Bab 15
Siang hingga sore aku menjaga Leang ditemani ibu dan mama. Keduanya terlibat dalam pembicaraan tentang masa lalu, masa-masa saat mereka masih muda. Sesekali mereka tertawa satu sama lain. Ibu dan Mama memang akrab sekali, dibandingkan dengan besan yang lain hubungan Mama dengan Ibu bisa dibilang paling dekat.
Ayah dan Bapak setengah harian mengobrol di lobby, entah apa isi obrolannya tetapi tampaknya seru dan tak terputus-putus. Ditingkahi tawa dan gerakan tangan kesana-kemari. Sama seperti Ibu dan Mama.
Kadang aku berpikir, apakah hubungan mereka yang harmonis ini juga menjadi pemicu kebencian saudara-saudara iparku?
Rossy ditemani Anggun menjaga Marry. Saran Nandean atas penjagaan Marry sudah disampaikan pada Anggun dan Naura. Mereka menyetujui. Bahkan mereka langsung menyusun jadwal menjaga Marry. Lily dan Rara tetap dilibatkan tetapi tidak pada hari dan jam yang sama, selain itu mereka tetap mengupayakan penjagaan bertiga.
Agar tak banyak protes dari Lily dan Rara, Bapak sendiri yang akan memberitahukan pelaksanaan jadwal penjagaan tersebut. Jika mereka menolak, maka mereka dihapus dari jadwal dan tidak diperkenankan datang ke rumah sakit. Tapi memang hingga siang tak ada bayangan mereka datang.
"Aku khawatir Lily melakukan sesuatu yang membahayakan jika dibiarkan sendirian menjaga Marry," ungkap Nandean saat kami berjalan-jalan sebentar keluar dari area rumah sakit.
"Itukan adiknya sendiri. Apa dia tega melakukan hal-hal jahat pada adiknya?" Tanyaku.
"Kau tidak tahu," jawab Nandean.
"Saat aku kecil dia pernah menyiram dadaku dengan air panas, ia marah karena dimintai tolong Mama untuk membuatkan aku susu. Tapi dia beralasan bahwa akulah yang tidak sabar merebut gelas susu yang masih panas untuk diminum," cerita Nandean.
Aku tersentak.
"Lalu?" Tanyaku
"Pokoknya dia paling pintar cari alasan dan mengelabui kami, terutama Bapak. Pada Bapak dia selalu mencari muka dan bersikap seperti orang tak punya dosa," jelas Nandean.
"Tapi kan sekarang Bapak sudah tahu," kataku.
"Bapak baru tahu semua kelicikannya saat Naura akan menikah. Dia terus menghalang-halangi pernikahan Naura, akhirnya Naura menceritakan semua perbuatan Lily pada kami," kata Nandean.
"Makanya Bapak tetap menikahkan kita meski Lily marah dan mengamuk saat itu. Bapak tak mau menunjukkan bahwa selama ini dia dipengaruhi Lily. Bahkan ketika kita tinggal di rumah Bapak, Lily selalu memberikan laporan buruk tentangmu kepada Bapak. Tetapi Bapak sudah banyak tidak percaya lagi kepadanya, terlebih yang sering berada di rumah bersamamu adalah Mama. Maka ucapan Mama yang lebih didengarkan Bapak. Itu sebabnya ada kalimat Marry seolah Mama sudah dipengaruhi dukun, itu hasutan Lily." Papar Nandean.
"Lalu kenapa kau diam saja saat itu? Bahkan tidak pernah memperingatkan aku." Aku menggerutu.
"Maaf ya, saat itu sebenarnya aku memang bingung. Aku mencoba bersikap netral diantara saudaraku dan istriku. Jika aku marah pada mereka pasti mereka akan semakin membencimu," jawab Nandean sambil menggenggam tanganku.
"Aku tahu kau sudah memberi sinyal saat Leang lahir, ketika kau mengatakan bahwa saat itu kau tidak sendiri lagi tapi ada anak yang harus kau bela. Aku merasa keributan akan terjadi dan kau tidak akan mau mengalah lagi. Itu sebabnya aku langsung mengikuti keinginanmu untuk keluar dan pindah dari rumah itu," kata Nandean lagi.
"Kau tak perlu takut. Kau tak sendiri. Aku disampingmu," ujarnya sambil mencium punggung tanganku.
"Aku hanya menyesalkan, kenapa sampai harus jatuh korban." Aku bergumam.
"Sudah tertulis dalam takdir dunia bahwa kejadiannya harus seperti ini," kata Nandean.
"Segala peristiwa, baik atau buruk, menyenangkan atau menyedihkan, semua terjadi atas pengetahuan dan izin dari Tuhan. Kita tidak bisa mengelak. Tugas kita hanya menerima dan menjalani skrip hidup yang telah ditentukan," lanjutnya.
Kami terdiam beberapa waktu. Sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.
Lalu kami kembali ke kamar Leang saat terdengar adzan Ashar berkumandang.
Ada Naura dan Anggun sedang berbincang dengan ibu, bercanda dengan Leang. Mama bergantian menjaga Marry bersama Rossy.
Naura undur diri terlebih dahulu. Hendak pulang ke rumah, berjanji pada Anggun akan datang lagi nanti malam. Rupanya jadwal dari Bapak sudah berlaku dan dilaksanakan.
Sempat kudengar Naura berkata kepada Anggun:
"Lily tidak perlu diberitahu dulu, tunggu dia datang saja. Kalau dia tidak datang jangan ditelpon suruh datang, biar saja," katanya.
Anggun menyetujui.
Usai Ashar ayah dan Ibu berpamitan pulang demikian juga dengan Bapak dan Mama.
"Mungkin besok pagi kami baru bisa kesini lagi," kata Bapak.
"Jangan lupa berdoa terus untuk kesembuhan anakmu dan saudaramu, kalau ada perubahan apa pun segera hubungi kami," pesan Bapak.
Mereka berempat, berbarengan meninggalkan ruang perawatan. Aku memandang punggung keempatnya dengan rasa yang sulit kujelaskan.
Memang benar bahwa setiap orang diberi ujian sesuai porsinya. Ada yang diuji dengan pasangan, ada yang diuji dengan mertua atau ipar, ada yang diuji dengan orangtua, ada yang diuji dengan anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menerima ujian itu dengan ikhlas dan menjalaninya sesuai skenario Tuhan.
Seorang teman pernah berkata, jangan mencari jawaban dari ujian hidup. Sebab saat kita temukan jawaban, hidup telah mengganti ujiannya. Percaya saja bahwa Tuhan memberikan ujian lengkap dengan jalan keluar atau jawabannya.
Leang asyik menonton televisi, sesekali bertanya ini itu kepada Anggun.
"Halo, ya. Kenapa, Ra?" Anggun menjawab panggilan telponnya.
[ ............. ....... ....... ] Suara tak begitu jelas dari lawan bicara Anggun.
"Marah-marah kenapa?" Tanya Anggun.
[..... ..... .... .... .... ....]
"Ngapain juga kau ngurusin dia. Biar aja semau dia, kan dari dulu juga begitu," Anggun menggerutu.
[.... ..... .... .... .... ....]
"Ya kalau dia bilang begitu suruh kesini aja, ngomong sama dokternya minta dirawat gitu," kata Anggun sambil tertawa.
[.... ..... .... .... .... ....]
"Tidak ada yang membicarakan dia disini. Tidak penting!" Kata Anggun.
"Sudahlah suruh dia istirahat saja di rumah. Ada aku, Naura dan Rossy yang jaga Marry," putus Anggun.
Telpon ditutup.
"Aneh..." Gerutu Anggun.
"Kenapa?" Tanya Nandean.
"Si Lily marah-marah katanya. Dia juga sakit tapi kok tidak ada yang memperhatikan, semua cuma sibuk menjaga Marry. Dia juga tanya, kita disini membicarakan dia gak," jawab Anggun.
"Kalau dia pengen dirawat di rumah sakit juga ya tinggal datang saja. Dirawat. Nanti siapa yang mau jaga suruh jaga," kata Nandean.
"Atau dia ingin dijaga Naya?" Nandean meledek.
Anggun tertawa.
Aku menanggapi dengan senyum saja.
"Jangan-jangan benar ucapanku kemarin, Marry sadar, dia yang masuk rumah sakit," kata Nandean.
Anggun diam saja.
Sore hingga malam itu terasa tenang. Kondisi kesehatan Marry juga terus membaik, dia sudah mulai bisa berkomunikasi mesti terbata-bata.
Aku menjenguknya malam itu, masih ada tatapan ketakutan di matanya namun tak menolak saat tangannya kusalami.
Rossy menjelaskan padanya bahwa aku sudah mengetahui jika Lily yang selama ini menyuruhnya bersikap buruk padaku. Dengan terbata-bata ia mengatakan sesuatu kepada Rossy, aku tak tahu apa yang dikatakannya.
Tapi aku mendengar Rossy mengatakan:
"Rara juga?"
Marry mengangguk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar