lain, tapi apakah mudah bagi mereka untuk menjalani kondisi seperti ini? Kebingungan menyiasati hidup yang berubah secara tiba-tiba.

Seperti mereka sekolah kami juga punya permasalahan. Sebagai sekolah swasta, kami harus membiayai sendiri kegiatan operasional sekolah, termasuk honor guru. Selama masa pandemi ini sirkulasi keuangan sekolah mengalami kendala, lebih banyak biaya keluar daripada dana yang masuk. RKAS berkali-kali mengalami perubahan, disesuaikan dengan kebutuhan yang dianggap lebih mendesak, membeli alat-alat protokol kesehatan, mengadakan dan memperbaiki bak cuci tangan, menyemprot disinfektan di lingkungan sekolah dan lain-lain. 

Meski agak sulit, kami mengupayakan pembayaran honor guru tetap lancar setiap bulan. Bukan karena lebih mementingkan guru, tetapi honor guru di sekolah swasta itu besarannya hanya ratusan ribu rupiah, banyak yang dibawah angka limaratus ribu. Alangkah sedihnya kalau honor yang sedikit itu pun harus kami abaikan. Biaya listrik, jaringan internet, langganan surat kabar, setiap bulan harus dibayar. Bulan ini masih bisa ditanggulangi, bagaimana bulan-bulan berikutnya? 

Pak Yusuf dan Bu Erni hanya sedikit contoh dari banyak permasalahan yang dihadapi masyarakat kecil. Tiga bulan masa pandemi sudah menimbulkan rentetan masalah, sementara angka-angka pasien yang terpapar covid-19 terus meningkat. Pemerintah aktif memperbaharui berbagai kebijakan terkait pandemi sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Melalui jendela kaca aku memandang keluar, jalan kota membentang, satu dua kendaraan lewat. Pedagang bakso, batagor, es kacang, buah potong, duduk termangu di trotoar, di sisi gerobak masing-masing. Diam. Tak ada obrolan. Meski tanpa suara, terpotret kegalauan hati mereka.

Aku menatap langit, biru cerah dengan sedikit awan. Terbersit harapan tentang sebuah keajaiban. Berlalulah masa pandemi. Agar kehidupan kami normal dan membaik lagi.


===



SISTER IN LAW (15)

 Bab 15


Siang hingga sore aku menjaga Leang ditemani ibu dan mama. Keduanya terlibat dalam pembicaraan tentang masa lalu, masa-masa saat mereka masih muda. Sesekali mereka tertawa satu sama lain. Ibu dan Mama memang akrab sekali, dibandingkan dengan besan yang lain hubungan Mama dengan Ibu bisa dibilang paling dekat. 

Ayah dan Bapak setengah harian mengobrol di lobby, entah apa isi obrolannya tetapi tampaknya seru dan tak terputus-putus. Ditingkahi tawa dan gerakan tangan kesana-kemari. Sama seperti Ibu dan Mama.

Kadang aku berpikir, apakah hubungan mereka yang harmonis ini juga menjadi pemicu kebencian saudara-saudara iparku?

Rossy ditemani Anggun menjaga Marry. Saran Nandean atas penjagaan Marry sudah disampaikan pada Anggun dan Naura. Mereka menyetujui. Bahkan mereka langsung menyusun jadwal menjaga Marry. Lily dan Rara tetap dilibatkan tetapi tidak pada hari dan jam yang sama, selain itu mereka tetap mengupayakan penjagaan bertiga.

Agar tak banyak protes dari Lily dan Rara, Bapak sendiri yang akan memberitahukan pelaksanaan jadwal penjagaan tersebut. Jika mereka menolak, maka mereka dihapus dari jadwal dan tidak diperkenankan datang ke rumah sakit. Tapi memang hingga siang tak ada bayangan mereka datang.

"Aku khawatir Lily melakukan sesuatu yang membahayakan jika dibiarkan sendirian menjaga Marry," ungkap Nandean saat kami berjalan-jalan sebentar keluar dari area rumah sakit.

"Itukan adiknya sendiri. Apa dia tega melakukan hal-hal jahat pada adiknya?" Tanyaku.

"Kau tidak tahu," jawab Nandean.

"Saat aku kecil dia pernah menyiram dadaku dengan air panas, ia marah karena dimintai tolong Mama untuk membuatkan aku susu. Tapi dia beralasan bahwa akulah yang tidak sabar merebut gelas susu yang masih panas untuk diminum," cerita Nandean.

Aku tersentak.

"Lalu?" Tanyaku

"Pokoknya dia paling pintar cari alasan dan mengelabui kami, terutama Bapak. Pada Bapak dia selalu mencari muka dan bersikap seperti orang tak punya dosa," jelas Nandean.

"Tapi kan sekarang Bapak sudah tahu," kataku.

"Bapak baru tahu semua kelicikannya saat Naura akan menikah. Dia terus menghalang-halangi pernikahan Naura, akhirnya Naura menceritakan semua perbuatan Lily pada kami," kata Nandean.

"Makanya Bapak tetap menikahkan kita meski Lily marah dan mengamuk saat itu. Bapak tak mau menunjukkan bahwa selama ini dia dipengaruhi Lily. Bahkan ketika kita tinggal di rumah Bapak, Lily selalu memberikan laporan buruk tentangmu kepada Bapak. Tetapi Bapak sudah banyak tidak percaya lagi kepadanya, terlebih yang sering berada di rumah bersamamu adalah Mama. Maka ucapan Mama yang lebih didengarkan Bapak. Itu sebabnya ada kalimat Marry seolah Mama sudah dipengaruhi dukun, itu hasutan Lily." Papar Nandean.

"Lalu kenapa kau diam saja saat itu? Bahkan tidak pernah memperingatkan aku." Aku menggerutu.

"Maaf ya, saat itu sebenarnya aku memang bingung. Aku mencoba bersikap netral diantara saudaraku dan istriku. Jika aku marah pada mereka pasti mereka akan semakin membencimu," jawab Nandean sambil menggenggam tanganku.

"Aku tahu kau sudah memberi sinyal saat Leang lahir, ketika kau mengatakan bahwa saat itu kau tidak sendiri lagi tapi ada anak yang harus kau bela. Aku merasa keributan akan terjadi dan kau tidak akan mau mengalah lagi. Itu sebabnya aku langsung mengikuti keinginanmu untuk keluar dan pindah dari rumah itu," kata Nandean lagi.

"Kau tak perlu takut. Kau tak sendiri. Aku disampingmu," ujarnya sambil mencium punggung tanganku.

"Aku hanya menyesalkan, kenapa sampai harus jatuh korban." Aku bergumam.

"Sudah tertulis dalam takdir dunia bahwa kejadiannya harus seperti ini," kata Nandean.

"Segala peristiwa, baik atau buruk, menyenangkan atau menyedihkan, semua terjadi atas pengetahuan dan izin dari Tuhan. Kita tidak bisa mengelak. Tugas kita hanya menerima dan menjalani skrip hidup yang telah ditentukan," lanjutnya.

Kami terdiam beberapa waktu. Sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

Lalu kami kembali ke kamar Leang saat terdengar adzan Ashar berkumandang.

Ada Naura dan Anggun sedang berbincang dengan ibu, bercanda dengan Leang. Mama bergantian menjaga Marry bersama Rossy.

Naura undur diri terlebih dahulu. Hendak pulang ke rumah, berjanji pada Anggun akan datang lagi nanti malam. Rupanya jadwal dari Bapak sudah berlaku dan dilaksanakan. 

Sempat kudengar Naura berkata kepada Anggun:

"Lily tidak perlu diberitahu dulu, tunggu dia datang saja. Kalau dia tidak datang jangan ditelpon suruh datang, biar saja," katanya.

Anggun menyetujui.


Usai Ashar ayah dan Ibu berpamitan pulang demikian juga dengan Bapak dan Mama. 

"Mungkin besok pagi kami baru bisa kesini lagi," kata Bapak.

"Jangan lupa berdoa terus untuk kesembuhan anakmu dan saudaramu, kalau ada perubahan apa pun segera hubungi kami," pesan Bapak.

Mereka berempat, berbarengan meninggalkan ruang perawatan. Aku memandang punggung keempatnya dengan rasa yang sulit kujelaskan.

Memang benar bahwa setiap orang diberi ujian sesuai porsinya. Ada yang diuji dengan pasangan, ada yang diuji dengan mertua atau ipar, ada yang diuji dengan orangtua, ada yang diuji dengan anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menerima ujian itu dengan ikhlas dan menjalaninya sesuai skenario Tuhan.

Seorang teman pernah berkata, jangan mencari jawaban dari ujian hidup. Sebab saat kita temukan jawaban, hidup telah mengganti ujiannya. Percaya saja bahwa Tuhan memberikan ujian lengkap dengan jalan keluar atau jawabannya.

Leang asyik menonton televisi, sesekali bertanya ini itu kepada Anggun.

"Halo, ya. Kenapa, Ra?" Anggun menjawab panggilan telponnya.

[ ............. ....... ....... ] Suara tak begitu jelas dari lawan bicara Anggun.

"Marah-marah kenapa?" Tanya Anggun.

[..... ..... .... .... .... ....]

"Ngapain juga kau ngurusin dia. Biar aja semau dia, kan dari dulu juga begitu," Anggun menggerutu.

[.... ..... .... .... .... ....]

"Ya kalau dia bilang begitu suruh kesini aja, ngomong sama dokternya minta dirawat gitu," kata Anggun sambil tertawa.

[.... ..... .... .... .... ....]

"Tidak ada yang membicarakan dia disini. Tidak penting!" Kata Anggun.

"Sudahlah suruh dia istirahat saja di rumah. Ada aku, Naura dan Rossy yang jaga Marry," putus Anggun.

Telpon ditutup.

"Aneh..." Gerutu Anggun.

"Kenapa?" Tanya Nandean.

"Si Lily marah-marah katanya. Dia juga sakit tapi kok tidak ada yang memperhatikan, semua cuma sibuk menjaga Marry. Dia juga tanya, kita disini membicarakan dia gak," jawab Anggun.

"Kalau dia pengen dirawat di rumah sakit juga ya tinggal datang saja. Dirawat. Nanti siapa yang mau jaga suruh jaga," kata Nandean.

"Atau dia ingin dijaga Naya?" Nandean meledek.

Anggun tertawa.

Aku menanggapi dengan senyum saja.

"Jangan-jangan benar ucapanku kemarin, Marry sadar, dia yang masuk rumah sakit," kata Nandean.

Anggun diam saja.

Sore hingga malam itu terasa tenang. Kondisi kesehatan Marry juga terus membaik, dia sudah mulai bisa berkomunikasi mesti terbata-bata. 

Aku menjenguknya malam itu, masih ada tatapan ketakutan di matanya namun tak menolak saat tangannya kusalami.

Rossy menjelaskan padanya bahwa aku sudah mengetahui jika Lily yang selama ini menyuruhnya bersikap buruk padaku. Dengan terbata-bata ia mengatakan sesuatu kepada Rossy, aku tak tahu apa yang dikatakannya. 

Tapi aku mendengar Rossy mengatakan:

"Rara juga?"

Marry mengangguk.






SISTER IN LAW (14)

 Bab 14


Tigapuluh menit proses radiologi selesai.

"Radiografi nya nanti kami serahkan kepada dokter spesialis yang menangani Leang ya, Bu." Kata petugas di ruang radiologi.

"Baik, mas. Terimakasih." Jawabku.

Bersama perawat kami membawa Leang kembali ke kamar.

"Bagaimana?" Tanya suamiku.

"Tunggu hasil analisa dulu." Jawabku.

"Leang istirahat lagi ya," kata perawat yang mengantar kami.

"Mari, pak, Bu." Pamit mereka.

Kami mengucapkan terimakasih pada keduanya.

Tiba-tiba ada suara tangis mendekat.

"Naya..huhuhuhu.. Naya.." ternyata Rara.

"Maaf ya, Nay. Kakak baru jenguk Leang..huhuhu.." katanya.

"Iya, kak." Jawabku sambil menatapnya heran.

"Kau nangis kenapa?" Tanya Nandean.

"Bapak mengusirku pulang, tidak boleh ke rumah sakit." Jawabnya.

"Ya pulanglah. Kok malah nangis." Kata Nandean.

"Aku juga ingin mengurus adikku, melihat keponakanku." Katanya.

"Sudah banyak adikmu yang mengurus, kau urus saja anak-anakmu." Jawab Nandean.

"Kau ini seperti Bapak. Bapak juga bilang begitu tadi. Apa laki-laki di keluarga kita memang begitu semua?" Tanyanya sengit.

"Iya, yang berbeda itu suamimu, bukan anak Bapak." Jawab Nandean.

"Anaknya jugalah." Rara ngotot.

"Kalau suamimu anaknya Bapak bagaimana kau bisa menikah dengan dia?" Tanya Nandean.

Aku menahan tawa.

Rara terlihat berpikir sejenak.

"Bodo amat lah!" Katanya.

Nandean terbahak.

"Rara, Rara, anak sudah tujuh tapi kelakuanmu seperti anak-anak. Nangis-nangis di tempat umum, apa entah." Kata Nandean lagi.

Rara diam saja.

"Nay, maafkan kakak kalau ada salah ya." Tiba-tiba ia memelukku.

"Iya, kak." Jawabku. Masih dengan perasaan heran pada sikapnya.

"Ya sudahlah, aku mau pulang dulu. Bapak Leang, aku minta ongkos sih untuk naik gr*b." Katanya.

Nandean menatapnya, tapi dikeluarkannya juga selembar uang pecahan seratus ribu.

"Terimakasih ya, Bapak Leang, Nay. Semoga rejeki kalian lancar, semoga Leang cepat sehat." Katanya.

"Amin..." Sahut kami.

Rara pun secepat kilat pergi.

"Aneh..." Gumam Nandean.

Aku tertawa pelan.

Keenam iparku punya karakter masing-masing yang benar-benar istimewa.

"Ibu, mamanya Dzaki itu kenapa?" Tanya Leang.

"Dia sedang sedih." Jawabku.

"Apakah Dzaki juga sakit?" Tanyanya lagi.

"Tidak, Dzaki sehat-sehat saja. Leang juga cepat sehat ya, biar bertemu Dzaki." Ucapku.

"Eang mau tidur." Katanya.

"Tidurlah, nak.." kataku sambil mengusap lembut kepalanya yang kini tidak berperban lagi.

Leang memejamkan mata.

Ada ketukan di pintu, aku menoleh. Rossy masuk.

"Kakak sama Abang, dipanggil Bapak dan Mama." Katanya.

"Biar aku yang jaga Leang" sambung Rossy.

"Assalamualaikum..." Suara yang kukenal terdengar mengucap salam.

"Ibu.. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh.." jawabku sambil menyambut. Kucium punggung tangannya. 

Ternyata ayah juga datang. Nandean dan Rossy pun menyalami keduanya.

"Bagaimana kondisi Leang?" Tanya mereka.

"Alhamdulillah, sudah banyak perkembangannya," Jawab Nandean.

"Tadi baru selesai Rontgen, tunggu hasil analisanya besok," sambungku.

Mereka mendekat ke pembaringan.

"Lho? Sudah tidak diperban lagi?" Tanya ayah.

"Kata dokter sudah boleh dibuka," jawabku.

"Ooohh.." mereka berucap bersamaan.

"Ayah, ibu, kami mau ke kamar Marry dulu, ditunggu Bapak dan Mama," kata suamiku.

"Oh, ya, ya. Tidak apa-apa. Tinggal saja Leang bersama kami," sahut ayah.

Rossy terlihat bingung.

"Ikut kami saja, sy," ajak Nandean.

"Iya, ikut saja. Ponakannya aman bersama kami disini," canda ayah sambil tersenyum.

Rossy tertawa.

"Kami keluar dulu, Yah, Bu," pamit Nanden.

Ayah dan Ibu mengiyakan.


Kamar Perawatan Marry berselang satu blok dari ruang perawatan Leang.

Tampak Mama dan Bapak duduk di sisi kiri pembaringan.

Kami menuju ke sisi kanannya.

"Marry, ada adikmu, nak," kata Mama lembut sambil menyentuh tangan Marry.

Marry menggeliat, membuka matanya.

Ia menatap Nandean dan aku dengan ketakutan. Dipejamkannya lagi matanya.

Nandean menyentuh tanganku, memberi isyarat.

Aku mendekati tempat tidur.

"Kak," aku menyapanya, kugenggam tangannya. Dingin.

"Kak, aku minta maaf. Kakak cepat sembuh ya," ucapku terbata.

Marry mengepalkan tangan.

"Marry, adikmu minta maaf, dimaafkan ya, nak. Kau juga harus minta maaf atas sikap kasarmu pada Naya dan anaknya," bujuk mama.

Tak ada reaksi.

Matanya dipejamkan rapat-rapat. Bibirnya kian memucat.

"Kak, Ibunya Leang selalu mendoakan kak Marry, semoga cepat sembuh," kata Rossy.

Marry tak merespon.

"Marry, maafkan istriku ya," kata Nandean di telinganya.

Marry melenguh.

"Salam dari Leang untuk Tante Marry cantik," kata Nandean lagi.

Bulir bening mengalir dari mata Marry. Lalu Isaknya perlahan terdengar.

Ternyata dia bisa takut, dia juga bisa menangis. Pikirku. Entah menangis marah atau menangis menyesal.

"Marry, semua orang menyayangimu. Saya dan Mamamu juga sangat menyayangimu. Meski kau suka melawan, sering buat kami marah, kami tetap menyayangimu," kata Bapak.

"Siang malam kami mendoakan keselamatanmu, siang malam kami mengharapkan kesembuhanmu. Cepatlah kau sembuh dan mulai hidupmu yang baru," lanjut Bapak.

Marry terisak semakin keras. Tapi ia tak mengatakan apa pun.

Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. Yang kutahu, saat ini aku merasa lega karena Marry sudah dalam keadaan sadar kembali, rasa bersalahku sedikit berkurang.

Mama mengusap-usap lengan Marry, memberinya penguatan dan penghiburan.

"Cepat sembuh ya, nak," ucap mama berkali-kali.

Rossy berdiri di ujung tempat tidur, memandangi kakaknya.

"Naura dan Anggun sudah kau beritahu, Rossy?" Tanya Bapak.

"Sudah, pak. Siang ini mereka kesini," jawab Rossy.

"Pak, Lily jangan dibiarkan menjaga Marry sendirian," Kata Nandean.

"Kalau Lily jaga, harus ada orang kedua. Jadi kalau yang jaga berdua, harus ada orang ketiga. Supaya Lily terpantau terus. Bukan aku berprasangka buruk, tapi ada baiknya berjaga-jaga. Semua sudah tahu bahwa peristiwa ini berawal dari hasutan Lily, kita harus tetap waspada Lily akan berupaya menghilangkan jejak. Kemungkinan pertama, dia kembali menghasut Marry, kemungkinan kedua dia mengancam Marry, kemungkinan ketiga dia mencelakakan Marry supaya rahasianya tidak terbongkar, dan menekan Naya supaya terus merasa bersalah," papar Nandean panjang lebar.

Bapak dan Mama tampak merenung.

Aku teringat mimpiku.

"Aku setuju dengan Bapak Leang," ungkap Rossy. "Kita harus menjauhkan kak Marry dari pengaruh buruk kak Lily," sambungnya.

"Intinya, jangan memberi mereka kesempatan hanya berdua," tegas Nandean.

"Mestinya kak Rara juga dijauhkan dari kak Lily," kata Rossy.

"Sudah kubilang sama si Ishaq, jangan boleh si Rara dekat-dekat sama si Lily. Tapi ya namanya kakak beradik. Tetap saja hubungan itu ada," kata Bapak.

"Hubungan memang harus tetap ada, tapi komunikasi harus dibatasi," kata Nandean.

"Ah, entahlah. Bingung saya sama si Lily ini. Mau saya usir, dia belum punya suami, masih ada tanggungjawab saya. Saya suruh cepat-cepat nikah, calonnya pun belum ada. Jadi macam manalah!" keluh Bapak.

"Mereka bukan anak kecil lagi, pak. Umurnya sudah berapa. Harusnya sudah jadi orangtua. Sudah tak pantas lagi menjadikan Bapak tameng, apalagi untuk melindungi kejahatan hatinya," ucap Nandean.

"Mengerikan anak Bapak satu itu," timpal Rossy. "Jahat sejak dalam pikiran," katanya lagi.

"Tapi terserah Bapak, kalau masih mau terus-terusan melindungi dia. Paling nanti ada korban baru lagi," kata Nandean.

"Jangan sampailah, nak," sela Mama.

"Kita harapkan yang baik-baik untuk keluarga ini." 

"Kapan rencana operasi?" Tanya Nandean.

"Masih menunggu hasil pantauan beberapa hari ke depan dulu. Baru nanti diputuskan, harus operasi atau tidak," jawab Bapak.

Aku menatap wajah mertuaku yang terlihat lelah dan tampak lebih tua dalam beberapa hari belakangan.



SISTER IN LAW (13)

 Bab 13


Jam setengah delapan pagi, Anggun dan Naura meninggalkan kamar rawat inap Leang.

"Nay..." panggil suamiku pelan.

"Kau tahu kenapa mereka tiba-tiba kesini?" Tanyanya.

"Siapa?" Aku balik bertanya.

"Itu, ketiga iparmu," jawabnya.

Aku tersenyum.

"Kenapa dengan iparku rupanya?" Tanyaku sambil menirukan logat Bapak.

Nandean tertawa.

"Mereka tahu, posisi mereka bakal berbahaya kalau terus bersama Lily, makanya mereka mendekat ke kita," kata suamiku.

"Berbahaya kenapa?" Tanyaku.

"Kau tak berpikir, ada ancaman tersembunyi dibalik ucapan Kak Ilham dalam pertemuan kemarin," jawabnya.

"Ooohh.. " aku menghela nafas. 

Dalam benakku, tak mungkin kakakku sampai sejauh itu. Tapi biarlah jika ipar-iparku menganggap seperti itu.

Pantas saja kemarin Anggun dan Naura menyatakan permintaan maaf kepada keluargaku.

"Saat membawakan makanan untuk mereka tadi malam, Bapak sedang bicara: 'kalian tahu, kakak-kakak lelaki si Naya itu marah, tidak terima adiknya diperlakukan seperti ini oleh kalian. Tapi mereka punya tata Krama, mereka punya adab, mereka punya cara sendiri menyampaikan kemarahannya. Malu saya. Jauh sekali bedanya anak-anak Pak Ikram dengan anak saya.' Tapi aku langsung mengalihkan pembicaraan. Bukan apa-apa, takut mereka semakin benci padamu dan keluargamu karena dibanding-bandingkan," papar Nandean.

"Mungkin itu sebabnya Lily bilang akan lapor polisi," jawabku.

"Iya," tanggap suamiku.

Lalu kami mengajak Leang berbincang, ia asyik nonton TV selama kami ngobrol tadi. 

Semoga saja dia tidak mendengarkan percakapan orang-orang dewasa di sekelilingnya tadi.

Jam delapan rombongan perawat dan dokter memasuki ruangan kami. Melakukan pemeriksaan rutin pada Leang.

"Halo, Leang!" Sapa dokter Victor dengan ramah.

"Bagaimana kabarmu pagi ini? Apa yang kau rasa?" Tanyanya beruntun.

"Aku ingin mandi," jawab Leang.

"Sementara belum boleh, di lap saja dulu ya," bujuknya.

"Aku mau ini dilepas," Leang menunjukkan perban di tubuhnya.

"Oh, boleh.. nanti ada perawat yang membantu melepasnya. Tapi kalau nanti Pak dokter bilang pasang lagi, harus dipasang lagi ya," jawab dokter Victor.

Leang mengangguk.

"Diminum obatnya, makan yang banyak, jangan lupa berdoa pada Tuhan, biar cepat sembuh dan pulang ke rumah ya," kata dokter lagi.

"Aku mau obat yang pahit, biar cepat sembuh," pinta Leang.

"Siap, Jendral Leang!" Canda dokter sambil meletakkan tangan di dahinya, posisi memberi hormat.

Leang tertawa.

"Nanti jam 10 Leang dibawa lagi ke radiologi ya, Pak, Bu," kata seorang perawat.

"Iya, mba." Kami menyahut.

"Permisi Bapak dan Ibu, sampai ketemu lagi nanti sore ya, Leang," pamit dokter.

"Terimakasih, dokter," sahut kami.

Sesaat setelah rombongan dokter pergi, Bapak dan Mama datang.

Mereka menyapa dan mencandai Leang. Tigapuluh menit kemudian mereka dipanggil Rossy untuk menemui dokter yang memeriksa Marry. Bapak mengajak Nandean ikut serta.


Aku sendirian bersama Leang yang mulai terkena efek obat, mengantuk. Tak lama kemudian ia tertidur.

Aku memandangi wajah anakku, mengusap kepalanya, menyentuh wajahnya. Dia yang pernah sembilan bulan menghuni rahimku, nafasnya pernah menjadi nafasku, pertumbuhannya dari air susuku.

Mengapa ada yang begitu tega ingin mencelakakan anak tak berdosa ini? Bahkan saat ia sama sekali belum mengerti rasa benci, belum memahami merah hitam dunia ini.

Sedemikian dengkinya kah Lily kepada kami? Bukankah kami tak pernah meminta apa pun kepada Bapak? Bahkan kami telah mengalah pergi. Keluar dari rumah tanpa membawa apa pun dari sana.

Kami membeli rumah dengan uang tabungan sendiri, tanpa mengganggu keluarga ini. Bahkan ayahku menawarkan pinjaman yang akhirnya menjadi pemberian saat ia mengusulkan kami membeli kendaraan, karena tak tega melihat Leang kehujanan saat kami berkunjung ke rumah Ayah dan Ibu.

Kakakku memberi bantuan tambahan modal saat suamiku memutuskan untuk membuka usaha terpisah dengan Bapak. Bukan karena mereka banyak uang tetapi menghargai upaya suamiku untuk berusaha secara mandiri.

Lalu mengapa Lily tetap menaruh kebencian kepada kami? Padahal tak setitik pun kami berpikir apalagi berniat untuk menguasai kepemilikan Bapak. Sebodoh-bodohnya kami, kami paham aturan agama, aturan hukum, aturan adat.

Nandean mengajariku banyak hal tentang adat istiadat dan budaya leluhurnya, bahkan di rumah kami ada buku tebal tentang nilai-nilai adat dan budaya mereka. Tujuannya tentu saja agar aku berhati-hati dan tak keliru menempatkan posisiku dalam keluarga besar mereka. Namun seperti yang kukatakan sebelumnya, hanya Bapak dan Mama yang mengamalkan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari. Aku tak menemukannya dalam diri ipar-iparku.

Jika mereka merasa bahwa budaya membuat orangtua lebih mengutamakan anak lelaki, bukankah mereka pun akan diutamakan oleh pihak keluarga suami saat mereka nanti menikah? Mereka kurang berperan di keluarga sendiri, tetapi memiliki peran penting dalam keluarga suami. Tidakkah itu adil?

Tidak ada tradisi yang mendiskriminasi lelaki dan perempuan, melainkan masing-masing tetap memiliki peran yang seimbang meski berbeda. Kecuali kita tidak memahami pengaturan tradisi sehingga tidak menemukan celah untuk berdiri secara seimbang.

Terdengar suara langkah tergesa-gesa di lorong kamar, lalu ada ketukan di pintu dan ucapan salam.

Rossy masuk ke dalam,

"Kak... " Katanya sambil menangis.

"Kak Marry sadar," ucapnya terbata.

"Alhamdulillah..." Sambutku.

Entah mengapa, kurasakan lega didadaku.

"Kalau dalam pantauan satu jam ini kesadarannya masih bertahan, dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap," sambung Rossy.

"Semoga Kak Marry bertahan sadar ya, Sy," ucapku.

"Iya, kak," sahutnya.

"Bapak Leang sedang memesan ruang rawat di bagian pelayanan," Lanjut Rossy.

Dua orang perawat mengetuk pintu dan memasuki ruangan.

"Ibu, kita mau buka perban Leang ya," katanya.

"Silakan, mba," jawabku.

"Leang tidur ya? Setengah jam lagi Leangnya kita bawa ke radiologi ya," Perawat itu mengingatkan.

"Iya, mba," jawabku.

"Kak, aku kembali ke sana dulu ya," pamit Rossy.

Tiba-tiba ia memelukku.

"Terimakasih banyak, kak. Atas doa-doa kakak untuk Kak Marry," bisiknya.

Aku mengusap punggungnya. Punggung yang terlihat ringkih tetapi kuat menanggung rahasia keluarga.

Ia melepaskan pelukan dan berlalu.

Leang terbangun saat perawat membuka kain perban yang melilit tangan dan kakinya.

"Leang ganteeeng," sapa sang perawat.

"Tante buka ya perbannya," katanya.

Leang mengangguk.

"Iya, buka saja. Panas," sahut Leang.

Perawat itu tersenyum.

Setelah semua perban dibuka, Leang merentangkan tangan ke atas.

"Eeeehhh.. pelan-pelan!" Kata perawat.

"Pelan-pelan ya, dek. Takutnya nanti luka lagi," saran perawat yang satu lagi.

Leang tersenyum.

"Kirain aku sudah bebas," jawabnya.

Perawat tertawa.

"Ayo, kita bersiap ke radiologi!" Ajak mereka.

Leang sudah bisa duduk, maka dia dibawa dengan kursi roda. 

"Paha dan pinggulnya sakit tidak?" Tanya perawat.

Leang menggeleng.

Sepanjang lorong ia menggenggam tanganku.

Kami bertemu Nandean di ujung koridor.

"Bu, kalau sudah selesai nanti ke ruangan Marry ya!" Kata Nandean.

"Iya, Pak," jawabku.

"Memang sudah dipindah ke ruang perawatan?" Tanyaku.

"Belum," jawab Nandean.

"Atau nanti saja, tunggu kalau sudah di ruang rawat?" Tanyanya.

"Ibu ikut saran Bapak saja, bagaimana baiknya," jawabku.

"Ya, sudahlah. Nanti saja. Urus Leang saja dulu," kata Nandean.

"Ibu saja yang temani Leang ya, Bapak bantu Mama dulu kalau-kalau ada yang diperlukan," Sambungnya.

Aku mengangguk. 

Suamiku ini memang sigap sekali kalau urusan bantu membantu, di keluarganya sendiri maupun di keluargaku. Itu sebabnya ayah, ibu, dan kakak-kakakku menyukainya. Nyaris tak pernah ada perselisihan paham diantara mereka.

Kami terus menuju ruang radiologi.

Progres kesehatan Leang, perubahan kondisi Marry, merupakan hal penting bagi kami. Setidaknya kondisi ini meringankan beban pikiran mertuaku.

Bagiku sendiri, informasi tentang Marry bagai seberkas cahaya yang memberi harapan, bahwa aku masih punya kesempatan untuk memohon maaf padanya. 






SISTER IN LAW (12)

 Bab 12



Menjelang subuh Leang terbangun.

"Ibu..." Gumamnya.

"Ya, sayang," sahutku sambil menciumnya.

Malaikat kecilku tersenyum.

"Mau minum," pintanya.

Aku mengambilkan minum.

"Aku buatin susu ya, kak," tawar Rossy.

"Sayangnya ibu mau minum susu gak?" Tanyaku pada Leang.

"Mau.." jawabnya.

Rossy bergegas membuat susu.

Leang memandanginya. Ia tak kenal akrab dengan Rossy. Setiap kali kami berkunjung ke rumah Bapak dan Mama, Rossy tidak di rumah. Kami hanya bertemu saat kunjungan hari raya. Itu pun hanya selintas saja. Rossy tipe pendiam dan tak suka ngobrol.

"Disuapi Tante ya? " Tawar Rossy kepada Leang.

Leang mengangguk.

Adzan subuh terdengar dari musholla dan masjid di sekitar rumah sakit. Aku membangunkan Nandean yang baru beberapa menit tertidur. Ia segera bangkit menuju musholla, setelah menyapa Leang sebentar.

Kudengar Rossy mengajak Leang bercakap-cakap dan mencandainya sambil menyuapkan sesendok demi sesendok susu.

Aku larut dalam perbincangan ku dengan Tuhan.

Segelas susu telah dihabiskan Leang. 

Rossy beranjak sholat subuh.

Aku duduk di sisi pembaringan. Kugenggam tangan Leang, kucium pipinya.

"Cepat sembuh ya, nak," bisikku.

Menurut dokter jaga tadi malam tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi Leang. Perkembangan kesehatan nya meningkat pesat. Bahkan dugaan retakan di tangan dan kakinya ditengarai tidak ada, hanya sedikit memar dan kaku otot yang tidak terlalu serius.

"Ibu, apakah kain-kain ini boleh dilepas?" Tanyanya menunjuk perban yang masih melilit bagian kepala, kaki, dan tangan.

"Nanti kita tanya dokter ya, nak," jawabku sambil tersenyum.

'Kepala Leang masih sakit?" Tanyaku.

Leang menggeleng.

Nandean datang membawakan sarapan.

"Abang dari kemarin membawakan sarapan untuk mereka, jangankan bilang terimakasih, menegur saja tidak," kata Rossy.

"Itu kan kakak-kakakmu," Jawab Nandean sambil tertawa.

Rossy tersenyum datar.

"Tapi tadi Anggun bilang: Terimakasih, Bapak Leang," Kata Nandean.

"Tapi Abang langsung pergi?" Tanya Rossy.

"Ya mau ngapain?" Nandean balik bertanya.

Aku mendengarkan percakapan mereka sambil tersenyum. Mereka ini aneh sekali. Selama aku menjadi menantu di keluarga ini jarang kulihat mereka berbincang akrab antar kakak beradik bersama-sama. Mereka hanya berkumpul saat Bapak memanggil untuk merapatkan sesuatu yang suasananya selalu formal cenderung tegang.

"Kak, aku mau ke lobby IDM dulu ya. Siapa tahu ada kabar terbaru tentang Kak Marry,"pamit Rossy usai sarapan.

"Leang, Tante keluar dulu ya. Nanti siang kita nonton kartoon sama-sama," janjinya pada Leang.

Leang tampak tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Hati-hati ya, Tante!" serunya, membuat kami tertawa.

Belum lama Rossy keluar, Anggun datang.

"Hai, Leang!" Sapanya.

"Sudah bisa ketawa ya sekarang?" Ujarnya ramah.

Leang tersenyum dan mengangguk.

"Mau minta dibelikan apa kalau sembuh?" Tanyanya

"Pesawat," Jawab Leang.

Anggun tertawa.

"Uang Tante belum cukup kalau untuk beli pesawat," Jawabnya.

"Beli tiketnya saja, seperti Pakde," Kata Leang sambil tertawa.

Tawa Anggun berderai. 

Baru kali ini aku melihatnya tertawa bebas pada anakku.

"Sudah bisa tidur, Nay?" Tanyanya padaku.

Anggun juga termasuk jarang sekali mengajak bicara padaku.

"Sudah, kak," Jawabku.

"Tadi malam Marry sempat sadar sekitar 15 menit," Katanya.

"Syukurlah.." tanggapku.

"Nay, kalau misalnya nanti Lily melaporkan kasus ini ke polisi, kamu jangan takut. Laporkan juga tentang perbuatan tidak menyenangkan yang sudah mereka lakukan pada kamu," Kata Anggun.

"Memang dia mau laporan katanya, Gun?" Tanya Nandean.

"Dia bilang sih begitu," Jawab Anggun.

"Bilang sama dia, aku mau buat laporan bahwa mereka melakukan percobaan pembunuhan berencana, Naya juga buat laporan tentang perbuatan tidak menyenangkan," Kata Nandean.

"Sampaikan juga padanya, tidak perlu mengancam-ancam kami. Kami tidak takut. Aku pastikan dia yang akan berlutut minta maaf padaku nanti," lanjut Nandean.

Anggun terdiam.

"Kupikir setelah kami mengalah pergi dan keluar dari rumah itu, dia mau berubah. Ternyata semakin parah," gerutu Nandean.

"Aku bisa saja berkeras tetap tinggal disana, siap perang menghadapi mereka, tapi aku memikirkan anak dan istriku. Tak mungkin aku membiarkan mereka dirundung setiap hari. Bisa gila istri dan anakku nanti," sambungnya.

Aku mengajak Leang bercakap-cakap, mengalihkan perhatiannya dari perbincangan Anggun dan Nandean.

"Assalamualaikum.." terdengar ucapan salam dan ketukan di pintu kamar. 

Lalu pintu terbuka, menampilkan wajah Naura.

"Nay..." Sapanya.

Aku tersenyum.

Dia menghampiri Leang.

"Apa kabar, Leang? Sudah mau sembuh yaaa?" Tanya Naura.

"Iya, Eang mau cepat sembuh. Mau naik pesawat," jawab Leang tersenyum.

"Tante boleh ikut?" Tanya Naura.

"Boleh, tapi bayar." 

"Berapa bayarnya?"

"Berjuta-juta."

"Kalau tak ada uang?"

"Minta saja pada Pakde."

Kami semua tertawa mendengar percakapan Leang dan Naura.

"Rossy sendirian disana?" Tanya Nandean.

"Ada Rara baru datang." Jawab Naura.

"Tadi dia cerita, Bang Ishaq marah-marah katanya di rumah. Tapi aku malas mendengarkan makanya aku kesini sekalian lihat Leang," jawab Naura.

"Dia pagi-pagi kesini terus anaknya sama siapa?" Tanya Nandean.

"Dibawa ke rumah mama katanya." Kata Naura.

"Ya Allah..." Anggun bergumam lirih.

"Makanya tadi kutelpon Bapak, kubilang agar Bapak dan Mama segera kesini. Biar Lily saja yang jaga anaknya Rara di rumah," kata Naura lagi.

Anggun tertawa.

"Kalau gitu aku pulang ganti baju saja, langsung berangkat ke kantor," ujarnya.

"Iya, Gun. Kalau Rara masih mau disini biar nanti aku juga pulang dulu," kata Naura.

Aku hanya jadi pendengar pasif diantara mereka.

"Bapak Leang sudah tahu belum, Lily mau lapor polisi?" Tanya Naura.

"Tadi sudah ku beritahu," kata Anggun.

"Biar saja dia lapor polisi," jawab Nandean.

"Beritahu pada kakak kalian itu, daripada uangnya untuk bikin laporan ke polisi lebih baik untuk biaya pengobatan Marry," kata Nandean lagi.

"Sampaikan juga, kalau Marry dan Rara bisa digertak dan ditakut-takuti, tapi Naya tidak," ujar Nandean.

"Sebenarnya waktu Naya marah kemarin dia sudah agak takut sih," kata Anggun. 

"Tubuhnya gemetar, malam itu dia mengeluh kepalanya sakit, dadanya berdebar-debar. Terus dia bilang: apa aku keracunan ya, Gun?"

"Lalu maksudnya dia mau bilang dia keracunan, yang dimakan makanan bawaanku, dia mau menuduh aku meracuni makanannya begitu?" Tanya Nandean.

"Itulah kalau kita selalu berbuat buruk pada orang lain maka kita juga akan selalu berprasangka buruk pada orang lain. Otaknya yang beracun, menuduh orang mau meracun."

"Benar kata Bapak, entah dimana si Lily ini menyimpan otaknya," lanjut Nandean.

Mereka tertawa.

"Mudah-mudahan Marry segera pulih kondisinya, biar bisa dinasehati perlahan-lahan, jangan selalu mengikuti anjuran Lily. Akhirnya dia sendiri yang menanggung akibatnya," kata Naura.

"Kalau saya terus terang, Nay. Saya tidak menyalahkan Naya. Dalam situasi yang sama mungkin saya juga akan bertindak seperti itu. Bahkan mungkin lebih buruk lagi, mengingat perlakuan buruk Marry juga sudah dari dulu. Siapa yang tidak khilaf melihat anak berlumuran darah. Apalagi sebelumnya mendengar sumpah serapah, pasti emosi," papar Naura.

"Kita tunggu sajalah perkembangan kondisi Marry, mudah-mudahan pagi atau siang ini ada kesadarannya kembali walaupun cuma beberapa menit," kata Anggun.

"Marry sadar nanti gantian Lily yang masuk rumah sakit, lihatlah!" Kata Nandean.

"Pak, Jangan mendoakan yang buruk," Tukasku cepat.

"Bukan mendoakan, ini memprediksi," Jawab Nandean.

"Tapi tidak boleh mendahului Tuhan," ucapku dengan perasaan yang masygul.

Kulihat Naura dan Anggun saling berpandangan.



SISTER IN LAW (11)

 Bab 11


Hingga Nandean datang, Rossy masih menangis.

"Kenapa?" bisik Nandean kepadaku.

Aku menggeleng, tak mampu bersuara. Tenggorokanku seperti tercekat.

Aku menghampiri Rossy yang tertelungkup di samping Leang. Mengusap-usap punggungnya. Bahkan aku saja terperanjat mendengar ceritanya, apalagi dia yang mendengar langsung dan mengetahui fakta tentang kejahatan kakaknya. 

"Bapak sama Mama mau kesini katanya," ujar Nandean memecah kebisuan.

Aku membereskan makanan yang tadi dibawa Nandean. 

"Kok banyak amat ini?" Tanyaku.

"Bapak dan Mama mau makan bareng disini," jawab Nandean.

Rossy bangkit mengusap matanya, kemudian ke kamar mandi. Gemercik suara air terdengar, tampaknya ia mencuci muka.

Tak lama ada suara salam dan ketukan di pintu kamar. Aku gegas membukanya, tampak wajah Bapak dan Mama yang terlihat letih.

"Bagaimana si Leang?" Tanya Bapak

"Sedang tidur, pak. Tadi demam tinggi, tapi sudah mulai agak turun," jawabku.

"Apa yang dirasa katanya?" Tanya Bapak lagi.

"Kepalanya sakit," ujarku.

"Sudah bisa bilang dia apa sakitnya, pintar anak ini," kata Bapak sambil tersenyum.

Aku menyiapkan makan.

Rossy keluar dari kamar mandi, mengisi baskom kecil yang ada di washtafel dengan air dan membawanya ke tempat aku meletakkan makanan.

"Biasanya Bapak makan pakai tangan, jadi perlu tempat cuci tangan," katanya.

Bapak memandang ke arah Rossy. Pasti beliau melihat wajah sembab anaknya. Tapi diam saja.

"Ayo, Pak, Ma, makan," ajakku.

"Kami malam ini pulang dulu, biar istirahat mamamu di rumah, dari kemarin belum tidur. Sama seperti Naya, belum sempat tidurnya kurasa," kata Bapak sambil makan.

"Rossy disini dulu ya, nak. Gantian jaga Leang biar kakakmu bisa tidur dulu," Kata Mama.

"Iya, ma. Aku juga sudah bilang tadi sama Ibunya Leang," jawab Rossy.

"Kalau ada yang marah karena kau disini, bilang sama saya," kata Bapak.

Masih terlihat kegusaran di raut wajahnya.

"Saya bilang sama si Ishaq, bawa istrimu pulang, suruh atur rumah tangganya, jangan ngatur rumah tangga orang lain! Sudah tujuh anaknya masih bikin malu orangtua," cerita Bapak.

"Tak ada jawaban Bapak si Sultan?" Tanya Mama.

"Macam mana dia mau jawab, tak ada haknya menjawab saya," kata Bapak.

"Sama seperti Bapak si Leang ini, tak ada hak nya menjawab kalau Pak Ikram marah," lanjut Bapak.

"Katanya Lily sakit, pak?" Tanya suamiku.

"Sakit jiwa," gerutu Bapak.

Aku dan Mama tertawa.

"Merongrong, tak bisa lihat orang lain senang," lanjut Bapak.

"Katanya Hipertensi ya, Ma?" tanyaku pada Mama.

"Sudah mau tujuh tahun hipertensi," jawab Mama.

"Macam mana tak darah tinggi, manas-manasi orang lain saja kerjanya, hatinya sendiri yang jadi lebih panas. Pikirannya tak bisa tenang, selalu cari kesalahan orang," sahut Bapak.

"Siang malam kudoakan cepatlah menikah orang-orang ini. Biar berubah kelakuannya. Biar tahu rasanya punya suami, punya anak." Bapak terus bicara.

"Tapi itu mamak si Sultan masih begitu," sela Mama.

"Ah, dasar tak ada otaknya orang itu. Anaknya sakit ngemis-ngemis dia sama saya minta uang berobat, entah kemana semua gajinya suami istri. Jangankan mau ngasih orangtuanya, untuk anak sendiri pun tak ada dia biaya. Anak saya sakit disuruhnya saya minta biaya sama besan saya. Dasar sinting! Udang saja masih ada otaknya kurasa," Omel Bapak.

"Berapa katanya si Rara sama si Lily mau nyumbang, Rossy?" Bapak bertanya pada Rossy.

"Masih seperti yang ada dalam catatanku itu lah, pak," jawab Rossy.

"Nol," gerutu Bapak.

"Entah kemana hasil kerjanya selama ini, tak ada yang kelihatan."

"Kalau kita lahir miskin, itu bukan salah kita. Tapi kalau kita mati masih dalam keadaan miskin, ada yang salah sama hidup kita. Bukan miskinnya yang salah, tapi kenapa kita jadi miskin itu yang salah. Sebab Tuhan itu menciptakan siang dan malam, laki-laki dan perempuan, kecukupan dan kekayaan. Tak ada kemiskinan."

"Jadi kita pulang, pak?" Tanya Mama.

Tak terasa makan malam sudah selesai dari tadi.

"Ayolah," ajak Bapak.

"Kami pulang dulu, hubungi kami kalau ada yang penting bagaimana perkembangan si Leang. Jangan berhenti berdoa pada Tuhan untuk kesembuhan anakmu." Bapak berpesan sambil berpamitan.

"Iya, pak. Semoga kondisinya terus membaik," jawabku.

"Kau pantau-pantaulah si Naura dan Anggun, cari kabar si Marry," kata Bapak kepada Nandean.

"Iya, pak," jawab suamiku.

Mama memelukku.

"Sabar ya, Nay. Titip cucu Mama," katanya.

Aku mengiyakan.

Nandean pergi mengantar Bapak dan Mama pulang.


"Sy, aku tidur dulu ya," kataku pada Rossy setelah kupastikan suhu tubuh Leang sudah mendekati normal.

"Iya, kak," jawabnya.

Aku pun tertidur.

Entah berapa lama. Saat aku mendengar percakapan Rossy dan Nandean. Dua orang kakak beradik ini jarang sekali komunikasi dua arah. Tapi malam ini mereka bercakap-cakap. Sebagian besar isi percakapannya tentang apa yang sudah disampaikan Rossy padaku.

Alarmku belum berbunyi, berarti belum waktunya untuk sholat malam. Aku memutuskan tidur lagi.

#

Aku berdiri di bawah sebuah pohon mangga yang besar dan berbuah lebat. Buah-buahnya yang matang jatuh berserakan di sekeliling pohon. Kupungut buah-buah yang jatuh dan kumasukkan dalam sebuah keranjang besar hingga keranjangku hampir penuh.

Lily dan Marry datang mendekat, mereka memetik buah yang masih tergantung di pohon.

"Kak, tidak boleh mengambil yang masih di pohon. Ambil yang sudah jatuh saja!" Aku mengingatkan.

Lily menatapku marah. Dia pergi dan kembali lagi membawa sebuah golok panjang. Disuruhnya Marry memotong dahan pohon.

"Biar dapat banyak buahnya," katanya kepada Marry.

Aku tak bisa mencegah mereka, karena pohon ini pun bukan milikku.

Susah payah Marry memotong dahan sementara Lily hanya berteriak-teriak mengatur begini dan begitu, bahkan sesekali marah jika Marry tak bisa menjangkau dahan pohon.

Tiba-tiba dahan pohon patah, jatuh menimpa Marry. Aku berteriak mengingatkan, tapi terlambat. Marry jatuh rebah tertimpa dahan pohon yang besar dan lebat.

Aku mendekat, memeriksa keadaannya. Lily berteriak-teriak memanggil orang-orang dan mengatakan aku lah yang telah mencelakakan Marry. Aku diam saja dan terus berusaha menyingkirkan dahan dan daun yang menutupi tubuh Marry.

Tiba-tiba seekor ular besar bergerak dari balik dahan dan mengejar Lily. Dia berteriak minta tolong, tetapi orang-orang hanya diam. Lily berlari jatuh bangun hingga tiba di tepi sebuah jurang, ular terus mengejar, kali ini seekor anjing pun ikut mengejar. Tak ada tempat bagi Lily untuk berlari. Ia memanjat sebuah batu, namun batu itu lepas dan masuk ke dalam jurang. Aku berteriak ngeri seiring dengan teriakan Lily.

#

"Kak, kak, " tubuhku terasa diguncang, pipiku ditepuk-tepuk.

Astaghfirullah... Ternyata aku mimpi.

Aku mengusap wajahku sambil terus beristighfar.

"Mimpi apa, kak?" Tanya Rossy

Aku tak menjawab.

Kulihat Nandean tidak ada.

"Bapak Leang kemana, Sy?" Tanyaku.

"Barusan keluar, menemui Kak Naura dan Kak Anggun," jawabnya.

Aku bangkit menuju kamar mandi. Sekalian berwudhu dan bersiap sholat malam. 

Kuraba dahi putraku, normal. Tampak ia tidur dengan tenang. Nafasnya teratur. Kucium pipinya sekilas.

Kembali aku menghadapkan wajah dan hatiku, menengadahkan kedua belah tangan, mengetuk pintu langit dengan doa-doa. Merayu Tuhan agar mendengar permohonan-permohonanku. Meminta pertolonganNya untuk menyelesaikan urusan-urusanku.

Terdengar langkah tergesa di lorong. Pintu kamar kami dibuka dari luar. Nandean.

"Marry tadi sadar sebentar," katanya.

"Alhamdulillah..." ucapku dan Rossy berbarengan.

Rossy memandangku yang masih menggunakan mukena.

"Terimakasih, kak," katanya lirih.

Ia pun ke kamar mandi, berwudhu, lalu sholat dua raka'at.




SISTER IN LAW (10)

Bab 10


Menjelang Maghrib kondisi Leang kembali mengkhawatirkan. Demam tinggi. Berkali-kali infus lepas dan pindah tempat.

"Ibu, kepala Eang sakit," rintihnya

"Sabar ya, nak. Nanti setelah minum obat sembuh," bujukku sambil mengusap kepala dan mencium pipinya.

"Leang berdoa kepada Allah, minta disembuhkan ya," hiburku.

"Ibu juga doakan Eang, kita berdoa sama-sama," pintanya.

"Iya, sayang. Ayolah kita berdoa," ajakku.

"Ya Allah, Yang Maha Penyayang, segala puji adalah milikMu, hanya kepadaMu kami mohon pengampunan atas segala khilaf dan kesalahan. Kami hadapkan wajah dan hati kami, untuk memohon kemurahanMu agar meringankan sakit kami dan menyegerakan kesembuhan bagi kami. Ya, Robbana, limpahkanlah bagi kami segala kebaikan dari sisiMu. Aamiin."

Leang mengikuti setiap kata yang kuucapkan.

Mata beningnya menatapku, lengkung bibirnya membentuk senyum.

"Ibu, kalau bicara pada Allah kita harus baik-baik ya?" Tanyanya.

"Bicara pada siapa pun harus baik-baik, nak. Karena semua yang ada di dunia ini ciptaan Allah. Jadi kita harus baik-baik pada mereka, agar Allah suka dan baik juga kepada kita," jawabku sambil mengelus tangannya.

"Eang suka bicara baik-baik sama kucing, seperti ibu bicara baik-baik pada bunga," katanya.

Aku tersenyum.

Anakku sedang berada dalam fase golden age, kami harus bisa menanamkan kebaikan padanya.

"Ibu sholat dulu ya, sayang," ucapku

"Kalau sedang sakit, boleh tidak sholat ya, Bu?" Tanyanya polos. 

Aku baru ingat, sejak Leang sadar dan ditempatkan di kamar ini aku tidak mengajaknya sholat saat Dzuhur dan ashar tadi.

"Harus tetap sholat, nak. Tapi boleh dilakukan sambil duduk atau berbaring," jawabku.

"Ibu sholat dekat Eang saja, biar Eang ikuti sambil rebahan," katanya.

Aku tersenyum. Tak terasa air mataku mengalir. Terharu.

"Bapak juga sholat disini saja ah, biar bareng sama ibu dan Leang," kata suamiku.

Leang tersenyum riang.

Kami sholat berjamaah dengan Leang yang tetap berbaring di tempat tidur.

Tak dapat kutahan tangis saat suamiku membaca surat Al-Insyirah setelah Alfatihah.

"Bukankah telah kami lapangkan dadamu, dan menurunkan beban yang memberati punggungmu, dan kami tinggikan sebutan namamu, maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila telah selesai suatu urusan kerjakanlah urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmu engkau berharap."

Kami menyelesaikan tiga rakaat dengan khusyuk, larut dalam bacaan-bacaan kami, bersungguh-sungguh dalam setiap kalimat yang kami lafadzkan. 

Betapa kami hanya sebutir debu di semesta yang luas ini, tak ada daya dan kekuatan kami kecuali dengan izin Allah. Maha suci Allah dari segala persekutuan, hanya kepadaNya kami menyembah dan memohon pertolongan.

Aku mencium punggung tangan suamiku seusai sholat, aku berharap Allah mengizinkan lelaki ini menemani dan membimbingku dalam setiap langkah kami menyusuri perjalanan hidup. Menangis dan tertawa bersama melalui suka dan duka, dalam senang dan sedih, saat sehat dan sakit.

###

Rossy berkunjung ke kamar saat Maghrib usai.

"Kak, kalau kakak mau istirahat, biar aku yang jaga Leang," katanya.

Aku tersenyum.

"Siapa yang jaga Marry malam ini?" Tanya suamiku pada Rossy.

"Kak Anggun dan Kak Naura," jawabnya.

"Bapak dan Mama nanti mau pulang dulu, istirahat," lanjut Rossy.

"Rara dan Lily pulang juga?" Tanya suamiku.

"Kak Rara diajak Bang Ishaq pulang, Dzaki rewel katanya. Lily hipertensinya kambuh," urai Rossy.

"Bang Ishaq tampaknya marah." Rossy bergumam.

"Kenapa?" Tanya Nandean.

"Katanya karena kak Lily nyuruh kak Rara minta biaya rumah sakit pada ayahnya kak Naya, kak Lily juga marah pada kak Rara karena menceritakan dalam pertemuan tadi sore," jawab Rossy.

Kami tersenyum, ada-ada saja mereka ini.

"Kalian sudah makan belum?" Tanya suamiku.

"Belum. Kakak dan Abang juga belum kan? Nanti sekalian aku pesan," jawab Rossy.

"Tidak. Biar aku saja yang beli, sekalian keluar nanti," kata suamiku.

Suamiku beranjak keluar kamar.

Rossy duduk di sisi pembaringan, tangannya mengelus pipi Leang perlahan. Selama ini jarang sekali dia melakukan kontak fisik dengan anakku.

"Kak, maaf ya atas kelakuan kakak-kakak kami." Tiba-tiba Rossy bersuara.

Aku tersenyum, "tidak apa-apa."

"Kak, bisa tidak kakak memaafkan kak Marry?" Tanyanya.

Aku tertegun.

"Berat ya, kak?" Tanyanya lagi.

"Kak, kalau aku ceritakan satu hal, maukah kakak memaafkan kak Marry?" Tanya Rossy lagi, kali ini air matanya berlinang.

"Kenapa?" Tanyaku.

"Sebetulnya apa pun yang dilakukan Marry kepada kakak, itu adalah perintah Lily," kata Rossy.

Aku tercengang.

Kutatap wajah Rossy, aku tak menemukan kebohongan disana. Wajah Rossy adalah wajah tulus Mama, hanya ia lebih pendiam.

"Waktu Abang bilang akan menikah, Lily mengamuk, dia tak terima, tak mau dilangkahi oleh Abang. Dia bilang, dia sudah dilangkahi oleh Naura dia bisa terima karena Naura perempuan, tapi kalau dilangkahi adik lelaki sampai mati pun dia tidak terima. Dalam persepsi Lily, dilangkahi menikah oleh adik lelaki berarti menutup jodohnya. Tetapi waktu itu Bapak tetap menikahkan Abang dengan kakak, karena umur Abang juga sudah tigapuluh. Kata Bapak, kasihan kalau Abang terlalu tua menikah, nanti saat anaknya butuh biaya banyak malah Abang sudah terlalu tua untuk cari uang.

Lily memprovokasi Anggun dan Marry untuk melawan Bapak, tapi mereka tidak berani. Makanya kemudian kak Naya yang dijadikan sasaran. Lily sering bilang pada kami bahwa Bapak akan mewariskan semua miliknya kepada Abang, kami tidak akan mendapatkan apa-apa, justru nanti istrinya abanglah yang dapat semuanya, makanya kami harus mencari cara agar kak Naya tidak betah bahkan bercerai dari Abang."

Astaghfirullah... Aku beristighfar.

"Lily selalu memperingatkan kami terutama Marry, jangan sampai Kak Naya berkuasa di rumah. Itu sebabnya mereka sengaja membuat kakak mengerjakan semua pekerjaan rumah, terutama saat Mama tidak ada. Bapak pernah menegur kami karena hal itu, tapi Lily menjawab tidak ada yang harus dijadikan 'bos' di rumah ini.

Kami pernah ditegur tamu-tamu Bapak dan Mama saat mereka datang dan kakak yang menyediakan minum, saat tamu pulang Bapak mengomeli kami. Lily semakin benci pada kakak. Itu sebabnya setiap ada tamu bapak dan mama aku buru-buru melayani, menyiapkan dan menyuguhkan minum dan makanan. Aku tak mau ribut-ribut. Walaupun hasilnya aku juga yang dimarahi Lily dan Marry," lanjut Rossy.

Aku kehilangan kata.

"Marry itu bodoh, kak. Dia lah yang paling bisa diatur dan dimanfaatkan Lily. Semua yang dia lakukan pada kakak, memaki, marah, bahkan sampai kekerasan fisik, itu atas suruhan Lily.

Saat Bapak marah, dia bilang: aku kan sudah bilang aku gak terima dilangkahi jadi aku gak terima perempuan itu jadi iparku dan tinggal disini.

Kami pun selalu diancam untuk tidak menikah sebelum dia sendiri menikah. Bapak pernah memintanya membawa calon suami ke rumah, tapi dia tidak merespon. Bapak bilang, kalau kau minta nikah sekarang pun aku nikahkan sekarang juga.

Dia selalu bilang berulang-ulang bahwa dia tak ikhlas melihat Abang membawa istrinya tinggal di rumah. Apalagi melihat Bapak dan Mama sayang pada Kakak, dia semakin benci. Puncaknya setelah Leang lahir. Dia semakin merasa terancam. Sebab Bapak bilang, yang berhak tinggal di rumah bapak adalah anak, cucu, cicit lelaki.

Itu sebabnya Marry disuruh berlaku jahat juga pada Leang. Bahkan sampai Abang dan kakak pindah, kami masih diprovokasi walaupun tidak se-intens saat kakak dan Abang masih tinggal di rumah."

Aku benar-benar terperangah.

"Saat kakak dan Abang membeli rumah tahun lalu, sepertinya dia agak lega. Mungkin dia pikir posisinya akan tetap aman. Tapi tiap kali kakak dan Leang tidak berkunjung ke rumah, bapak selalu bertanya-tanya: kemana lah cucuku ini, apa sudah tidak mau ke rumah kakeknya, kenapa dia jarang dibawa kesini, padahal disinilah rumahnya nanti. Lily pun panas lagi. Makanya dia cari cara menyingkirkan Leang. Dan yang bisa diperalat selama ini cuma Marry. "

Aku bingung harus berkata apa. Aku bingung untuk percaya atau tidak. Kenapa ini seperti cerita dalam sinetron?

"Aku sendiri selalu diingatkan oleh kak Naura dan kak Anggun untuk tidak ikut-ikutan. Itu sebabnya aku hanya diam. Bahkan untuk memperingatkan kak Naya pun aku takut. Tapi sekarang sudah mengancam nyawa, aku tak bisa terus-terusan diam."

Rossy menangis. Air matanya tumpah.

Aku memandangi tubuh kecilnya. Terbayang betapa sesak dadanya menyimpan begitu banyak rahasia, betapa kuat jiwanya menjadi tabir kakak-kakaknya.





SISTER IN LAW (9)

Bab 9


Kami ke lobby, suasana agak ramai. Nandean menemui security meminta bantuan untuk meminjam salah satu ruang untuk pertemuan keluarga. Tapi tidak ada. Security menyarankan di teras musholla yang kebetulan memang agak sepi.

Kami mengatur posisi duduk masing-masing, posisi ini selalu dilakukan saat rapat keluarga di rumah mertuaku. Bapak dan Mama mengambil posisi di tengah, Nandean disamping Bapak, Aku di sebelah mama. Lalu yang lain berurutan dari Rara hingga Rossy disamping Nandean.

Ayah, ibu dan kedua kakakku mengambil posisi berhadapan dengan kami.


Ayah membuka pembicaraan.

"Pak Regar dan keluarga seluruhnya, sore ini kami hendak pamit pulang duluan, mudah-mudahan besok masih bisa datang kesini untuk menjenguk cucu kita Leang. Kami kembali menitipkan mereka kepada Bapak dan keluarga, mohon diperhatikan perkembangan kondisinya, kalau ada hal-hal yang penting tolong segera hubungi kami.

Kami juga ingin menyampaikan bahwa kami memiliki niat baik memberikan bantuan biaya perawatan Marry kepada Pak Regar. Mohon untuk diterima. Bantuan ini bukan karena penyebab musibah ini adalah Naya, tetapi atas dasar bahwa kita adalah keluarga. Jadi jangan disalahartikan. Kami benar-benar membantu Pak Regar sebagai keluarga, dan nyatanya memang kita terikat hubungan bahwa kita punya satu cucu yang sama.

Meskipun jumlahnya tidak banyak, pak. Tapi kami berharap bantuan ini dapat bermanfaat dan bisa meringankan biaya pengobatan Marry yang harus ditanggung Pak Regar sekeluarga."

Bapak menyambut ucapan ayah dengan senyum.

"Pak Ikram, kita ini benar-benar keluarga. Ibarat sebuah tungku, Pak Ikram adalah salah satu batu atau kaki dari tiga kaki tungku saya. Jadi kedudukan Pak Ikram dan keluarga sangat penting dalam keluarga saya.

Mengenai bantuan dari keluarga Bapak, saya mengucapkan terimakasih banyak, dan sama sekali tidak ada pandangan saya bahwa bantuan itu adalah bentuk kompensasi dari musibah yang dialami anak kami.

Naya ini menantu kami, pak. Dari rahimnya lahir generasi penerus klan kami. Jadi Bapak tidak perlu mengkhawatirkan kasih sayang kami kepada Naya.

Meskipun saya juga mohon maaf karena ternyata kami tak bisa menjaga Naya dari perlakuan buruk anak-anak kami."

Bapak terisak-isak.

Kami semua diam dalam keharuan.

Dua pasang orangtua kami sedang bersinergi membangun kekuatan yang sebenarnya dalam hubungan kekerabatan. Mestinya hal ini menjadi contoh bagi anak-anaknya.


"Mama, ada yang mau disampaikan?" Tanya Bapak kepada Mama setelah Isaknya reda.

"Kami dan anak-anak kami mengucapkan terimakasih atas perhatian besan kami, semoga bermanfaat dan Allah membalas dengan rezeki yang berlipat-lipat kepada besan sekeluarga.

Soal Naya, terus terang saja, kami menyayangi Naya seperti anak sendiri bahkan mungkin lebih, sehingga menimbulkan kecemburuan anak kami yang lain.

Jadi mohon maaf Bapak dan Ibu Ikram, kalau ada kekeliruan kami dalam menjaga Naya selama menjadi menantu kami."

Suara mama pelan namun cukup jelas.

"Yang lain dari Anggun, Naura, Lily, Rara, masih ada yang mau disampaikan?" Tawar Bapak.

"Terimakasih Banyak kepada Pak Ikram dan keluarga, atas nama pribadi saya mohon maaf kalau ada kesalahan saya dalam memperlakukan Ibunya Leang," ucap Anggun.

"Saya juga mengucapkan terimakasih, pak, Bu, dan Om-nya Leang. Juga mohon maaf kalau saya belum bisa sepenuhnya menjaga Naya yang telah menjadi bagian dari keluarga besar kami," kata Naura.

"Saya mengucapkan terimakasih, tapi saya ingin bertanya apakah jumlah bantuan itu seimbang dengan kesakitan yang sekarang sedang dirasakan Marry? Dia sedang berjuang antara hidup dan mati, sedangkan yang menganiaya bebas kesana-kemari," ujar Lily.

"Hhmmmm..." Nandean berdehem.

Kulihat kak Irfan dan kak Ilham menahan senyum.

"Iya, memang berapa sih sumbangannya, pak?" Tanya Rara.

"Ra, kuperingatkan kau. Kalau tak bisa kau jaga sopan santunmu, jangan pernah lagi kau ikut pertemuan semacam ini," kata Bapak.


Ayah tertawa.

"Tidak apa-apa, Pak Regar. Tidak salah jika mereka ingin tahu," jawab Ayah.

"Mohon maaf, saya minta izin bicara," sela Kak Ilham.

"Tadi kak Lily mempertanyakan apakah sumbangan kami seimbang dengan kesakitan Kak Marry, kami jawab, pak, Bu, dan kakak-kakak semua. 

Sumbangan kami sangat kecil dan tak ada artinya dibandingkan dengan kesehatan Kak Marry, tapi kami berusaha mengulurkan tali kasih kami kepada Kak Marry, untuk memperkuat hubungan keluarga dengan Bapak dan Bu Regar serta keluarga.

Kalau sakit yang terlihat, bisa ditangani dokter, bisa diupayakan kesembuhannya, artinya sakit itu memiliki jalan dan kemungkinan untuk sembuh.

Lalu bagaimana dengan sakit yang tidak terlihat, seperti yang dialami adik perempuan kami? Bertahun-tahun dirundung, dimaki-maki, bisakah kita menjamin bahwa hati dan jiwanya tidak sakit? Di luar dia terlihat baik-baik saja, apakah kita yakin bahwa hatinya tidak terluka, jiwanya tidak hancur?

Kejadian kemarin antara Naya dan Kak Marry adalah sebuah indikasi adanya kesakitan yang ditumpuk dan disimpan terlalu lama dalam jiwa adik kami, sehingga dia lepas kendali dan melakukan kekerasan yang bahkan kami pun tak pernah membayangkan bahwa hal itu bisa dilakukan adik kami.

Kalau kak Marry sekarang sedang berjuang antara hidup dan mati, maka kami pun bisa katakan Naya sedang berjuang antara waras dan tidak waras.

Seharian kami disini, ada beberapa gelagat tidak menyenangkan yang kami lihat. Cibiran, lirikan tajam, kata penuh sindiran, bahasa tubuh penuh kebencian, yang kami tahu itu tertuju pada adik kami. Itu baru sehari, bagaimana dengan yang empat tahun?

Ditambah lagi ungkapan bahwa keluarga Naya harus bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang menimpa Kak Marry.

Baiklah. Jika kami menyanggupi hal ini, apakah hal yang sama juga berlaku untuk Naya, yang sudah menunjukkan gejala gangguan kejiwaan karena tertekan dan tersiksa bertahun-tahun?" Kak Ilham bicara panjang lebar.

"Mohon maaf, Pak Regar, ini sekedar bahan pemikiran kita bersama, mengingat niat baik kami dipertanyakan oleh kak Lily," lanjut Kak Ilham.


"Kau dengar itu, Rara, Lily? Betapa tak pantasnya hal itu kalian pertanyakan," kata Bapak dengan wajah merah padam.

"Kami mohon maaf atas segala kekeliruan dan hal-hal yang kurang berkenan dari keluarga kami, Pak Ikram. Terimakasih banyak sudah mengingatkan, bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting yang tidak bisa dinilai dengan uang," sambung Bapak.

"Sama-sama, pak. Inilah fungsinya keluarga, saling mengingatkan. Kami mohon pamit, untuk bantuannya akan kami kirim ke rekening Naya agar dapat segera diserahkan kepada Bapak. Jumlahnya 50 juta," kata Ayah.

"Nah, kalau begitu kan jelas. Biar transparan. Ya Nggak, Nay?" Kata Rara.

Naura langsung menyikutnya, 

"Apa sih, Ra?" 

Sementara mata Bang Ishaq melotot pada istrinya.


Ayah, ibu, kak Ilham dan kak Irfan pun pamit pulang.

Mereka memelukku hangat dan erat.

"Tenang, Nay. Kami selalu di belakangmu untuk menguatkan dan mendukungmu," bisik Kak Irfan.

Terimakasih, Tuhan. Kau berikan aku cinta berkelimpahan.

Pasti akan ada cerita baru tentang ipar-iparku setelah pertemuan sore ini.

SISTER IN LAW (8)

 Bab 8


Di ruang perawatan Leang, keluargaku berdiskusi. Mereka sepakat bahwa Ayah, ibu, dan kedua kakakku tetap akan memberikan santunan untuk biaya pengobatan Marry.

"Kita dan Pak Regar sudah menjadi satu keluarga, hubungan perbesanan diperkuat dengan kehadiran Leang. Musibah Pak Regar juga musibah kita bersama, apalagi kali ini benar-benar menyangkut Naya dan Leang," kata Ayah.

"Walaupun aku sempat hilang selera untuk membantu karena si Lily itu," gumam Kak Ilham.

Kak Irfan tertawa, "kok bisa ya, to the point seperti itu?" tanyanya.

"Kalau yang mencelakai adiknya itu orang lain, tak dikenal, atau tetangga jauh, mungkin sikap seperti itu wajar-wajar saja, minta pertanggungjawaban," lanjut Kak Irfan 

"Ini kan adik iparnya sendiri lho, keponakannya juga dalam kondisi seperti ini karena ulah siapa, mengapa mereka tak berpikir kesana," timpal Kak Ilham.

"Bisa jadi memang ada unsur kesengajaan supaya kecelakaaan ini terjadi," sambung Kak Irfan.

"Tak baik berprasangka buruk, sudahlah, ini musibah," sela Ibu.

"Bukan berprasangka buruk, ini menduga-duga, Bu," jawab Kak Ilham.

"Kurasa memang sasarannya Naya dan Leang, tapi di luar perkiraan Marry ikut celaka, makanya mereka terus menyudutkan Naya," kata Kak Irfan.

"Aku juga berpikir begitu," ujar kak Ilham.

Aku hanya diam. Aku dalam posisi serba sulit. Satu sisi adalah keluargaku, sisi lainnya adalah keluarga suamiku. Seburuk apa pun mereka memperlakukan aku, ada suami yang harus kuhormati dan kujaga aib keluarganya.

Siang itu Leang terbangun, makan bubur, minum obat, bercanda sebentar, lalu tidur lagi. Dia tidak mau menggunakan Pampers sehingga kakakku bergantian menggendongnya ke kamar mandi.


"Nay, batu permata yang bagus tidak terbentuk di dalam lumpur, tapi didalam bumi. Dihimpit bebatuan, ditempa panas yang tinggi. Sehingga ia kuat, sulit dipecahkan, dan bernilai jual mahal," kata Ayah.

Aku tahu Ayah memperhatikan aku yang sedari tadi hanya diam. Kini aku menghadapkan wajahku pada ayah, sebagai respon bahwa aku mendengarkan kata-katanya.


"Jadi jika kita sering menghadapi kesulitan, dihimpit kesedihan, dipanasi penderitaan, artinya kita sedang dibentuk menjadi manusia yang kuat dan berharga," lanjut ayah.


"Kamu bersyukur bertemu dengan orang-orang seperti iparmu. Dari mereka kamu bisa belajar bahwa disakiti itu sangat tidak nyaman, maka jangan menyakiti orang lain. Kamu juga bisa mempelajari berbagai karakter manusia, bahwa tidak semua orang sama seperti kita, tapi kita harus yakin bahwa orang baik biasanya akan dipertemukan dengan hal-hal dan orang-orang baik." Ayah terus berbicara.


"Dari yang menyakitkan kita belajar bahwa tidak semua hal harus kita dekap erat saat suka dan kita lepaskan saat benci. Sesuatu yang kita benci kadang juga memiliki manfaat, sesuatu yang sangat kita sukai kadang-kadang juga membawa mudharat."

Kami semua diam.

"Ayah bersyukur mendapati bahwa kau pernah dikelilingi mereka yang berperangai buruk, tetapi engkau tak terbawa menjadi buruk. Tapi itu saja belum cukup. Harus diupayakan bahwa mereka yang berperangai buruk bisa berubah karena kebaikan-kebaikan yang kita lakukan."

Kak Irfan memainkan anak kunci ditangannya.

"Yang pasti, tidak ada manusia yang sempurna. Kami mungkin telah bertahun-tahun menahan diri, tetap bersikap baik, namun akhirnya kontrol dirimu terlepas. Pasti kamu pernah merasa bahwa percuma berbuat baik toh mereka tetap berbuat buruk padamu. Tapi kita semua tahu, baik atau buruk perbuatan kita akan kembali ke diri kita sendiri."


Ayah bicara panjang lebar. Suasana hening. Aku terpekur mendengarkan. Air mataku mengalir perlahan.


Aku tahu ayah sedang menegurku dengan cara halus. Aku memang bersalah, aku lepas kontrol hingga membuat Marry dalam keadaan koma hingga kini. 


Meski aku punya alasan, aku memilih diam. Aku tak ingin mendebat orang yang telah mengajariku berbicara.


Kefasihan ayah bicara, kebijakan kata-katanya, ketajaman analisanya, semua terwarisi oleh kami anak-anaknya. Tapi di hadapan ayah, kami tak pernah mendebat. Jika pun harus memberikan argumen maka argumen itu kami sampaikan dengan cara yang sopan dan tidak menyakiti orang tua kami.


"Ayah mestinya mengatakan itu pada kakaknya Nandean," kata Kak Ilham dengan santai.

Ayah tersenyum.

"Yang ada ayah langsung diusir siapa itu namanya? Lily? Ya Lily!" ledek kak Irfan.

Mereka pun tertawa.

Ibu dari tadi hanya diam, tatapannya jauh ke luar jendela.

"Bu," Aku menyentuh tangannya.

Ibu agak terkejut.

"Ibu melamun?" tanyaku.

Ibu menatapku dalam.

"Ibu hanya terpikir anakmu," jawab ibu. Air matanya mulai menetes satu-satu.

"Anak sekecil itu, belum mengerti apa-apa, kenapa harus dibenci oleh mereka? Apa salah anak ini?" Ibu mulai terisak.

"Sudah, Bu. Didoakan saja, semoga Leang cepat sehat kembali, cepat besar, punya adik lagi, bila perlu adiknya yang banyak, biar banyak yang membela dia nanti," kata Kak Ilham.

"Iya, Nay, beri Leang adik yang banyak, laki-laki dan perempuan. Kita pertandingkan nanti dengan mereka," canda Kak Irfan.

Kami semua tersenyum.

"Bagaimana hasil rundingan keluarga Pak Regar tadi?" tanya Ayah padaku.

"Mereka bersepakat mengumpulkan sumbangan dari tiap anggota keluarga," jawabku.

Ayah mengangguk-angguk.

"Sudah ada gambaran belum, berapa yang kira-kira bisa terkumpul?" tanya Ayah lagi.

"Seratus sembilan puluh juta," jawabku.

"Siapa yang terbanyak?" tanya Kak Irfan sambil mengulum senyum.

"Bapak, 100 juta," jawabku.

"Bapak Leang?" tanya Kak Ilham.

"Limapuluh juta," jawabku.

"Kita tetap memberi limapuluh ya?" tanya ayah pada kedua kakakku.

Keduanya mengiyakan.

"Nay, istirahat lah! Biar kami yang jaga Leang siang ini," ucap Kak Irfan.

Aku pun menyempatkan mataku untuk terpejam, meski tak lelap.

Setelah sholat ashar keluargaku beranjak menemui keluarga mertuaku. 

Aku menyeka wajah dan tubuh Leang yang terbuka dengan air hangat, ia masih tertidur. Kuusap kulit halusnya perlahan-lahan. Kuciumi tangannya. Ia menggeliat lalu sedikit meringis, mungkin merasakan sakit akibat gerakannya. Matanya mengerjap, tersenyum melihatku. Pandangannya mengitari ruangan.

"Mana Pakde?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir kecilnya.

"Pakde sedang menemani Kakek, menemui Opa," jawabku. 

Ia diam.

"Leang mau minum?" Aku menawarinya.

"Minum jus boleh, Bu?" tanyanya. 

Aku mengambilkan jus jambu kesukaannya. Matanya berbinar. 

Nandean memasuki kamar, "eh, anak Bapak sudah bangun?" sapanya pada Leang.

Leang mengangguk, "Bapak mau minum?" 

"Bapak mau minum air putih, jus nya untuk Leang saja supaya Leang cepat sehat lagi, tumbuh besar dan kuat," jawab Nandean.

Leang tertawa.

Rossy datang ke kamar,

"Kak, biar aku yang jaga Leang. Kakak dan Abang dipanggil Bapak di lobby," katanya.

"Ada apa?" tanya Nandean.

"Mungkin ada yang mau dibicarakan. Kakeknya Leang juga ada disana," jawab Rossy.

"Leang sama Tante Rossy ya, Bapak dan Ibu mau temui Opa dan Kakek dulu," ucapku pada Leang. Ia mengangguk.

Aku dan Nandean beranjak keluar.

"Titip Leang ya, Sy," pamitku.

Rossy mengangguk dan tersenyum.


Dari dulu sebenarnya dia lah yang paling baik padaku, cuma sering jadi sasaran kemarahan kakak-kakaknya. Sehingga akhirnya Rossy banyak menjaga jarak dengan kami.



SISTER IN LAW (7)

 Bab 7


Handphone-ku berdering.

Nama Kak Irfan tertera di screen.

"Assalamualaikum, iya, Kak," Jawabku setelah menekan tombol hijau.

"Nay, biaya pengobatan Leang bagaimana? Kalian punya dananya?" Tanya kak Irfan.

"Ada asuransi, Kak," jawabku.

Hatiku bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba kakakku menanyakan hal ini.

"Oh, jadi sudah dicover asuransi ya? Baiklah." 

Panggilan diputus.


Lalu pesan WA masuk dari suamiku.

[Aku bawakan makan siang ya, sekalian untuk ayah, ibu, dan Pakde nya Leang]

[Ditunggu bawaannya, menantu dan adik ipar kesayangan 😘]

[Tolong sekalian beli juga untuk Bapak, Mama, dan Tante-tantenya Leang]

[Siap]


Satu jam kemudian suamiku datang, berbarengan dengan keluargaku yang kembali lagi ke kamar.

Kami makan bersama.

"Bapak Leang sudah tahu belum hasil diagnosa dokter dan rencana tindakan medis untuk Marry?" tanya Ayah.

"Belum, Yah," jawab suamiku.

"Bapaknya Leang kan baru datang, Yah. Belum ketemu sama Pak Regar," kata Kak Irfan.

"Memang gimana katanya, Yah?" tanya suamiku.

"Agak berat keliatannya. Harus dioperasi. Kemungkinan baiknya bisa sehat tapi tak bisa 100% seperti semula, kemungkinan buruknya kehilangan kemampuan pendengaran dan bicaranya, kemungkinan paling buruk jika tidak operasi tetap koma entah sampai kapan," papar ayah.

"Biayanya diestimasikan diatas angka duaratus juta. Nah, tadi saudara-saudara mu bilang, karena musibah ini akibat ulah Naya maka keluarga Naya lah yang harus menanggung biayanya," terang ayah lagi.

Nandean tertawa.

"Orang gila," gumamnya sambil menggelengkan kepala.

"Yang ngomong seperti itu siapa, Yah?" Tanya Nandean.

"Rara sama Lily," jawab Ayah.

"Terus Bapak bilang apa? Ada ngomong gak Bapak?" tanya Nandean lagi.

"Bapakmu malah bilang, jangan didengarkan, pak. Nanti kami musyawarah keluarga dulu," jawab ayah.

"Kebiasaan Bapak memang begitu, semua dimusyawarahkan dulu," kata suamiku.

"Kadang aku juga bingung pada mereka yang perempuan-perempuan itu," keluhnya.

"Tapi tanpa diminta pun nanti kami akan tetap membantu biayanya. Makanya tadi Irfan saya minta tanya Naya bagaimana biaya Leang, katanya sudah dicover asuransi, berarti persiapan bantuan untuk Leang kami alihkan untuk Marry," kata Ayah.

"Kakak-kakaknya Nandean itu agak-agak aneh ya?" Gurau Kak Ilham sambil tertawa.

"Memang aneh," tawa Nandean.

"Kalau tak aneh, tak akan ada cerita hari ini," kata kak Irfan.

Ayah hanya tersenyum.

Kemudian mereka semua sholat Zuhur.


-000-


Siang itu Bapak meminta kami berkumpul. Aku menitipkan penjagaan Leang pada Ibu yang kebetulan masih berada di Rumah Sakit. Ayah dan kakak-kakak ku juga tampaknya masih menunggu perkembangan berita dari keluarga mertuaku.


Kami memilih tempat di sebuah sudut halaman parkir yang agak rindang untuk bermusyawarah.  

Bapak mulai membuka rundingan, menyampaikan hasil diagnosa dokter dan rencana tindakan medis yang harus dilakukan termasuk estimasi biaya.


"Jadi Saya mengumpulkan kalian untuk memusyawarahkan bagaimana kita akan mengatasi masalah ini. Setiap orang harus berpendapat, supaya nanti tidak ada saling iri dan saling menyalahkan. Kita semua mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhan Marry," kata Bapak.


"Yang membuat Marry sakit lah yang bertanggungjawab," celetuk Rara yang langsung diperingatkan oleh Bang Ishaq, suaminya.

"Apaan sih," katanya pelan.

"Aku setuju sama Rara," kata Lily.

"Kalau gak mau tanggungjawab, kita laporkan ke kepolisian, kasus penganiayaan," lanjutnya.


Nandean mendehem.


"Kalau menurut aku sih kita bisa sumbangan semampu kita, jika masih kurang nanti dicarikan jalan lainnya," kata Naura yang diiyakan oleh Tanto, suaminya.


"Aku terserah Bapak aja, pak. Bagaimana sebaiknya. Tabunganku juga lagi kosong," kata Anggun.


"Aku nyumbangin tabunganku, pak. Tapi bagi dua, untuk Marry setengah dan setengahnya lagi untuk Leang," Kata Rossy.


"Kalau Bapak si Leang juga pasti keluar uang banyak untuk biaya Leang," Mama menanggapi.


"Sebenarnya ini tanggungjawab saya sebagai orangtuanya, tapi saya ingin melibatkan anak-anak saya dalam mengatasi masalah ini, supaya kalian tahu dan merasakan bagaimana seharusnya hidup bersaudara. Saling bantu, saling tolong, saling mendukung. Bergandengan tangan melewati kesulitan, bahu membahu mengatasi kesusahan.

Setelah mendengar masing-masing pendapat kalian, silakan kalian sebutkan nominal yang bisa kalian sumbangkan, biar sisanya kita pikirkan lagi sama-sama. Rossy, kau catatlah jumlah sumbangan kakak-kakakmu," kata Bapak.


"Selain soal si Marry, keluarga Nandean juga harus kita pikirkan. Saat ini kau tahu sendiri anaknya juga masih dalam proses perawatan di rumah sakit ini," lanjut bapak.


"Untuk biaya perawatan anakku tak perlu kalian pikirkan. Kita fokus saja pada biaya yang dibutuhkan Marry," ujar suamiku.


"Ya iyalah. Dia ketabrak sendiri kok. Kalau mau minta saja ganti rugi pada si penabrak," kata Lily.

"Oh begitu?" Tanya Nandean.

"Ya iya. Yang nabrak Leang lah yang tanggungjawab. Masa kita yang harus nanggung biayanya juga," Rara menjawab.

"Kalau begitu kita urutkan kronologi kejadiannya ya?" Tanya Nandean.

"Anakku lari keluar karena pintu pagar yang sengaja dibuka lebar oleh Marry, bahkan Marry sendiri bilang: biar saja ketabrak mobil, biar mati sekalian! Artinya ada unsur kesengajaan dari Marry supaya anakku celaka. Iya kan? Berarti aku dan istriku seharusnya minta pertanggungjawaban Marry.

Kalau yang ada dalam pikiranmu seperti ini, maka aku minta tolong padamu, bangunkan Marry sekarang lalu suruh dia bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada anakku.

Setelah urusan anakku selesai, biarkan Marry terbaring lagi lalu kau minta Naya bertanggungjawab. Aku yakin Naya dan keluarganya mau bertanggungjawab.

Istriku ini bukan yatim piatu ya, dia tidak hidup sebatang kara. Keluarganya siap membantu dan membela dia. Jadi jangan kau merasa hebat sendiri, semena-mena pada orang lain.

Atau kita laporkan saja kedua kasus ini ke polisi. Begitu maumu?" Papar Nandean.

Lily terdiam.


"Entah dimana otakmu kau simpan, Lily," gerutu Bapak.

"Kau juga maunya begitu kan, Ra?" Tanya Nandean.

"Gila saja disuruh membangunkan orang yang sedang tidak sadar untuk tanggungjawab," kata Rara sewot.

"Kalau begitu kau dengan si Lily sama gilanya," gerutu Bapak.

"Coba Ishaq, kau didiklah bagaimana seharusnya istrimu itu," kata Bapak kepada Ishaq. 

Kulihat wajah Bang Ishaq memerah.

"Si Rossy, umurnya paling muda diantara kalian tapi isi pikirannya lebih baik," ucap Bapak lagi.


"Coba sih dijaga bicaramu, Rara, Lily, terutama di depan besan kami. Bukan kau yang dianggap kurang ajar, tapi aku, Bapakmu yang dipandang orang kurang ajar akibat perbuatanmu. Terutama kau, Rara. Macam tak punya otak kau kulihat. Malu saya kau buat didepan Pak Ikram, kalian minta mereka membayar biaya si Marry. Si Naya ini menantu kami, dunia akhirat dia sudah jadi bagian keluarga ini, kalian masih anggap dia dan keluarganya seperti orang lain. Lagipula yang terjadi pada Marry bukan sepenuhnya kesalahan Naya, salah si Marry bikin gara-gara." Bapak bicara panjang lebar.

"Lily yang nyuruh aku ngomong!" Rara membela diri.

"Mana ada aku nyuruh kau ngomong," elak Lily.

"Tadi itu, bilang sama ayahnya Naya, Ra, dia harus tanggungjawab bayar biaya pengobatan Marry, anaknya yang bikin ulah. Begitu kan kau bilang?" balas Rara.

Wajah Lily merah padam, mungkin ia malu dan marah.

"Bodohnya kau, Rara. Mau saja dijerumuskan si Lily. Memang tak ada otakmu kurasa," ujar Bapak.


"Pergilah kau dari depan saya! bukannya membantu memecahkan masalah malah kau tambah-tambah masalah. Kupecahkan juga nanti kepalamu!" bentak Bapak.


"Selama ini kau anggap orangtuamu ini bodoh, karena kami tak berpendidikan. Sengaja kami sekolahkan kalian tinggi-tinggi, supaya bagus kelakuanmu, tapi rasanya percuma saja sekolahmu itu. Tetap saja kurang ajar kau pada orangtuamu. Tak ada artinya gelar di depan dan di belakang namamu itu. Mulutmu itu berbahaya, meracuni saudaramu sendiri. Saya yakin ada andil si Lily dalam peristiwa Marry ini."

Kami semua terdiam.


Aku tercengang dengan kalimat terakhir Bapak. Benarkah dalam kejadian kemarin ada keterlibatan Lily?


Tak lama Rossy memberikan catatan kepada Bapak. Terlihat jumlah sumbangan yang disepakati dari masing-masing orang. 

Rara: Rp. 0,- 

Lily: Rp. 0,-

Anggun: 5 JT

Naura: 15 JT

Nandean : 50 JT

Rossy: 20 JT

Bapak: 100 JT

Melihat List pertama dan kedua, aku ingin tertawa tapi takut dosa.

===

Bersambung ...




SISTER IN LAW (6)

 Bab 6


Pagi ini Leang menempati ruang rawat inap sehingga bisa dikunjungi oleh beberapa orang sekaligus.

Bapak dan mama duduk di sisi kiri dan kanan tempat tidur Leang. Mengajaknya ngobrol. Leang pun tampak riang, wajah pucatnya berangsur hilang.

"Kalian jaga anak ini baik-baik," kata Bapak kepada aku dan Nandean.

"Dialah generasi penerus pembawa nama besar klan kita, jadikan dia orang baik. Sedikit saja sikap buruknya, akan terbawa buruk nama marga," lanjut Bapak berpesan.

"Khawatir benar saya kemarin melihat kondisinya, terasa nyawa saya yang akan hilang. Sudah putus rasanya harapan saya." Suara Bapak terdengar parau.

"Tapi Allah Maha Besar, diselamatkanNya cucu saya." Bapak terisak-isak.

Aku mengelus punggung Bapak.

"Mohon doakan Leang segera sehat lagi ya, pak," pintaku.

"Siang malam doa saya untuk anak, cucu, dan menantu saya, tak pernah lepas nama kalian dari bibir saya," ujar Bapak.

Air mataku mengalir.

Aku duduk disisi Bapak, menyentuh tangan tuanya.

"Pak, Saya minta maaf," ucapku terbata.

"Mohon maaf sudah melukai kak Marry, saya salah, pak. Saya benar-benar khilaf," kataku bersungguh-sungguh.

"Tidak ada orang yang tak khilaf melihat anaknya meregang nyawa. Kau masih muda, emosimu masih tinggi. Bahkan mamamu pun masih emosi saya rasa kalau melihat anaknya seperti Leang kemarin," sahut Bapak.

"Tapi mau bagaimana lagi. Diterima saja, ini musibah bersama, musibah keluarga kita. Mungkin sudah terlalu banyak dosa-dosa kita, dosa-dosa si Marry, sehingga harus mendapat cobaan seperti ini." Bapak melanjutkan.

"Mama kemarin gak bisa ngomong lagi, Nay," kata Mama.

"Mama yang setiap hari lihat kelakuan si Marry, menyaksikan perbuatannya padamu, melihat sikapnya pada anakmu. Tidak ada orangtua yang tak sakit hati saat anaknya diperlakukan buruk walaupun oleh saudara sendiri. Mama sudah pernah mengalami, jadi mama tahu perasaanmu," ujar mama lagi.

"Kalian bersabarlah, perjalanan hidup masih panjang. Kami cuma bisa mendoakan kalian bisa rukun dan hidup dengan tenang," kata Bapak.

"Assalamualaikum..." Terdengar ucapan salam dan ketukan di pintu.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," Jawab kami serempak.

Suamiku membuka pintu kamar.

Tampak ayah dan ibuku berdiri disana, diikuti kedua kakak lelakiku.

Aku menyambut keempatnya, menyalami dan mencium punggung tangan mereka. Kedua kakakku datang dari pulau seberang. Mereka memelukku hangat.

"Adikku ini kok tambah kecil saja," canda Kak Ilham, kakak tertuaku.

"Mana si jagoan?" Tanya kak Irfan, si kakak kedua.

"Leang, Heeeiii... Apa kabar jagoan Pakde ini?" Mereka menyapa Leang yang tertawa gembira di pembaringan.

Ayah, Ibu, Bapak, dan Mama seperti biasa langsung terlibat perbincangan akrab. Bersyukur sekali memiliki orangtua dan mertua yang akur dan kompak seperti ini.

Bapak dan mama juga menanyakan kabar serta tugas baru kak Ilham dan kak Irfan. 

Ayah dan ibu juga menanyakan perkembangan kondisi Marry. Aku tau, keluargaku pun menanggung beban moral atas peristiwa kemarin. Mereka pasti tak pernah menyangka putrinya bertindak bar-bar tak terkontrol. 

Ayah ibu pun menyampaikan permohonan maaf kepada mertuaku atas perbuatanku.

"Ah, sudahlah, Pak Ikram. Naya tak sepenuhnya salah. Marry juga salah, sampai cucu kami harus menanggung akibatnya," jawab Bapak.

"Biar jadi pengalaman dan pembelajaran, Bu. Supaya ke depannya lebih hati-hati pada ipar dan keponakan," sambung Mama.

Sementara kak Ilham dan kak Irfan asyik bercanda dengan Leang. Menyuapi bubur, merayu minum obat, menjanjikan naik pesawat jika nanti sudah sembuh. Sebuah bentuk komunikasi yang tak pernah Leang dapatkan dari saudara-saudara ayahnya.

Jam 9 pagi Leang tertidur. Kedua kakakku berbincang hangat dengan mertuaku. Nandean pamit untuk ke toko sebentar, kami punya sebuah toko alat optik di pasar kota.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. 

Kepala Lily muncul.

"Pak, dipanggil dokter, mau laporan keadaan Marry. Ditungguin dari tadi malah enak-enakan ngobrol disini," katanya kepada Bapak.

"Mama ini juga, bukannya nungguin anaknya malah ngobrol gak penting di kamar orang," Omelnya pada Mama.

Ayah dan Ibuku tampak terkejut, bahkan kedua kakakku menatapnya penuh keheranan.

"Tak ada lagi rupanya sopan santunmu? bicaralah yang benar pada orangtua," jawab Bapak.

Tapi Lily langsung beranjak pergi.

"Maaf, Pak Ikram dan ibu, kami tinggal dulu ya," pamit Bapak dan Mama.

"Oh, iya, Pak. Semoga ada kabar bagus dan menggembirakan dari dokter tentang Marry," jawab Ayah.

Bapak dan Mama meninggalkan kamar tergesa.

"Itu tadi iparmu, Nay?" Tanya kak Ilham.

Aku tersenyum, "iya.." jawabku.

Tiba-tiba Kak Irfan terbahak.

"Pantas saja yang satu dihajar Naya. Kelihatannya yang lain nunggu giliran, Nay. hahahaha.." ledek Kak Irfan.

"Hussss! Provokasi," Sungut kak Ilham.

Ayah dan Ibu tersenyum.

"Bicara sama orangtuanya saja begitu, apalagi dengan orang lain," kata Ayah.

"Kemarin tak ada yang basa basi menegur ayah dan ibu. Ibu pikir karena mereka masih marah dan kesal pada Naya. Tapi ternyata memang sifatnya begitu rupanya," ujar ibu sambil tersenyum.

"Mungkin memang wataknya seperti itu, Bu," sahut Kak Ilham.

"Tapi Bapak dan Mamanya ramah ya," kata Kak Irfan.

"Jadi penasaran pengen ketemu saudaranya Nandean yang lain," ujar kak Irfan lagi.

"Nanti, sambil jenguk yang namanya Marry," kata Ibu. 

Mereka menyetujui.

Lalu perbincangan mengalir tentang kronologi kejadian kemarin. Aku ceritakan semuanya. 

"Tapi memang sejak dulu Marry memusuhimu ya?" Tanya kak Ilham.

"Begitulah..." Jawabku mengambang.

"Coba cerita yang jujur, Nay. Biar kami tahu dan tak salah mengambil keputusan atau tindakan yang diperlukan jika suatu saat keluarga Nandean menuntutmu ke ranah hukum karena kasus ini," kata Kak Irfan.

Aku pun bercerita tentang bagaimana perlakuan mereka selama aku menikah dengan suamiku.

"Gila, empat tahun dibully ipar dan kau telan sendiri?" Tanya kak Ilham.

"Wajar saja kemarin meledak. Itu pun setelah Leang jadi korban," Kata kak Irfan.

Aku terdiam.

Ayah dan ibu menatapku prihatin.

Mungkin mereka kecewa, sedih, dan entahlah. Saat tahu bahwa anaknya jadi korban bullying keluarga suami.

"Tapi tak apa-apa, Nay. Itu akan membuatmu kuat. Orang lain belum tentu bisa sesabar kamu," Hibur Kak Ilham.

"Ayolah, kita jenguk Marry." Ajak ayah.

Kedua kakakku bangkit.

Aku harus menunggui Leang di kamar.

"Kami keluar dulu, Nay," pamit ibu, wanita mulia itu pun mencium Leang.

"Cepat sehat lagi ya, Nang.. " bisiknya di telinga anakku.

Mereka berlalu. Menjenguk Marry, menemui ipar-iparku. Entah bagaimana perlakuan mereka nanti kepada keluargaku. Menghargai atau malah memusuhi? 

Dalam konsep nilai adat budaya yang mereka miliki mestinya mereka menghormati keluarga kami, namun entahlah jika hanya Bapak dan Mama yang mewujudkan nilai-nilai itu dalam kesehariannya.

Sebab yang terjadi padaku selama dalam keluarga ini, nilai-nilai budaya itu tergerus oleh keirihatian dan ketakutan-ketakutan iparku terhadap dominasi lelaki dalam keluarga. 

Padahal jika nilai-nilai itu diejawantahkan secara kolektif dalam kehidupan, kita akan menemukan bahwa sejatinya lelaki dan perempuan itu seimbang dalam berbagai peran dan fungsi sosialnya di masyarakat.

Rasanya aku tak sabar menunggu kakak-kakakku bercerita setelah pertemuan mereka dengan ipar-iparku itu nanti.


KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...