Luka berbentuk bintang dengan empat garis bersilangan di wajah perempuan itu mengejutkanku. Seperti luka yang kutorehkan di wajah istriku duapuluh dua tahun yang lalu...
Cerita tentang Monang dan Alya ini cukup keren, sayang kalau dilewatkan...
Bab 1
Hari sangat terik, posisi matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Tetapi belum ada satu orang pun yang menggunakan jasaku. Kuusap kotak kayu berisi peralatan sol sepatu, apakah hari ini juga harus seperti kemarin? Rejeki yang kudapatkan hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi berlauk telur dadar dan dua batang rokok saja. Dua tahun belakangan ini memang terasa sulit, tapi bulan-bulan terakhir kurasa lebih sulit lagi.
Aku memang tidak menghidupi anak dan istri, aku hidup sendiri di rumah peninggalan orangtuaku yang telah wafat beberapa tahun lalu. Aku pernah punya istri dan dua orang anak, tapi entah dimana mereka kini. Kalaupun mereka ada bersamaku mungkin kehidupanku lebih sulit lagi, ataukah kesulitanku sekarang akibat perbuatanku di masa lalu? Kuusap dadaku yang mendadak terasa sakit mengingat itu semua.
Seorang perempuan setengah baya dan seorang pemuda berjalan ke arahku. Langkah si perempuan agak tertatih, si pemuda, mungkin anaknya, tampak menuntun sang ibu sambil tersenyum.
"Pak, sol sepatu ya?" tanya pemuda itu. Ia berwajah tampan dan berkulit bersih, meski sebagian wajahnya tertutup masker sekali pakai berwarna biru. Matanya tajam, alisnya tebal. Rambutnya tersisir rapi. Tubuhnya proposional. Kelihatannya dia terpelajar.
Aku mengangguk, "iya, ada yang bisa dibantu?" tanyaku sambil mengucap syukur dalam hati.
"Ini sendal ibu saya, talinya ada yang lepas, bisa minta tolong dijahitkan?" tanyanya sambil meminta sang ibu melepaskan sendal dimaksud dan mengulurkannya padaku.
Aku memperhatikan sendalnya, kualitas baik, mungkin harganya cukup mahal.
"Bisa,"jawabku.
"Tolong dijahitkan ya, Pak," ujar pemuda itu. Aku mengangguk dan menyiapkan peralatan.
Kuangsurkan kotak kecil berisi karet dan bahan-bahan sol lainnya kepada ibu tadi, kupersilakan ia duduk menunggu.
"Bu, duduk disini, adek mau beli minum dulu disana ya," kata pemuda itu. Ia menunjuk ke arah booth jus buah yang tak jauh dari kami.
"Ibu mau jus apa?" tanyanya.
"Mangga saja," jawab si Ibu.
Si pemuda berlalu. Kuperhatikan si ibu sejenak. Suaranya seperti sering kudengar, entah dimana. Wajahnya tertutup masker, kulitnya berwarna coklat muda dan bersih, seperti anaknya tadi. Ia berkacamata, dengan lensa berwarna abu-abu dan pantulan cahaya kebiruan dibawah sinar matahari. Tubuhnya ramping dengan outfit sederhana tapi kekinian. Mereka pasti keluarga berada, pikirku.
Aku mengerjakan pekerjaanku tanpa suara. "Bu, ini dijahit saja semua sisinya ya, supaya lebih kuat," ujarku pada perempuan itu.
"Iya, pak. Bagaimana paling baik menurut Bapak saja. Itu tadi tidak sengaja terinjak orang yang berjalan di belakang saya waktu melangkah, malah tali sampingnya lepas," terangnya sambil tersenyum.
Sempat kulihat kilatan kejut dimatanya saat ia menatapku. Tapi sedetik kemudian ia memandang ke arah anaknya yang masih menunggu jus buah pesanannya.
Suara ibu ini, aku yakin sekali tidak asing. Tapi entahlah!
Si pemuda kembali ke arah kami, membawa tiga cup jus buah. Ia memberikan pesanan ibunya lalu mengangsurkan satu cup jus alpukat padaku, "untuk Bapak," ujarnya. Aku agak terkejut, tapi kuucapkan terimakasih. Dari pagi aku memang belum minum apa pun.
"Itu punyamu jus apa?" tanya si ibu.
"Strawberry campur apel," jawabnya sambil tertawa, memamerkan geliginya yang rapih dan bersih. Ah, aku teringat gigiku sendiri yang mulai banyak ditempeli karang gigi dan plak nikotin.
"Setelah ini kita kemana, Bu?" tanya si anak.
"Kita ke Masjid Al-Furqon ya, sekalian sholat Zuhur disana," jawab sang ibu.
"Dimana itu?"
"Di Jalan Diponegoro, nanti ibu beritahu arahnya,"
"Kenapa harus kesana?"
"Ada yang ingin ibu lihat,"
Si pemuda mengangguk sambil ber-oh.
Masjid Al-Furqon, aku pun punya banyak kenangan disana. Saat aku dan istriku masih menjalin hubungan kasih sebelum kami menikah dulu. Kami sering menikmati siang hingga sore di kerimbunan taman kota yang ada di depan halaman masjid, memandangi kendaraan yang melintas, sambil berbincang tentang apa saja. Saat bertengkar pun kami memilih pergi ke tempat itu, untuk sekedar duduk menenangkan hati dengan semilir angin yang berhembus rapat disana.
Dimanakah perempuan itu kini? Perempuan baik yang kusia-siakan hidupnya, yang baru kusadari sangat berharga saat ia telah pergi meninggalkanku dengan luka yang kutorehkan duapuluh dua tahun lalu.
Pekerjaanku selesai. Aku menyorongkan sepasang sendal itu ke kaki si ibu.
"Sudah, Bu," ujarku.
"Berapa, Pak?" tanya si pemuda.
"Sepuluh ribu rupiah," jawabku. Terbayang nasi sayur dan telur dadar di benakku.
Si anak mengeluarkan uang dari kantungnya, tapi si ibu lebih cepat, diulurkannya pecahan seratus ribu kepadaku.
"Tidak usah dikembalikan, untuk Bapak saja," katanya pelan. Ia menatapku lama.
Aku terpaku, tak menyangka dapat rejeki sebanyak ini. Kuucapkan terimakasih dengan suara serak.
"Ibu tidak minum?" tanya si anak.
"Nanti saja di mobil," jawab si Ibu.
"Cupnya penuh, diminum sedikit saja dulu, agar tidak tumpah saat dibawa," saran anaknya.
Si ibu menunduk, menatap cup jus mangga miliknya. Perlahan ia menurunkan masker, lalu menyesap jus melalui pipet plastik.
Aku terperanjat, ribuan jarum terasa menusuk hatiku. Dadaku terasa nyeri. Aku menatap wajah si ibu tak berkedip. Meski tak terlalu kentara, aku melihat guratan halus berbentuk bintang, empat garis lurus saling bersilangan di pipi kanannya. Seperti bekas luka akibat benda tipis dan tajam seperti silet, halus tapi dalam dan membekas selamanya.
Ia perlahan bangkit, mengabaikan aku yang masih tercengang memandanginya. Benarkah ia Alya? Alya istriku, ibu dari anak-anakku?
Bekas luka itu, tak mungkin aku lupa, aku yang memberikannya. Aku melukainya secara sadar saat aku kalut dan terjebak emosi yang meluap. Aku sengaja melukainya agar ia tak pergi meninggalkanku karena wajahnya telah rusak. Tapi ia tetap meninggalkanku.
Ibu dan anak itu berlalu, si pemuda menggandeng lengan ibunya dengan kasih. Wajahnya bahagia, tetapi ada mendung di wajah sang ibu.
Sepuluh meter jarak mereka dariku, aku merasa harus mengambil kesempatan, menuntaskan rasa penasaran.
"Dik!" panggilku, "terimakasih jusnya," ucapku.
Si pemuda menoleh, "iya, pak, sama-sama." Ia menebarkan senyum ramahnya. Si Ibu tak menoleh sedikit pun.
"Tinggal dimana?" tanyaku sambil berjalan mendekat.
"Kami hanya sedang berkunjung kesini," jawab si pemuda.
"Seperti sering lihat," ujarku, beralasan.
Pemuda itu hanya tersenyum, "mari, pak," pamitnya sopan.
Aku mengiyakan. Ada yang berdenyut nyeri di dalam dadaku. Jika perempuan itu benar Alya, maka pemuda tadi adalah Alka, anakku yang kedua. Betapa tampannya ia.
Aku kembali duduk diatas kotak peralatan sol sepatu dengan pikiran mengembara. Jika ia benar Alya, betapa beda nasib kami kini. Terlihat dari penampilannya dan anaknya, mereka pasti berpunya. Anak itu pasti sekolah tinggi, minimal sarjana strata satu. Gerak geriknya, gaya bicaranya, ibunya berhasil mendidik putranya.
Semakin kupikirkan, semakin aku yakin bahwa kemiskinan dan ketidakberdayaanku saat ini adalah buah dari perbuatanku di masa lalu. Aku, suami dan Bapak yang tidak bertanggungjawab, suami dan Bapak yang dzalim. Hingga di setengah abad usiaku, aku masih dalam kesulitan hidup. Bahkan untuk mengisi perutku sendiri setiap hari pun nyaris tak sanggup.
Kupandangi kotak sol sepatu, satu-satunya harta berharga yang kumiliki saat ini. Penyesalan kembali menderaku, meninggalkan bilur-bilur membiru dalam kalbu.
Benarkah mereka Alya dan Alka? Pertanyaan itu terus bergelayut hingga matahari luruh ke barat, tak kurasakan perutku yang kosong. Pikiranku yang penuh tentang perempuan dan pemuda tadi mengalahkan rasa lapar sepanjang siang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar