Kamis, 19 Mei 2022

SISTER IN LAW (8)

 Bab 8


Di ruang perawatan Leang, keluargaku berdiskusi. Mereka sepakat bahwa Ayah, ibu, dan kedua kakakku tetap akan memberikan santunan untuk biaya pengobatan Marry.

"Kita dan Pak Regar sudah menjadi satu keluarga, hubungan perbesanan diperkuat dengan kehadiran Leang. Musibah Pak Regar juga musibah kita bersama, apalagi kali ini benar-benar menyangkut Naya dan Leang," kata Ayah.

"Walaupun aku sempat hilang selera untuk membantu karena si Lily itu," gumam Kak Ilham.

Kak Irfan tertawa, "kok bisa ya, to the point seperti itu?" tanyanya.

"Kalau yang mencelakai adiknya itu orang lain, tak dikenal, atau tetangga jauh, mungkin sikap seperti itu wajar-wajar saja, minta pertanggungjawaban," lanjut Kak Irfan 

"Ini kan adik iparnya sendiri lho, keponakannya juga dalam kondisi seperti ini karena ulah siapa, mengapa mereka tak berpikir kesana," timpal Kak Ilham.

"Bisa jadi memang ada unsur kesengajaan supaya kecelakaaan ini terjadi," sambung Kak Irfan.

"Tak baik berprasangka buruk, sudahlah, ini musibah," sela Ibu.

"Bukan berprasangka buruk, ini menduga-duga, Bu," jawab Kak Ilham.

"Kurasa memang sasarannya Naya dan Leang, tapi di luar perkiraan Marry ikut celaka, makanya mereka terus menyudutkan Naya," kata Kak Irfan.

"Aku juga berpikir begitu," ujar kak Ilham.

Aku hanya diam. Aku dalam posisi serba sulit. Satu sisi adalah keluargaku, sisi lainnya adalah keluarga suamiku. Seburuk apa pun mereka memperlakukan aku, ada suami yang harus kuhormati dan kujaga aib keluarganya.

Siang itu Leang terbangun, makan bubur, minum obat, bercanda sebentar, lalu tidur lagi. Dia tidak mau menggunakan Pampers sehingga kakakku bergantian menggendongnya ke kamar mandi.


"Nay, batu permata yang bagus tidak terbentuk di dalam lumpur, tapi didalam bumi. Dihimpit bebatuan, ditempa panas yang tinggi. Sehingga ia kuat, sulit dipecahkan, dan bernilai jual mahal," kata Ayah.

Aku tahu Ayah memperhatikan aku yang sedari tadi hanya diam. Kini aku menghadapkan wajahku pada ayah, sebagai respon bahwa aku mendengarkan kata-katanya.


"Jadi jika kita sering menghadapi kesulitan, dihimpit kesedihan, dipanasi penderitaan, artinya kita sedang dibentuk menjadi manusia yang kuat dan berharga," lanjut ayah.


"Kamu bersyukur bertemu dengan orang-orang seperti iparmu. Dari mereka kamu bisa belajar bahwa disakiti itu sangat tidak nyaman, maka jangan menyakiti orang lain. Kamu juga bisa mempelajari berbagai karakter manusia, bahwa tidak semua orang sama seperti kita, tapi kita harus yakin bahwa orang baik biasanya akan dipertemukan dengan hal-hal dan orang-orang baik." Ayah terus berbicara.


"Dari yang menyakitkan kita belajar bahwa tidak semua hal harus kita dekap erat saat suka dan kita lepaskan saat benci. Sesuatu yang kita benci kadang juga memiliki manfaat, sesuatu yang sangat kita sukai kadang-kadang juga membawa mudharat."

Kami semua diam.

"Ayah bersyukur mendapati bahwa kau pernah dikelilingi mereka yang berperangai buruk, tetapi engkau tak terbawa menjadi buruk. Tapi itu saja belum cukup. Harus diupayakan bahwa mereka yang berperangai buruk bisa berubah karena kebaikan-kebaikan yang kita lakukan."

Kak Irfan memainkan anak kunci ditangannya.

"Yang pasti, tidak ada manusia yang sempurna. Kami mungkin telah bertahun-tahun menahan diri, tetap bersikap baik, namun akhirnya kontrol dirimu terlepas. Pasti kamu pernah merasa bahwa percuma berbuat baik toh mereka tetap berbuat buruk padamu. Tapi kita semua tahu, baik atau buruk perbuatan kita akan kembali ke diri kita sendiri."


Ayah bicara panjang lebar. Suasana hening. Aku terpekur mendengarkan. Air mataku mengalir perlahan.


Aku tahu ayah sedang menegurku dengan cara halus. Aku memang bersalah, aku lepas kontrol hingga membuat Marry dalam keadaan koma hingga kini. 


Meski aku punya alasan, aku memilih diam. Aku tak ingin mendebat orang yang telah mengajariku berbicara.


Kefasihan ayah bicara, kebijakan kata-katanya, ketajaman analisanya, semua terwarisi oleh kami anak-anaknya. Tapi di hadapan ayah, kami tak pernah mendebat. Jika pun harus memberikan argumen maka argumen itu kami sampaikan dengan cara yang sopan dan tidak menyakiti orang tua kami.


"Ayah mestinya mengatakan itu pada kakaknya Nandean," kata Kak Ilham dengan santai.

Ayah tersenyum.

"Yang ada ayah langsung diusir siapa itu namanya? Lily? Ya Lily!" ledek kak Irfan.

Mereka pun tertawa.

Ibu dari tadi hanya diam, tatapannya jauh ke luar jendela.

"Bu," Aku menyentuh tangannya.

Ibu agak terkejut.

"Ibu melamun?" tanyaku.

Ibu menatapku dalam.

"Ibu hanya terpikir anakmu," jawab ibu. Air matanya mulai menetes satu-satu.

"Anak sekecil itu, belum mengerti apa-apa, kenapa harus dibenci oleh mereka? Apa salah anak ini?" Ibu mulai terisak.

"Sudah, Bu. Didoakan saja, semoga Leang cepat sehat kembali, cepat besar, punya adik lagi, bila perlu adiknya yang banyak, biar banyak yang membela dia nanti," kata Kak Ilham.

"Iya, Nay, beri Leang adik yang banyak, laki-laki dan perempuan. Kita pertandingkan nanti dengan mereka," canda Kak Irfan.

Kami semua tersenyum.

"Bagaimana hasil rundingan keluarga Pak Regar tadi?" tanya Ayah padaku.

"Mereka bersepakat mengumpulkan sumbangan dari tiap anggota keluarga," jawabku.

Ayah mengangguk-angguk.

"Sudah ada gambaran belum, berapa yang kira-kira bisa terkumpul?" tanya Ayah lagi.

"Seratus sembilan puluh juta," jawabku.

"Siapa yang terbanyak?" tanya Kak Irfan sambil mengulum senyum.

"Bapak, 100 juta," jawabku.

"Bapak Leang?" tanya Kak Ilham.

"Limapuluh juta," jawabku.

"Kita tetap memberi limapuluh ya?" tanya ayah pada kedua kakakku.

Keduanya mengiyakan.

"Nay, istirahat lah! Biar kami yang jaga Leang siang ini," ucap Kak Irfan.

Aku pun menyempatkan mataku untuk terpejam, meski tak lelap.

Setelah sholat ashar keluargaku beranjak menemui keluarga mertuaku. 

Aku menyeka wajah dan tubuh Leang yang terbuka dengan air hangat, ia masih tertidur. Kuusap kulit halusnya perlahan-lahan. Kuciumi tangannya. Ia menggeliat lalu sedikit meringis, mungkin merasakan sakit akibat gerakannya. Matanya mengerjap, tersenyum melihatku. Pandangannya mengitari ruangan.

"Mana Pakde?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir kecilnya.

"Pakde sedang menemani Kakek, menemui Opa," jawabku. 

Ia diam.

"Leang mau minum?" Aku menawarinya.

"Minum jus boleh, Bu?" tanyanya. 

Aku mengambilkan jus jambu kesukaannya. Matanya berbinar. 

Nandean memasuki kamar, "eh, anak Bapak sudah bangun?" sapanya pada Leang.

Leang mengangguk, "Bapak mau minum?" 

"Bapak mau minum air putih, jus nya untuk Leang saja supaya Leang cepat sehat lagi, tumbuh besar dan kuat," jawab Nandean.

Leang tertawa.

Rossy datang ke kamar,

"Kak, biar aku yang jaga Leang. Kakak dan Abang dipanggil Bapak di lobby," katanya.

"Ada apa?" tanya Nandean.

"Mungkin ada yang mau dibicarakan. Kakeknya Leang juga ada disana," jawab Rossy.

"Leang sama Tante Rossy ya, Bapak dan Ibu mau temui Opa dan Kakek dulu," ucapku pada Leang. Ia mengangguk.

Aku dan Nandean beranjak keluar.

"Titip Leang ya, Sy," pamitku.

Rossy mengangguk dan tersenyum.


Dari dulu sebenarnya dia lah yang paling baik padaku, cuma sering jadi sasaran kemarahan kakak-kakaknya. Sehingga akhirnya Rossy banyak menjaga jarak dengan kami.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...