Bab 7
Handphone-ku berdering.
Nama Kak Irfan tertera di screen.
"Assalamualaikum, iya, Kak," Jawabku setelah menekan tombol hijau.
"Nay, biaya pengobatan Leang bagaimana? Kalian punya dananya?" Tanya kak Irfan.
"Ada asuransi, Kak," jawabku.
Hatiku bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba kakakku menanyakan hal ini.
"Oh, jadi sudah dicover asuransi ya? Baiklah."
Panggilan diputus.
Lalu pesan WA masuk dari suamiku.
[Aku bawakan makan siang ya, sekalian untuk ayah, ibu, dan Pakde nya Leang]
[Ditunggu bawaannya, menantu dan adik ipar kesayangan 😘]
[Tolong sekalian beli juga untuk Bapak, Mama, dan Tante-tantenya Leang]
[Siap]
Satu jam kemudian suamiku datang, berbarengan dengan keluargaku yang kembali lagi ke kamar.
Kami makan bersama.
"Bapak Leang sudah tahu belum hasil diagnosa dokter dan rencana tindakan medis untuk Marry?" tanya Ayah.
"Belum, Yah," jawab suamiku.
"Bapaknya Leang kan baru datang, Yah. Belum ketemu sama Pak Regar," kata Kak Irfan.
"Memang gimana katanya, Yah?" tanya suamiku.
"Agak berat keliatannya. Harus dioperasi. Kemungkinan baiknya bisa sehat tapi tak bisa 100% seperti semula, kemungkinan buruknya kehilangan kemampuan pendengaran dan bicaranya, kemungkinan paling buruk jika tidak operasi tetap koma entah sampai kapan," papar ayah.
"Biayanya diestimasikan diatas angka duaratus juta. Nah, tadi saudara-saudara mu bilang, karena musibah ini akibat ulah Naya maka keluarga Naya lah yang harus menanggung biayanya," terang ayah lagi.
Nandean tertawa.
"Orang gila," gumamnya sambil menggelengkan kepala.
"Yang ngomong seperti itu siapa, Yah?" Tanya Nandean.
"Rara sama Lily," jawab Ayah.
"Terus Bapak bilang apa? Ada ngomong gak Bapak?" tanya Nandean lagi.
"Bapakmu malah bilang, jangan didengarkan, pak. Nanti kami musyawarah keluarga dulu," jawab ayah.
"Kebiasaan Bapak memang begitu, semua dimusyawarahkan dulu," kata suamiku.
"Kadang aku juga bingung pada mereka yang perempuan-perempuan itu," keluhnya.
"Tapi tanpa diminta pun nanti kami akan tetap membantu biayanya. Makanya tadi Irfan saya minta tanya Naya bagaimana biaya Leang, katanya sudah dicover asuransi, berarti persiapan bantuan untuk Leang kami alihkan untuk Marry," kata Ayah.
"Kakak-kakaknya Nandean itu agak-agak aneh ya?" Gurau Kak Ilham sambil tertawa.
"Memang aneh," tawa Nandean.
"Kalau tak aneh, tak akan ada cerita hari ini," kata kak Irfan.
Ayah hanya tersenyum.
Kemudian mereka semua sholat Zuhur.
-000-
Siang itu Bapak meminta kami berkumpul. Aku menitipkan penjagaan Leang pada Ibu yang kebetulan masih berada di Rumah Sakit. Ayah dan kakak-kakak ku juga tampaknya masih menunggu perkembangan berita dari keluarga mertuaku.
Kami memilih tempat di sebuah sudut halaman parkir yang agak rindang untuk bermusyawarah.
Bapak mulai membuka rundingan, menyampaikan hasil diagnosa dokter dan rencana tindakan medis yang harus dilakukan termasuk estimasi biaya.
"Jadi Saya mengumpulkan kalian untuk memusyawarahkan bagaimana kita akan mengatasi masalah ini. Setiap orang harus berpendapat, supaya nanti tidak ada saling iri dan saling menyalahkan. Kita semua mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhan Marry," kata Bapak.
"Yang membuat Marry sakit lah yang bertanggungjawab," celetuk Rara yang langsung diperingatkan oleh Bang Ishaq, suaminya.
"Apaan sih," katanya pelan.
"Aku setuju sama Rara," kata Lily.
"Kalau gak mau tanggungjawab, kita laporkan ke kepolisian, kasus penganiayaan," lanjutnya.
Nandean mendehem.
"Kalau menurut aku sih kita bisa sumbangan semampu kita, jika masih kurang nanti dicarikan jalan lainnya," kata Naura yang diiyakan oleh Tanto, suaminya.
"Aku terserah Bapak aja, pak. Bagaimana sebaiknya. Tabunganku juga lagi kosong," kata Anggun.
"Aku nyumbangin tabunganku, pak. Tapi bagi dua, untuk Marry setengah dan setengahnya lagi untuk Leang," Kata Rossy.
"Kalau Bapak si Leang juga pasti keluar uang banyak untuk biaya Leang," Mama menanggapi.
"Sebenarnya ini tanggungjawab saya sebagai orangtuanya, tapi saya ingin melibatkan anak-anak saya dalam mengatasi masalah ini, supaya kalian tahu dan merasakan bagaimana seharusnya hidup bersaudara. Saling bantu, saling tolong, saling mendukung. Bergandengan tangan melewati kesulitan, bahu membahu mengatasi kesusahan.
Setelah mendengar masing-masing pendapat kalian, silakan kalian sebutkan nominal yang bisa kalian sumbangkan, biar sisanya kita pikirkan lagi sama-sama. Rossy, kau catatlah jumlah sumbangan kakak-kakakmu," kata Bapak.
"Selain soal si Marry, keluarga Nandean juga harus kita pikirkan. Saat ini kau tahu sendiri anaknya juga masih dalam proses perawatan di rumah sakit ini," lanjut bapak.
"Untuk biaya perawatan anakku tak perlu kalian pikirkan. Kita fokus saja pada biaya yang dibutuhkan Marry," ujar suamiku.
"Ya iyalah. Dia ketabrak sendiri kok. Kalau mau minta saja ganti rugi pada si penabrak," kata Lily.
"Oh begitu?" Tanya Nandean.
"Ya iya. Yang nabrak Leang lah yang tanggungjawab. Masa kita yang harus nanggung biayanya juga," Rara menjawab.
"Kalau begitu kita urutkan kronologi kejadiannya ya?" Tanya Nandean.
"Anakku lari keluar karena pintu pagar yang sengaja dibuka lebar oleh Marry, bahkan Marry sendiri bilang: biar saja ketabrak mobil, biar mati sekalian! Artinya ada unsur kesengajaan dari Marry supaya anakku celaka. Iya kan? Berarti aku dan istriku seharusnya minta pertanggungjawaban Marry.
Kalau yang ada dalam pikiranmu seperti ini, maka aku minta tolong padamu, bangunkan Marry sekarang lalu suruh dia bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada anakku.
Setelah urusan anakku selesai, biarkan Marry terbaring lagi lalu kau minta Naya bertanggungjawab. Aku yakin Naya dan keluarganya mau bertanggungjawab.
Istriku ini bukan yatim piatu ya, dia tidak hidup sebatang kara. Keluarganya siap membantu dan membela dia. Jadi jangan kau merasa hebat sendiri, semena-mena pada orang lain.
Atau kita laporkan saja kedua kasus ini ke polisi. Begitu maumu?" Papar Nandean.
Lily terdiam.
"Entah dimana otakmu kau simpan, Lily," gerutu Bapak.
"Kau juga maunya begitu kan, Ra?" Tanya Nandean.
"Gila saja disuruh membangunkan orang yang sedang tidak sadar untuk tanggungjawab," kata Rara sewot.
"Kalau begitu kau dengan si Lily sama gilanya," gerutu Bapak.
"Coba Ishaq, kau didiklah bagaimana seharusnya istrimu itu," kata Bapak kepada Ishaq.
Kulihat wajah Bang Ishaq memerah.
"Si Rossy, umurnya paling muda diantara kalian tapi isi pikirannya lebih baik," ucap Bapak lagi.
"Coba sih dijaga bicaramu, Rara, Lily, terutama di depan besan kami. Bukan kau yang dianggap kurang ajar, tapi aku, Bapakmu yang dipandang orang kurang ajar akibat perbuatanmu. Terutama kau, Rara. Macam tak punya otak kau kulihat. Malu saya kau buat didepan Pak Ikram, kalian minta mereka membayar biaya si Marry. Si Naya ini menantu kami, dunia akhirat dia sudah jadi bagian keluarga ini, kalian masih anggap dia dan keluarganya seperti orang lain. Lagipula yang terjadi pada Marry bukan sepenuhnya kesalahan Naya, salah si Marry bikin gara-gara." Bapak bicara panjang lebar.
"Lily yang nyuruh aku ngomong!" Rara membela diri.
"Mana ada aku nyuruh kau ngomong," elak Lily.
"Tadi itu, bilang sama ayahnya Naya, Ra, dia harus tanggungjawab bayar biaya pengobatan Marry, anaknya yang bikin ulah. Begitu kan kau bilang?" balas Rara.
Wajah Lily merah padam, mungkin ia malu dan marah.
"Bodohnya kau, Rara. Mau saja dijerumuskan si Lily. Memang tak ada otakmu kurasa," ujar Bapak.
"Pergilah kau dari depan saya! bukannya membantu memecahkan masalah malah kau tambah-tambah masalah. Kupecahkan juga nanti kepalamu!" bentak Bapak.
"Selama ini kau anggap orangtuamu ini bodoh, karena kami tak berpendidikan. Sengaja kami sekolahkan kalian tinggi-tinggi, supaya bagus kelakuanmu, tapi rasanya percuma saja sekolahmu itu. Tetap saja kurang ajar kau pada orangtuamu. Tak ada artinya gelar di depan dan di belakang namamu itu. Mulutmu itu berbahaya, meracuni saudaramu sendiri. Saya yakin ada andil si Lily dalam peristiwa Marry ini."
Kami semua terdiam.
Aku tercengang dengan kalimat terakhir Bapak. Benarkah dalam kejadian kemarin ada keterlibatan Lily?
Tak lama Rossy memberikan catatan kepada Bapak. Terlihat jumlah sumbangan yang disepakati dari masing-masing orang.
Rara: Rp. 0,-
Lily: Rp. 0,-
Anggun: 5 JT
Naura: 15 JT
Nandean : 50 JT
Rossy: 20 JT
Bapak: 100 JT
Melihat List pertama dan kedua, aku ingin tertawa tapi takut dosa.
===
Bersambung ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar