Kamis, 19 Mei 2022

SISTER IN LAW (9)

Bab 9


Kami ke lobby, suasana agak ramai. Nandean menemui security meminta bantuan untuk meminjam salah satu ruang untuk pertemuan keluarga. Tapi tidak ada. Security menyarankan di teras musholla yang kebetulan memang agak sepi.

Kami mengatur posisi duduk masing-masing, posisi ini selalu dilakukan saat rapat keluarga di rumah mertuaku. Bapak dan Mama mengambil posisi di tengah, Nandean disamping Bapak, Aku di sebelah mama. Lalu yang lain berurutan dari Rara hingga Rossy disamping Nandean.

Ayah, ibu dan kedua kakakku mengambil posisi berhadapan dengan kami.


Ayah membuka pembicaraan.

"Pak Regar dan keluarga seluruhnya, sore ini kami hendak pamit pulang duluan, mudah-mudahan besok masih bisa datang kesini untuk menjenguk cucu kita Leang. Kami kembali menitipkan mereka kepada Bapak dan keluarga, mohon diperhatikan perkembangan kondisinya, kalau ada hal-hal yang penting tolong segera hubungi kami.

Kami juga ingin menyampaikan bahwa kami memiliki niat baik memberikan bantuan biaya perawatan Marry kepada Pak Regar. Mohon untuk diterima. Bantuan ini bukan karena penyebab musibah ini adalah Naya, tetapi atas dasar bahwa kita adalah keluarga. Jadi jangan disalahartikan. Kami benar-benar membantu Pak Regar sebagai keluarga, dan nyatanya memang kita terikat hubungan bahwa kita punya satu cucu yang sama.

Meskipun jumlahnya tidak banyak, pak. Tapi kami berharap bantuan ini dapat bermanfaat dan bisa meringankan biaya pengobatan Marry yang harus ditanggung Pak Regar sekeluarga."

Bapak menyambut ucapan ayah dengan senyum.

"Pak Ikram, kita ini benar-benar keluarga. Ibarat sebuah tungku, Pak Ikram adalah salah satu batu atau kaki dari tiga kaki tungku saya. Jadi kedudukan Pak Ikram dan keluarga sangat penting dalam keluarga saya.

Mengenai bantuan dari keluarga Bapak, saya mengucapkan terimakasih banyak, dan sama sekali tidak ada pandangan saya bahwa bantuan itu adalah bentuk kompensasi dari musibah yang dialami anak kami.

Naya ini menantu kami, pak. Dari rahimnya lahir generasi penerus klan kami. Jadi Bapak tidak perlu mengkhawatirkan kasih sayang kami kepada Naya.

Meskipun saya juga mohon maaf karena ternyata kami tak bisa menjaga Naya dari perlakuan buruk anak-anak kami."

Bapak terisak-isak.

Kami semua diam dalam keharuan.

Dua pasang orangtua kami sedang bersinergi membangun kekuatan yang sebenarnya dalam hubungan kekerabatan. Mestinya hal ini menjadi contoh bagi anak-anaknya.


"Mama, ada yang mau disampaikan?" Tanya Bapak kepada Mama setelah Isaknya reda.

"Kami dan anak-anak kami mengucapkan terimakasih atas perhatian besan kami, semoga bermanfaat dan Allah membalas dengan rezeki yang berlipat-lipat kepada besan sekeluarga.

Soal Naya, terus terang saja, kami menyayangi Naya seperti anak sendiri bahkan mungkin lebih, sehingga menimbulkan kecemburuan anak kami yang lain.

Jadi mohon maaf Bapak dan Ibu Ikram, kalau ada kekeliruan kami dalam menjaga Naya selama menjadi menantu kami."

Suara mama pelan namun cukup jelas.

"Yang lain dari Anggun, Naura, Lily, Rara, masih ada yang mau disampaikan?" Tawar Bapak.

"Terimakasih Banyak kepada Pak Ikram dan keluarga, atas nama pribadi saya mohon maaf kalau ada kesalahan saya dalam memperlakukan Ibunya Leang," ucap Anggun.

"Saya juga mengucapkan terimakasih, pak, Bu, dan Om-nya Leang. Juga mohon maaf kalau saya belum bisa sepenuhnya menjaga Naya yang telah menjadi bagian dari keluarga besar kami," kata Naura.

"Saya mengucapkan terimakasih, tapi saya ingin bertanya apakah jumlah bantuan itu seimbang dengan kesakitan yang sekarang sedang dirasakan Marry? Dia sedang berjuang antara hidup dan mati, sedangkan yang menganiaya bebas kesana-kemari," ujar Lily.

"Hhmmmm..." Nandean berdehem.

Kulihat kak Irfan dan kak Ilham menahan senyum.

"Iya, memang berapa sih sumbangannya, pak?" Tanya Rara.

"Ra, kuperingatkan kau. Kalau tak bisa kau jaga sopan santunmu, jangan pernah lagi kau ikut pertemuan semacam ini," kata Bapak.


Ayah tertawa.

"Tidak apa-apa, Pak Regar. Tidak salah jika mereka ingin tahu," jawab Ayah.

"Mohon maaf, saya minta izin bicara," sela Kak Ilham.

"Tadi kak Lily mempertanyakan apakah sumbangan kami seimbang dengan kesakitan Kak Marry, kami jawab, pak, Bu, dan kakak-kakak semua. 

Sumbangan kami sangat kecil dan tak ada artinya dibandingkan dengan kesehatan Kak Marry, tapi kami berusaha mengulurkan tali kasih kami kepada Kak Marry, untuk memperkuat hubungan keluarga dengan Bapak dan Bu Regar serta keluarga.

Kalau sakit yang terlihat, bisa ditangani dokter, bisa diupayakan kesembuhannya, artinya sakit itu memiliki jalan dan kemungkinan untuk sembuh.

Lalu bagaimana dengan sakit yang tidak terlihat, seperti yang dialami adik perempuan kami? Bertahun-tahun dirundung, dimaki-maki, bisakah kita menjamin bahwa hati dan jiwanya tidak sakit? Di luar dia terlihat baik-baik saja, apakah kita yakin bahwa hatinya tidak terluka, jiwanya tidak hancur?

Kejadian kemarin antara Naya dan Kak Marry adalah sebuah indikasi adanya kesakitan yang ditumpuk dan disimpan terlalu lama dalam jiwa adik kami, sehingga dia lepas kendali dan melakukan kekerasan yang bahkan kami pun tak pernah membayangkan bahwa hal itu bisa dilakukan adik kami.

Kalau kak Marry sekarang sedang berjuang antara hidup dan mati, maka kami pun bisa katakan Naya sedang berjuang antara waras dan tidak waras.

Seharian kami disini, ada beberapa gelagat tidak menyenangkan yang kami lihat. Cibiran, lirikan tajam, kata penuh sindiran, bahasa tubuh penuh kebencian, yang kami tahu itu tertuju pada adik kami. Itu baru sehari, bagaimana dengan yang empat tahun?

Ditambah lagi ungkapan bahwa keluarga Naya harus bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang menimpa Kak Marry.

Baiklah. Jika kami menyanggupi hal ini, apakah hal yang sama juga berlaku untuk Naya, yang sudah menunjukkan gejala gangguan kejiwaan karena tertekan dan tersiksa bertahun-tahun?" Kak Ilham bicara panjang lebar.

"Mohon maaf, Pak Regar, ini sekedar bahan pemikiran kita bersama, mengingat niat baik kami dipertanyakan oleh kak Lily," lanjut Kak Ilham.


"Kau dengar itu, Rara, Lily? Betapa tak pantasnya hal itu kalian pertanyakan," kata Bapak dengan wajah merah padam.

"Kami mohon maaf atas segala kekeliruan dan hal-hal yang kurang berkenan dari keluarga kami, Pak Ikram. Terimakasih banyak sudah mengingatkan, bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting yang tidak bisa dinilai dengan uang," sambung Bapak.

"Sama-sama, pak. Inilah fungsinya keluarga, saling mengingatkan. Kami mohon pamit, untuk bantuannya akan kami kirim ke rekening Naya agar dapat segera diserahkan kepada Bapak. Jumlahnya 50 juta," kata Ayah.

"Nah, kalau begitu kan jelas. Biar transparan. Ya Nggak, Nay?" Kata Rara.

Naura langsung menyikutnya, 

"Apa sih, Ra?" 

Sementara mata Bang Ishaq melotot pada istrinya.


Ayah, ibu, kak Ilham dan kak Irfan pun pamit pulang.

Mereka memelukku hangat dan erat.

"Tenang, Nay. Kami selalu di belakangmu untuk menguatkan dan mendukungmu," bisik Kak Irfan.

Terimakasih, Tuhan. Kau berikan aku cinta berkelimpahan.

Pasti akan ada cerita baru tentang ipar-iparku setelah pertemuan sore ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...