Minggu, 26 Juni 2022

CLBK

"Raiya, ini Dinda," ujar suamiku, mengenalkan seorang perempuan bertubuh langsing dengan tinggi semampai.

Wajahnya halus, tatapannya teduh. Hidungnya kecil dan bangir, bibirnya tipis kemerahan. Usianya kutaksir empat atau lima tahun diatasku. Kulitnya kuning kecoklatan dan tampak bersih.

Perempuan itu menampilkan senyum terbaiknya dengan gugup. Dia mengulurkan tangan, hendak berjabat denganku. Kusambut uluran tangannya.

"Raiya, istri Mas Bram," ujarku memperkenalkan diri dan menegaskan status.

"Aku, Dinda, teman Bram," ucapnya. Tanpa embel-embel sapaan di depan nama suamiku. Terdengar aneh namun terkesan akrab, saat ia yang menyebut nama itu. Nama yang kupikir hanya ada dalam untaian doaku dan ibu mertuaku, ternyata nama itu juga demikian istimewa di bibir perempuan ini. Bagaimana tidak kukatakan istimewa, bibirnya bergetar saat menyebut nama suamiku.

Aku mendahului mereka duduk di ruang tamu kami, sama sekali tak kupersilakan perempuan itu duduk. Mas Bram mengikuti gerakanku, duduk.

"Duduk, Din," ujarnya pada perempuan itu. Terdengar sangat manis hingga membuat sebagian besar ujung gigiku ngilu.

Perempuan bernama Dinda itu duduk.

"Aku teman Bram sejak remaja, Mba," Dia memulai pembicaraan setelah beberapa menit kami dalam keheningan.

"Dia teman baikku, Ray," ujar suamiku menambahkan.

"Kami berteman dekat," lirih suara perempuan itu menimpali.

Sayatan demi sayatan dihatiku terasa mulai mengalirkan darah.

"Seberapa baik? Seberapa dekat?" tanyaku perlahan. Tak yakin dengan pertanyaanku sendiri. Sekedar basa-basi atau benar-benar ingin tahu.

"Sangat dekat," jawab perempuan itu.

"Hingga harus ada chat romantis?" tanyaku.

Mereka terdiam.

"Maafkan aku, Raiy," ujar suamiku lirih.

Yaah, dua hari lalu Mas Bram sudah menjelaskan semuanya. Mereka adalah pasangan CLBK (Cinta Lama Belum Kelar). Aku tak bisa marah, aku sangat mencintai suamiku. Jika perempuan ini adalah bagian dari kebahagiaannya, aku bisa apa?

Masih teringat jelas di benakku percakapan di chat aplikasi WhatsApp mereka.

[Kita, seperti gunung dan awan. Meski rindu, hanya bisa saling memandang.] Tulis perempuan itu. 

Nalarku mengatakan, kami pernah bertemu entah dimana, saat aku bersama Mas Bram, sehingga mereka tidak saling menyapa. Satu paku besar berhasil menancap di hatiku dengan kalimat itu.

[Jika engkau menjadi langit, aku tak ingin menjadi laut, yang hanya bisa memandangmu, tanpa bisa menyentuh,] tulisnya lagi di lain waktu.

[Jika aku langit dan engkau jadi laut, kita tak akan pernah bisa bertemu. Engkau tak mungkin naik dan aku tak mungkin turun,] balas suamiku.

Paku besar berikutnya pun sukses membuat lubang besar dihatiku.

[Mengapa kita tidak menjadi angin dan hujan, agar bisa saling menguatkan?] tanya perempuan itu 

[Angin dan hujan yang bersatu akan menimbulkan badai. Tetapi angin dan awan, akan sulit dipisahkan.] Balas suamiku.

Darah mengalir deras di setiap sudut hatiku. Lelaki yang kukira hanya mencintaiku, ternyata juga menyimpan cinta bagi perempuan lain.

[Sejauh apa pun jarak yang kita tempuh, sesungguhnya kita tak pernah berjarak. Sebab di dalam hati, kita tetap lekat.] Tulis perempuan itu lagi di waktu yang lain.

[Sebagaimana pikiran dan perasaan kita yang seolah berperekat,] jawab suamiku.

Luka hatiku semakin menganga. Pesan-pesan mereka serupa pisau tajam yang menyayat-nyayat hatiku menjadi jutaan irisan tipis. 

Aku tak sanggup lagi membaca pesan-pesan lainnya. Jika kuteruskan, aku yakin hatiku akan berubah menjadi abon. Maka kuminta suamiku membawa perempuan itu kesini, ke hadapanku. Kubayangkan ia perempuan berpenampilan seksi dan menggoda, dengan lirikan genit dan senyum pemikat. Ternyata bayanganku keliru.

Ia, perempuan yang sekali pandang saja aku bisa paham mengapa suamiku begitu mencintainya. Jiwaku semakin rengkah.

Aku beranjak ke belakang, menyiapkan minum untuk tamuku. Saat kembali lagi ke depan, perempuan itu masih duduk terpaku. Tangannya menopang dagu, sementara suamiku duduk di teras dengan tatapan sendu.

Kuhidangkan dua gelas air beraroma buah lychee, kesukaan suamiku. Aku yakin perempuan itu pun tahu. Satu toples kue kering menemani minuman itu. Kupersilakan "teman baik" itu minum dan memanggil suamiku untuk masuk.

Mereka menikmati Syrup buatanku tanpa bicara. Tiga puluh menit kemudian mata mereka pun tertutup.

***

Kupandangi dua pasang mata dalam kotak kaca yang telah kusiapkan. Aku ingin membuat mereka, terutama suamiku bahagia. Agar mereka tak perlu sembunyi-sembunyi saling pandang di belakangku. Mata mereka bisa berpandangan selamanya dalam kotak kecil ini.

Kusentuh kotak kaca lainnya. Sepasang hati tergeletak disana. Biarlah hati mereka dekat, tak berjarak lagi. Agar bisa melekat dan selamanya menetap disana.

Di kotak lainnya, sepasang jantung kuletakkan bersisian. Agar bisa saling merasakan debar dan denyut masing-masing meski dalam ketiadaan detak. Bukankah dalam cinta yang tak ada pun bisa menjadi ada?

Pasti mereka berbahagia sekali. Aku menatap kotak-kotak kaca itu dengan perasaan lega. Akhirnya aku bisa mempersatukan dua jiwa yang saling mencintai.

Masih ada dua pasang ginjal dan dua pasang paru-paru. Aku memikirkan kemungkinan untuk menjualnya atau kusumbangkan saja bagi orang lain yang membutuhkan. Sebaiknya kuhubungi komunitas pendonor organ tubuh agar bisa secepatnya mengambil keputusan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...