Kamis, 19 Mei 2022

SENJA BERSAMA AISHA (Cerpen)

Matahari hampir luruh ke barat, saat mobilku memasuki sebuah area wisata pantai di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Aku bersama Aisha, putriku. Sudah dua Minggu ia merengek, minta rekreasi ke laut. Baru sore ini aku berkesempatan mengajaknya kesini.


Wajah Aisha terlihat gembira, matanya berbinar. Senyum tak henti terkembang di bibirnya yang tipis dan mungil. Senyum yang membawa bahagia sekaligus membuatku sedih hingga kini. Senyum putriku, mengingatkan aku pada seseorang yang kini entah ada dimana.

#

Umurku belum genap 17, saat aku jatuh cinta pada Ahsya, kakak kelasku di SMA. Dia baik, ramah, dan perhatian. Wajahnya manis, murah senyum. kulitnya putih kemerahan. Aku mengenalnya di sebuah kegiatan ekstrakurikuler. Dia pembimbing kami.

"Muthia!" panggilnya setiap kali lewat depan kelasku.

Teman-teman sekelas hafal kebiasaan Ahsya Biasanya mereka akan meledekku. Aku hanya tersenyum malu.

Pernah suatu hari panggilannya disahut oleh Eddy, teman sekelasku.

"Muthia gak masuk! Sakit!" teriaknya.

Teman yang lain tertawa.

Ahsya berhenti sejenak di depan kelas, melongok dari jendela dan melihat ke arah tempat dudukku. Kemudian berlalu sambil tersenyum.


Seperti remaja SMA umumnya, aku melalui hari-hari yang indah dan menyenangkan, apalagi ditambah Ahsya, hariku menjadi lebih berwarna. Saat bersama Ahsya, pelangi pun menjadi pudar keindahannya.


Aku dan Ahsya sangat dekat. Tak ada hari tanpa Ahsya di sampingku. Ia menungguku saat pulang sekolah, mengantarku sampai ke rumah. Kadang-kadang kami bermain dulu ke taman kota atau pusat perbelanjaan, sekedar melihat-lihat dan jajan.


Suatu hari Ahsya mengajakku pergi agak jauh, ke sebuah resort di Lampung Selatan. Aku menyetujuinya. Jujur, aku pun ingin pergi yang jauh berdua saja bersama Ahsya. Maka kami pun berangkat. Hanya berdua.


Setelah puas bermain-main di pantai, Ahsya mengajakku mampir ke resort. Memesan kamar untuk istirahat. Aku agak terkejut.

Ahsya tersenyum, memahami keterkejutan ku.

"Kita pulang nanti sore, tidak menginap," katanya.

Aku sedikit tenang, meski masih agak takut.


Kami menghabiskan siang yang panas itu dalam kamar peristirahatan. Aku capek sekali setelah berjam-jam bermain air di pantai. Aku pun tertidur. 

Dalam tidur aku dan Ahsya berkejaran di tepi pantai, menangkap ikan-ikan kecil dan memasukkannya ke dalam botol. Kami penuh tawa. Tiba-tiba aku merasa dadaku sesak, mulutku tersumbat oleh sebuah mulut lain.

Aku terbangun.


Tubuh Ahsya ada diatas tubuhku, dia menciumi wajahku, tangannya bergerak kesana kemari ke sekujur tubuhku. Aku berteriak, memukuli punggungnya. Tapi ia tak berhenti. Aku mencakar wajahnya, mendorong tubuhnya yang menghimpit ku. Lalu Ahsya berteriak pelan, dan melepaskan tubuhnya dari tubuhku.


Aku merasakan sakit dan pedih di organ intimku. Ahsya telah memperkosaku. Aku menangis. Ahsya memelukku, berusaha menenangkanku, tapi aku terlanjur takut.

Kukenakan pakaianku, melesat keluar kamar, berlari meninggalkan resort. Masih kudengar Ahsya memanggil-manggil namaku.

#

"Bunda, Bunda," Aisha menggoyang-goyang tanganku. 

Aku terkejut. Melamun terlalu lama.

"Ya, sayang," jawabku.

"Aish main kesana ya, tangkap ikan," katanya sambil menunjukkan jaring kecil yang dibawanya dari rumah.

Aku mengangguk.

"Hati-hati ya, jangan ke tengah," pesanku.

"iya, Bunda," jawabnya.

Kaki kecilnya menapaki pasir, menuju air.

Aku masih memandanginya. Aisha, ia tumbuh menjadi anak pemberani dan mandiri, tentu saja itu tidak lepas dari didikan ayah, ibu, kakak, dan adik-adikku.

Ya, aku membesarkan Aisha bersama keluargaku.

Angin laut bertiup agak kencang, membawa kembali aku dalam lamunan.

#

Aku berlari keluar resort, mencari taxi. Pulang.

Sesampainya di rumah, aku mandi berjam-jam. Aku merasa jijik sekali pada tubuhku. Tubuhku kotor, penuh dosa. Aku menangis tak henti dibawah shower. Berkali-kali menggosok badanku dengan sabun dan spon mandi, hingga habis sabun cair satu botol. Tapi aku tetap merasa kotor.


Aku benci sekali pada Ahsya. Mengapa ia melakukan itu padaku?


Aku menghindari Ahsya di sekolah. Aku tak mau bertemu dengannya. Pokoknya aku benci, benci sekali padanya.


Kekalutanku bertambah di bulan berikutnya, saat siklus menstruasiku terlambat. Aku bingung. Dan menelan sendiri semua kebingungan ku hingga Minggu keempat. Pada siapa aku harus bercerita?

Ahsya tak pernah lagi tampak di sekolah. Menurut berita yang ku dengar ia pindah bersama orangtuanya yang mendapat tugas ke kota lain.


Aku pun menangis. Takut dan bingung menderaku. Tapi tak mungkin aku menghadapinya sendirian. Aku mengajak tanteku bicara. Kuceritakan semuanya. Tante Lily tampak terkejut. Ia berusaha menghiburku dan berjanji akan membicarakan ini pelan-pelan pada ayah dan ibu.


Ayah dan Ibu sangat shock. Tapi mereka mampu mengendalikan emosi. Diambillah keputusan, untuk sementara aku harus pergi dari kota ini, ikut pada keluarga pamanku di Pekanbaru. Ayah mengurus segala sesuatunya. 


Aku tinggal bersama Paman Jauhari. Bibi Yuli baik sekali padaku. Mereka tak memiliki anak. Maka akulah yang menerima limpahan kasih sayang mereka. Aku yang hamil, tapi seolah mereka yang akan mendapatkan bayi. Mereka bahagia sekali.

Setiap kali janin dalam perutku bergerak, Bibi akan berteriak kegirangan sambil memanggil Paman, lalu paman ikut mengelus perutku yang mulai membesar. Mereka berpandangan dan tertawa bahagia.


Awalnya aku membenci kehamilanku, tapi sikap paman dan bibi merubah perasaanku. Mereka ingin sekali memiliki anak, tapi tidak bisa. Sedangkan aku, belum waktunya memiliki anak tapi aku hamil.

Betapa anehnya hidup ini.


Paman dan bibi sering menasehati, bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Mereka selalu mengingatkan aku untuk bersabar atas ujian ini.


Tujuh bulan kemudian bayiku lahir, seorang putri cantik. Paman dan bibi memberi nama "Aisha". Melihatnya, semua kesakitan dan kesedihanku terasa sirna. Aku bertekad akan membesarkan bayi ini, meski tanpa ayahnya.


Paman dan bibi mendaftarkan aku sebagai murid pindahan di sebuah sekolah swasta di Pekanbaru. Aisha diakui sebagai putrinya. Hingga aku menyelesaikan pendidikan di SMA. Paman dan Bibi masih menahanku untuk tinggal, namun ayah memintaku untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi di kota kami. Aku pun kembali ke rumah saat Aisha berusia dua tahun.


Aisha anak yang lincah dan lucu, keluargaku menyayanginya. Terutama Ibu. Tak pernah kudengar sekalipun mereka mengungkit tentang ayahnya, apalagi tentang masalahku di masa lalu. Maka aku bisa menyelesaikan kuliahku dengan tenang.


Kini Aisha berumur tujuh tahun. Aku sudah bekerja di sebuah bank swasta. Secara ekonomi hidup kami cukup. Paman dan Bibi setiap tahun datang untuk menjenguk Aisha. Tahun lalu aku yang membawa Aisha ke Pekanbaru.

#

Tiba-tiba aku mendengar teriakan Aisha. Aku menoleh kearahnya. Tampak Aisha sedang tertawa gembira dengan jaring dan wadah ikan ditangannya. 

Tapi aku terkesiap melihat seorang lelaki yang bersama Aisha. Aku menatapnya tak berkedip. Sosok itu, ah.... Tak mungkin!

"Bunda!!" seru Aisha

"Aish dapat ikan banyak!" serunya gembira.

Lelaki itu mengikuti arah Aisha bicara. Ia tampak terpaku.

Aisha berlari membawa wadah ikan ke arahku. Lelaki itu mengikutinya.

Aku semakin yakin, dia Ahsya.


Kini ia berdiri di hadapanku.

"Muthia..." bisiknya. Suaranya bergetar.

Aku membuang muka.

"Ini anakmu?" tanyanya sambil mengelus kepala Aisha.

Aku tak menjawab.

"Om kenal bunda?" tanya Aisha polos

Ahsya diam. Matanya terus menatapku. Tangannya mengelus kepala Aisha.

"Aish, kita pulang, sayang," ajakku pada Aisha.

Ahsya membungkuk, mengelus pipi Aisha.

"Aisha sudah sekolah? dimana?"

"Sudah, om. Di SD Pelita. Kelas satu A," jawab Aisha.

"Aisha!" panggilku, sambil berjalan menuju mobil.

"Aisha lahir tanggal berapa?" tanya Ahsya.

"4 September. Om mau kasih kado ya?" tanya Aisha polos.

Ahsya tertawa. Tapi kemudian tertegun.

"Aish!" panggilku agak keras.

Aisha berlari ke arah mobil.

"Dadah, oom !!" Aisha melambaikan tangan pada Ahsya.

Ahsya mengejar, berdiri di samping jendela mobil.

"Muthia, Aisha, Aisha... apakah Aisha...." kata-katanya terputus.

Aku menginjak pedal gas. Berlalu dari hadapannya.

Aisha menatapku, bingung.

Kulihat dari spion, Ahsya menatap kepergian kami...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...