Kamis, 19 Mei 2022

SUATU PAGI DI MASA PANDEMI (Cerpen)

 SUATU PAGI DI MASA PANDEMI


Aku masih ingat salah satu pagi di Bulan Juni 2020, langit biru cerah, sinar matahari kemilau di arah timur. Cuaca yang membangkitkan harapan terutama bagi orang-orang yang beraktifitas di sektor-sektor non formal, pedagang pasar, pedagang keliling, usaha laundry, ojek, dan profesi lain yang selalu berharap cuaca cerah. Seperti biasa aku berangkat ke sekolah, melaksanakan tugas mulia sambil berharap menjadi ladang amal dan pahala. Jalan lengang. Sejak diberlakukan pembatasan sosial karena pandemi covid-19, jalan-jalan kota cenderung lebih sepi, tidak seramai hari-hari sebelumnya.

Tiba di sekolah suasana juga lengang meski beberapa petugas harian tetap beraktifitas. Peserta didik sejak minggu ketiga Bulan Maret sudah menjalani pembelajaran jarak jauh dengan metode daring. Biasanya ketika datang ke sekolah pemandangan yang dilihat adalah remaja-remaja berseragam putih abu-abu dengan senyum ceria dan suara yang penuh semangat, terdengar lantunan tadarrus atau lagu-lagu perjuangan dari sentral audio sekolah, serta kesibukan guru-guru mempersiapkan pembelajaran. Namun beberapa bulan terakhir suasana itu menjadi berbeda. Kami hanya disambut gedung megah yang sunyi, ruang-ruang kelas kosong, serta guru-guru yang serius menyampaikan materi belajar melalui gawai. 

Aku menapaki anak tangga agak cepat, mensupport diri sendiri agar bersemangat. Di teras ruang guru terlihat empat orang sedang duduk, dua orang dewasa, dua lagi peserta didik kami. Berbeda dengan cuaca cerah diluar, wajah mereka terlihat agak muram. 

Melihat kedatanganku, peserta didik tersenyum dan menyalami.

“Assalamu’alaikum, ibu,” sapa mereka

“Walaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Apa kabar, anak ibu yang cakep-cakep soleh dan soleha ini? Sudah cuci tangan?” Aku menjawab salam mereka.

“Baik, ibu.. Alhamdulillah, sudah pakai handsanitizer juga.” Mereka menjawab serentak.

Dua orangtua yang sedang duduk ikut tersenyum, aku menyalami mereka.

Memasuki ruang guru, Pak Arief, wakil kepala sekolah menghampiriku.

“Bu, orangtuanya Lukman dan Asyifa mau menghadap ibu.”

“Ada masalah apa, pak?”

“Belum bisa membayar biaya sekolah.” 

Aku ingat Lukman Hakim, peserta didik kelas 11, rajin, berkarakter tenang dan soleh. Sering memimpin tadarrus pagi dan mengimami sholat dzhuhur di musholla kecil sekolah kami. Ayahnya seorang karyawan toko. Asyifa peserta didik kelas 11 dari jurusan lain, aktif di ekstrakurikuler seni dan olahraga, ayahnya sopir bus antar provinsi.

“Dipersilakan masuk saja,” kataku kepada Pak Arief yang langsung mengiyakan.


Beberapa saat kemudian seorang Bapak yang tadi bertemu di teras memasuki ruangan.

“Assalamu’alaikum, bu. Saya Yusuf, orangtuanya Lukman Hakim,” sapanya sambil memperkenalkan diri.

“Walaikumsalam, pak. Mari silakan duduk. Ada yang bisa kami bantu?”

“Sebentar lagi Ujian Kenaikan Kelas ya, bu? Tapi mohon maaf sebelumnya, saya belum bisa membayar biaya pendidikan Lukman. Minta tolong penangguhan waktu ya, bu. Sejak Februari toko tempat saya bekerja omzetnya turun dan terus menurun hingga bulan kemarin. Karyawannya dari 10 orang terus dikurangi setiap bulan. Bulan kemarin saya pun kena giliran. Saat ini saya belum memiliki alternatif penghasilan lain, untuk biaya sehari-hari masih pakai simpanan yang ada, itu pun tidak seberapa. Mungkin dipakai untuk kebutuhan dua bulan juga habis.”

Aku diam mendengarkan, memahami permasalahannya. 

“Kalau kondisinya seperti itu, pak, kami cuma bisa memberi kelonggaran waktu pembayaran. Lukman harus tetap mengikuti ujian kenaikan kelas, nanti kami bicarakan dengan wali kelasnya. Bapak dan keluarga tidak perlu sedih atau putus asa, di luar sana masih banyak orang lain yang mungkin kondisinya lebih sulit dari kita. Bapak yang sabar, semoga nanti ada rezeki lain untuk keperluan biaya pendidikan Lukman.” Aku menanggapi keluhan sekaligus memberi penghiburan.

Pak Yusuf tersenyum, mengucapkan terimakasih, berjanji mengupayakan biaya yang dibutuhkan, lalu keluar ruangan.

Berikutnya orangtua Asyifa, Ibu Erni, begitu beliau memperkenalkan diri. Dia juga mengutarakan permasalahannya. Ayah Asyifa masih tertahan di wilayah Jawa Timur karena perusahaan Otobusnya sudah tiga bulan tidak mengizinkan perjalanan ke luar provinsi. Sehingga pekerjaan tidak ada, pulang belum bisa, uang pun tidak punya. 

“Saya sudah berusaha mencari tambahan, bu. Bekerja di laundry dekat rumah. Tapi laundry juga sekarang sepi,” keluhnya. Aku mengangguk tanda mengerti.

Kepada Bu Erni aku juga cuma bisa menanggapi keluhan dengan penghiburan kecil, menyarankan untuk bersabar dan mengupayakan hal-hal lain yang dianggap bisa menjadi sumber pemasukan keluarga.

Seperginya Bu Erni, aku termangu. Begitu mudahnya aku memberi penghiburan kepada orang lain, tapi apakah mudah bagi mereka untuk menjalani kondisi seperti ini? Kebingungan menyiasati hidup yang berubah secara tiba-tiba.

Seperti mereka sekolah kami juga punya permasalahan. Sebagai sekolah swasta, kami harus membiayai sendiri kegiatan operasional sekolah, termasuk honor guru. Selama masa pandemi ini sirkulasi keuangan sekolah mengalami kendala, lebih banyak biaya keluar daripada dana yang masuk. RKAS berkali-kali mengalami perubahan, disesuaikan dengan kebutuhan yang dianggap lebih mendesak, membeli alat-alat protokol kesehatan, mengadakan dan memperbaiki bak cuci tangan, menyemprot disinfektan di lingkungan sekolah dan lain-lain. 

Meski agak sulit, kami mengupayakan pembayaran honor guru tetap lancar setiap bulan. Bukan karena lebih mementingkan guru, tetapi honor guru di sekolah swasta itu besarannya hanya ratusan ribu rupiah, banyak yang dibawah angka limaratus ribu. Alangkah sedihnya kalau honor yang sedikit itu pun harus kami abaikan. Biaya listrik, jaringan internet, langganan surat kabar, setiap bulan harus dibayar. Bulan ini masih bisa ditanggulangi, bagaimana bulan-bulan berikutnya? 

Pak Yusuf dan Bu Erni hanya sedikit contoh dari banyak permasalahan yang dihadapi masyarakat kecil. Tiga bulan masa pandemi sudah menimbulkan rentetan masalah, sementara angka-angka pasien yang terpapar covid-19 terus meningkat. Pemerintah aktif memperbaharui berbagai kebijakan terkait pandemi sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Melalui jendela kaca aku memandang keluar, jalan kota membentang, satu dua kendaraan lewat. Pedagang bakso, batagor, es kacang, buah potong, duduk termangu di trotoar, di sisi gerobak masing-masing. Diam. Tak ada obrolan. Meski tanpa suara, terpotret kegalauan hati mereka.

Aku menatap langit, biru cerah dengan sedikit awan. Terbersit harapan tentang sebuah keajaiban. Berlalulah masa pandemi. Agar kehidupan kami normal dan membaik lagi.


===



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...