"Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berada di klinik kecantikan terkenal di kotaku.
Aku berhenti men-scroll layar pipihku, mencermati foto dan caption tersebut. Dua hari yang lalu, Sherly, temanku itu, meminjam uangku sepuluh juta rupiah, dengan alasan untuk dana talangan yang digunakan suaminya sebagai syarat pencairan pinjaman nasabah. Suaminya seorang broker di sebuah bank simpan pinjam swasta. Karena pinjamannya besar, maka dana talangannya juga besar, begitu alasan Sherly. Dia berjanji akan mengembalikan dalam waktu dua sampai tiga hari.
Baiklah, ini baru hari kedua. Mungkin dia sedang menikmati fee pencairan pinjaman nasabah suaminya tersebut, pikirku.
Seminggu berlalu. Tak ada basa basi dari Sherly untuk memperpanjang akad pinjaman. Aku masih menunggu. Sementara foto-fotonya berseliweran di media sosial dengan latar sebuah mobil baru. Meski bukan mobil mewah, tetap saja butuh uang banyak untuk membelinya. Paling tidak perlu uang puluhan juta untuk pembayaran uang muka jika mobil itu dibeli secara kredit. Dari beberapa orang teman, kuperoleh informasi bahwa Sherly bercerita tentang suaminya yang membeli mobil baru.
Beberapa hari kemudian Sherly bercerita tentang nasabah suaminya yang terus menghindar setelah pinjamannya dicairkan, sehingga fee yang diharapkan belum mereka dapatkan. Aku hanya menyimak ceritanya. Berusaha memahami bahwa secara tidak langsung ia sedang meminta tambahan waktu untuk mengembalikan pinjamannya padaku.
"Happy holiday with family ..." Seminggu berikutnya Sherly mengunggah lagi foto-foto bersama suami dan anaknya di sebuah tempat wisata dengan pakaian seragam keluarga, di atas sebuah kapal motor kecil (bukan perahu nelayan) menuju pulau kecil yang terkenal indah. Berbagai gaya dan pose bahagia pun ditampilkan.
Ada yang terasa sesak didadaku. Uang yang dipinjam Sherly beberapa minggu lalu adalah uang suamiku, modal kami berdagang. Kami mengabaikan liburan, agar uang bisa cepat terkumpul dan berputar sesuai sirkulasi dagang. Tetapi si peminjam uang bahkan dengan leluasa menikmati liburan.
Dua hari berlalu, aku sama sekali tak pernah menyinggung uang atau pun foto-foto liburannya. Bahkan aku membayari makanannya saat kami makan bersama di kantin kantor. Ia pun bercerita lagi tentang iparnya yang datang berkunjung untuk meminjam uang karena melihat foto-foto mereka yang sedang liburan. Padahal liburan itu dibiayai oleh seorang rekan suaminya yang mendapat banyak bonus dari bank simpan pinjam tempat mereka bekerja, cerita Sherly.
Aku menatap ke arah mata dan gerak bibirnya saat ia bercerita. Berusaha mencari kejujuran disana. Ia tampak agak grogi, lalu beralih membicarakan pekerjaannya yang belum selesai.
Bukan berikutnya, aku menandatangani tanda terima gaji di meja bendahara, Sherly pun ada disana. Saat aku keluar dari ruangan, Sherly memanggilku.
"Mba, aku mau bicara sebentar sih...," katanya berbisik.
"Ada apa?" tanyaku. Aku berharap dia berniat membayar utangnya, bukankah kami habis gajian?
"Sini dong," ajaknya ke sebuah sudut ruang yang agak sepi.
"Aku mau pinjam uang sih, adikku mau bayar uang kuliah, uangnya masih kurang ...," bujuknya dengan suara pelan.
"Aku ...," suaraku langsung terputus saat dia langsung menarik amplop di tanganku.
"Cuma seminggu kok, Mba. Sekalian kubayar dengan yang sepuluh juta kemarin," ujarnya cepat sambil tertawa renyah.
"Jangan takut sih, Mba. Pasti kubayar, tenang saja," tambahnya lagi.
Aku menatapnya kesal.
"Ya gak bisa gitu dong, Sher. Bahkan aku belum memakai serupiah pun uang yang ada di amplop itu," ucapku.
"Ini penting, Mba. Daripada adik saya yang kuliah di kedokteran di DO," katanya, masih sambil tertawa.
Aku menghela nafas.
"Aku juga harus bayar uang kuliah anakku, Sher," ujarku.
"Kan bukan hari ini," kilahnya. "Cuma seminggu kok, Mba."
Aku berdecak.
"Udah sih, Mba, gak usah cemberut gitu. Uang suami Mba kan banyak. Pasti kebayar lah biaya kuliah anak Mba. Lagian lima juta mah kecil bagi suami Mba." Dia pergi meninggalkanku sambil tertawa kecil.
Gila! Dia terang-terangan merampas gajiku.
Aku menenangkan diri. Berusaha menahan emosi. Bagaimanapun usiaku di atas para pegawai kantor yang lain, aku harus menunjukkan sikap tenang dan dewasa menghadapi berbagai keadaan. Aku berjalan pelan menuju meja kerjaku. Sherly juga sudah duduk di kursinya. Memainkan gawai, wajahnya penuh senyum.
Gajiku memang tak banyak, tapi setidaknya lumayan untuk membeli kebutuhan harianku atau sekedar mengajak makan anakku ke fast food sesekali. Untuk kebutuhan rumah tangga, semua dicukupi oleh hasil dagang suamiku. Ya, suamiku pedagang, profesi yang dulu sering dipandang sebelah mata oleh Sherly.
Aku masih ingat saat dengan terkejut yang sangat natural dia menanggapi ceritaku tentang keluarga kecil kami.
"Suami Mba pedagang?" Matanya penuh tanya. "Aku kira suami Mba itu pegawai kantor pemerintah, atau karyawan BUMN gitu," ujarnya.
"Memang kalau pedagang kenapa?" tanyaku.
"Ya gak papa juga sih, kaget aja, jabatan Mba disini lumayan. Kok suaminya cuma pedagang," jawabnya seraya tersenyum.
'Cuma' dia bilang? Tapi saat itu aku tak terlalu mengambil hati ucapannya. Apalagi dia sering bercerita suaminya seorang karyawan bank swasta yang cukup besar. Mungkin baginya profesi pedagang sangat menyedihkan dibandingkan pekerjaan suaminya. Aku tak pernah membahas hal itu.
Namun seiring berjalannya waktu, justru aku yang dianggap menyedihkan oleh Sherly, tak pernah meminjam uangnya se rupiah pun. Malah dia yang dengan alasan dompet tertinggal, tak ada uang kecil, dan sebagainya, sering meminjam uang padaku dalam jumlah-jumlah kecil. Pinjamannya yang sedikit-sedikit itu membuatku sungkan untuk menagih dan akhirnya menganggap pinjaman itu sebagai sedekah saat Sherly tak juga ingat untuk mengembalikan.
Kulanjutkan pekerjaanku hari itu dengan perasaan campur baur. Kesal, sedih, marah, yang kutahan-tahan hingga jam pulang.
"Nebeng ya, Mba," ujar Sherly, saat aku beranjak keluar ruangan. Aku tak menjawab. Aku menuju kantin kantor, memesan segelas minuman dingin dan sengaja berlama-lama disana. Saat sudah mulai sepi aku baru keluar area kantor.
Kulihat Sherly masih berdiri di pintu keluar halaman, dia belum dijemput. Kulajukan kendaraanku tanpa menoleh. Terdengar suaranya memanggilku, aku pura-pura tak mendengar dan terus melaju.
"Begitu aja ngambek, uangnya juga gak cukup kok untuk nambahin." Malam itu terbaca sekilas status WA Sherly tanpa kubuka.
Keesokan harinya kusibukkan diri dengan pekerjaan, sama sekali aku tak membuka komunikasi dengan Sherly. Dia pun tampaknya tak terlalu perduli. Bahkan saat makan siang, ia memilih bergabung dengan teman-teman lain. Sempat kudengar ia minta dibayari oleh seorang teman kami yang lelaki.
"Kebersamaan" caption foto Sherly di status WA nya, dua hari kemudian. Tampak ia sedang bersama beberapa orang lain sedang menghadapi sebuah meja dengan berbagai hidangan di sebuah restoran seafood.
Di media sosial, kulihat Sherly ditandai dalam beberapa foto yang sama dengan yang ada di statusnya.
"Terimakasih atas traktirannya 'Sherly Liera' , sering-sering ya bikin moment bahagia seperti ini." Teman yang menandainya menuliskan itu sebagai caption foto.
Wow! Jadi Sherly lah yang mentraktir mereka, pikirku. Gelombang emosi pun mengikis kesabaranku. Untuk bayar utang, uangnya tak ada, tapi untuk perawatan kecantikan, wisata, traktir teman, dan entah kegiatan bersenang-senang apalagi yang tidak aku tahu, uang Sherly ada.
Tepat seminggu dari hari yang dijanjikan, aku menghampiri Sherly di meja kerjanya.
"Sherly, aku butuh uang!" Suaraku kukeraskan, agar teman lain mendengar.
"Tolong kembalikan gajiku yang kau rampas minggu lalu," ujarku tanpa basa basi.
"Ya belum ada lah! " jawabnya sengit.
"Kau janji seminggu untuk mengembalikan, sekarang sudah dua minggu," sahutku.
"Ya sabar sih! Uangnya juga belum ada. Lagian siapa yang merampas uang gaji Mba. Kan aku bilang pinjam," ujarnya.
"Pinjam dengan cara paksa? Bahkan amplopnya pun kau bawa?" Aku mulai membentaknya.
"Gak usah bentak-bentak ya, Mba! Uang yang di amplop Mba juga gak cukup untuk bayar uang kuliah adikku, aku harus pinjam lagi pada teman yang lain!" Dia balas membentak.
"Apa urusanku? Aku hanya minta uangku dikembalikan. Sekalian pinjamanmu beberapa bulan lalu sepuluh juta, jadi totalnya limabelas juta tujuhratus limapuluh lima ribu rupiah," ujarku keras. Sengaja kurinci jumlahnya.
Beberapa teman mendongak. Tapi tak ada yang berkomentar, mungkin mereka enggan ikut campur.
"Kalau yang sepuluh juta kan suamiku yang pinjam, tagih ke dia lah!" kelitnya.
"Yang pinjam padaku bukan suamimu, tapi kau sendiri! Jadi aku hanya berurusan denganmu," jawabku.
"Ya nantilah!" sentaknya kasar. "Uang segitu aja pakai acara marah-marah!"
"Kalau menurutmu 'cuma segitu', tolong dibayar sekarang!" desakku.
Sherly berpura-pura sibuk menghubungi beberapa nomor. Aku tetap berdiri di depan mejanya. Berkali-kali ia pura-pura bicara dengan orang lain di telepon. Aku tahu ia berbohong, tak ada suara apa pun dari gawai yang ditempelkan ke telinganya. Jarak kami hanya sekitar limapuluh centimeter, mustahil tak kudengar suara apa pun dari seberang.
"Bagaimana?" tanyaku, setelah beberapa menit membiarkannya pura-pura bertelepon.
Sherly tak menjawab. Wajahnya berlipat.
"Harus sekarang tah, Mba?" tanyanya ketus.
"Ya, hari ini jadwal pembayaran uang kuliah anakku," sahutku datar.
"Pakai uang suami Mba kan bisa," tukasnya.
"Yang sepuluh juta kemarin itu uang suamiku!" bentakku kembali emosi.
Sherly memberengut.
"Gadaikan saja mobilmu untuk bayar pinjaman padaku," usulku.
"Itu mobil mertuaku!" sanggahnya.
"Bukannya itu mobilmu? Untuk apa kau pamer-pamer kalau bukan mobilmu?" tanyaku sinis.
"Kalau Mba tidak percaya, tanya saja pada mertuaku," jawabnya ketus.
"Bukan urusanku untuk bertanya-tanya pada mertuamu. Kau terlalu banyak membohongiku, aku tak percaya lagi padamu!" ujarku.
"Itu mobil mertuaku, Mba. Biar terbakar mobil itu kalau aku bohong!" teriaknya.
Teman-teman di ruangan itu beristighfar. "Jangan bicara seperti itu, Sher!" Seorang teman mengingatkan.
"Habisnya gak percaya banget sih!" gerutu Sherly.
Kutinggalkan ia dalam sumpah palsunya.
***
Sebuah mobil terbakar di area parkir liar. Diduga, kebakaran dipicu oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan di bawah mesin mobil.
Kubaca berita di sebuah situs media online.
Handphoneku berdering.
"Beres, Mba. Tak ada jejak tertinggal, aman!" suara di seberang sana terdengar jelas.
Kubuka aplikasi M-banking di gawai, kulakukan proses transfer. Transaksi berhasil.
Terlalu murah biaya yang kubayar untuk mewujudkan ucapan Sherly. Terlalu mahal kepercayaan yang kuberikan padanya dan telah disia-siakan. Sangat tak sebanding!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar