Kamis, 19 Mei 2022

SISTER IN LAW (14)

 Bab 14


Tigapuluh menit proses radiologi selesai.

"Radiografi nya nanti kami serahkan kepada dokter spesialis yang menangani Leang ya, Bu." Kata petugas di ruang radiologi.

"Baik, mas. Terimakasih." Jawabku.

Bersama perawat kami membawa Leang kembali ke kamar.

"Bagaimana?" Tanya suamiku.

"Tunggu hasil analisa dulu." Jawabku.

"Leang istirahat lagi ya," kata perawat yang mengantar kami.

"Mari, pak, Bu." Pamit mereka.

Kami mengucapkan terimakasih pada keduanya.

Tiba-tiba ada suara tangis mendekat.

"Naya..huhuhuhu.. Naya.." ternyata Rara.

"Maaf ya, Nay. Kakak baru jenguk Leang..huhuhu.." katanya.

"Iya, kak." Jawabku sambil menatapnya heran.

"Kau nangis kenapa?" Tanya Nandean.

"Bapak mengusirku pulang, tidak boleh ke rumah sakit." Jawabnya.

"Ya pulanglah. Kok malah nangis." Kata Nandean.

"Aku juga ingin mengurus adikku, melihat keponakanku." Katanya.

"Sudah banyak adikmu yang mengurus, kau urus saja anak-anakmu." Jawab Nandean.

"Kau ini seperti Bapak. Bapak juga bilang begitu tadi. Apa laki-laki di keluarga kita memang begitu semua?" Tanyanya sengit.

"Iya, yang berbeda itu suamimu, bukan anak Bapak." Jawab Nandean.

"Anaknya jugalah." Rara ngotot.

"Kalau suamimu anaknya Bapak bagaimana kau bisa menikah dengan dia?" Tanya Nandean.

Aku menahan tawa.

Rara terlihat berpikir sejenak.

"Bodo amat lah!" Katanya.

Nandean terbahak.

"Rara, Rara, anak sudah tujuh tapi kelakuanmu seperti anak-anak. Nangis-nangis di tempat umum, apa entah." Kata Nandean lagi.

Rara diam saja.

"Nay, maafkan kakak kalau ada salah ya." Tiba-tiba ia memelukku.

"Iya, kak." Jawabku. Masih dengan perasaan heran pada sikapnya.

"Ya sudahlah, aku mau pulang dulu. Bapak Leang, aku minta ongkos sih untuk naik gr*b." Katanya.

Nandean menatapnya, tapi dikeluarkannya juga selembar uang pecahan seratus ribu.

"Terimakasih ya, Bapak Leang, Nay. Semoga rejeki kalian lancar, semoga Leang cepat sehat." Katanya.

"Amin..." Sahut kami.

Rara pun secepat kilat pergi.

"Aneh..." Gumam Nandean.

Aku tertawa pelan.

Keenam iparku punya karakter masing-masing yang benar-benar istimewa.

"Ibu, mamanya Dzaki itu kenapa?" Tanya Leang.

"Dia sedang sedih." Jawabku.

"Apakah Dzaki juga sakit?" Tanyanya lagi.

"Tidak, Dzaki sehat-sehat saja. Leang juga cepat sehat ya, biar bertemu Dzaki." Ucapku.

"Eang mau tidur." Katanya.

"Tidurlah, nak.." kataku sambil mengusap lembut kepalanya yang kini tidak berperban lagi.

Leang memejamkan mata.

Ada ketukan di pintu, aku menoleh. Rossy masuk.

"Kakak sama Abang, dipanggil Bapak dan Mama." Katanya.

"Biar aku yang jaga Leang" sambung Rossy.

"Assalamualaikum..." Suara yang kukenal terdengar mengucap salam.

"Ibu.. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh.." jawabku sambil menyambut. Kucium punggung tangannya. 

Ternyata ayah juga datang. Nandean dan Rossy pun menyalami keduanya.

"Bagaimana kondisi Leang?" Tanya mereka.

"Alhamdulillah, sudah banyak perkembangannya," Jawab Nandean.

"Tadi baru selesai Rontgen, tunggu hasil analisanya besok," sambungku.

Mereka mendekat ke pembaringan.

"Lho? Sudah tidak diperban lagi?" Tanya ayah.

"Kata dokter sudah boleh dibuka," jawabku.

"Ooohh.." mereka berucap bersamaan.

"Ayah, ibu, kami mau ke kamar Marry dulu, ditunggu Bapak dan Mama," kata suamiku.

"Oh, ya, ya. Tidak apa-apa. Tinggal saja Leang bersama kami," sahut ayah.

Rossy terlihat bingung.

"Ikut kami saja, sy," ajak Nandean.

"Iya, ikut saja. Ponakannya aman bersama kami disini," canda ayah sambil tersenyum.

Rossy tertawa.

"Kami keluar dulu, Yah, Bu," pamit Nanden.

Ayah dan Ibu mengiyakan.


Kamar Perawatan Marry berselang satu blok dari ruang perawatan Leang.

Tampak Mama dan Bapak duduk di sisi kiri pembaringan.

Kami menuju ke sisi kanannya.

"Marry, ada adikmu, nak," kata Mama lembut sambil menyentuh tangan Marry.

Marry menggeliat, membuka matanya.

Ia menatap Nandean dan aku dengan ketakutan. Dipejamkannya lagi matanya.

Nandean menyentuh tanganku, memberi isyarat.

Aku mendekati tempat tidur.

"Kak," aku menyapanya, kugenggam tangannya. Dingin.

"Kak, aku minta maaf. Kakak cepat sembuh ya," ucapku terbata.

Marry mengepalkan tangan.

"Marry, adikmu minta maaf, dimaafkan ya, nak. Kau juga harus minta maaf atas sikap kasarmu pada Naya dan anaknya," bujuk mama.

Tak ada reaksi.

Matanya dipejamkan rapat-rapat. Bibirnya kian memucat.

"Kak, Ibunya Leang selalu mendoakan kak Marry, semoga cepat sembuh," kata Rossy.

Marry tak merespon.

"Marry, maafkan istriku ya," kata Nandean di telinganya.

Marry melenguh.

"Salam dari Leang untuk Tante Marry cantik," kata Nandean lagi.

Bulir bening mengalir dari mata Marry. Lalu Isaknya perlahan terdengar.

Ternyata dia bisa takut, dia juga bisa menangis. Pikirku. Entah menangis marah atau menangis menyesal.

"Marry, semua orang menyayangimu. Saya dan Mamamu juga sangat menyayangimu. Meski kau suka melawan, sering buat kami marah, kami tetap menyayangimu," kata Bapak.

"Siang malam kami mendoakan keselamatanmu, siang malam kami mengharapkan kesembuhanmu. Cepatlah kau sembuh dan mulai hidupmu yang baru," lanjut Bapak.

Marry terisak semakin keras. Tapi ia tak mengatakan apa pun.

Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. Yang kutahu, saat ini aku merasa lega karena Marry sudah dalam keadaan sadar kembali, rasa bersalahku sedikit berkurang.

Mama mengusap-usap lengan Marry, memberinya penguatan dan penghiburan.

"Cepat sembuh ya, nak," ucap mama berkali-kali.

Rossy berdiri di ujung tempat tidur, memandangi kakaknya.

"Naura dan Anggun sudah kau beritahu, Rossy?" Tanya Bapak.

"Sudah, pak. Siang ini mereka kesini," jawab Rossy.

"Pak, Lily jangan dibiarkan menjaga Marry sendirian," Kata Nandean.

"Kalau Lily jaga, harus ada orang kedua. Jadi kalau yang jaga berdua, harus ada orang ketiga. Supaya Lily terpantau terus. Bukan aku berprasangka buruk, tapi ada baiknya berjaga-jaga. Semua sudah tahu bahwa peristiwa ini berawal dari hasutan Lily, kita harus tetap waspada Lily akan berupaya menghilangkan jejak. Kemungkinan pertama, dia kembali menghasut Marry, kemungkinan kedua dia mengancam Marry, kemungkinan ketiga dia mencelakakan Marry supaya rahasianya tidak terbongkar, dan menekan Naya supaya terus merasa bersalah," papar Nandean panjang lebar.

Bapak dan Mama tampak merenung.

Aku teringat mimpiku.

"Aku setuju dengan Bapak Leang," ungkap Rossy. "Kita harus menjauhkan kak Marry dari pengaruh buruk kak Lily," sambungnya.

"Intinya, jangan memberi mereka kesempatan hanya berdua," tegas Nandean.

"Mestinya kak Rara juga dijauhkan dari kak Lily," kata Rossy.

"Sudah kubilang sama si Ishaq, jangan boleh si Rara dekat-dekat sama si Lily. Tapi ya namanya kakak beradik. Tetap saja hubungan itu ada," kata Bapak.

"Hubungan memang harus tetap ada, tapi komunikasi harus dibatasi," kata Nandean.

"Ah, entahlah. Bingung saya sama si Lily ini. Mau saya usir, dia belum punya suami, masih ada tanggungjawab saya. Saya suruh cepat-cepat nikah, calonnya pun belum ada. Jadi macam manalah!" keluh Bapak.

"Mereka bukan anak kecil lagi, pak. Umurnya sudah berapa. Harusnya sudah jadi orangtua. Sudah tak pantas lagi menjadikan Bapak tameng, apalagi untuk melindungi kejahatan hatinya," ucap Nandean.

"Mengerikan anak Bapak satu itu," timpal Rossy. "Jahat sejak dalam pikiran," katanya lagi.

"Tapi terserah Bapak, kalau masih mau terus-terusan melindungi dia. Paling nanti ada korban baru lagi," kata Nandean.

"Jangan sampailah, nak," sela Mama.

"Kita harapkan yang baik-baik untuk keluarga ini." 

"Kapan rencana operasi?" Tanya Nandean.

"Masih menunggu hasil pantauan beberapa hari ke depan dulu. Baru nanti diputuskan, harus operasi atau tidak," jawab Bapak.

Aku menatap wajah mertuaku yang terlihat lelah dan tampak lebih tua dalam beberapa hari belakangan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...