Kamis, 19 Mei 2022

SISTER IN LAW (10)

Bab 10


Menjelang Maghrib kondisi Leang kembali mengkhawatirkan. Demam tinggi. Berkali-kali infus lepas dan pindah tempat.

"Ibu, kepala Eang sakit," rintihnya

"Sabar ya, nak. Nanti setelah minum obat sembuh," bujukku sambil mengusap kepala dan mencium pipinya.

"Leang berdoa kepada Allah, minta disembuhkan ya," hiburku.

"Ibu juga doakan Eang, kita berdoa sama-sama," pintanya.

"Iya, sayang. Ayolah kita berdoa," ajakku.

"Ya Allah, Yang Maha Penyayang, segala puji adalah milikMu, hanya kepadaMu kami mohon pengampunan atas segala khilaf dan kesalahan. Kami hadapkan wajah dan hati kami, untuk memohon kemurahanMu agar meringankan sakit kami dan menyegerakan kesembuhan bagi kami. Ya, Robbana, limpahkanlah bagi kami segala kebaikan dari sisiMu. Aamiin."

Leang mengikuti setiap kata yang kuucapkan.

Mata beningnya menatapku, lengkung bibirnya membentuk senyum.

"Ibu, kalau bicara pada Allah kita harus baik-baik ya?" Tanyanya.

"Bicara pada siapa pun harus baik-baik, nak. Karena semua yang ada di dunia ini ciptaan Allah. Jadi kita harus baik-baik pada mereka, agar Allah suka dan baik juga kepada kita," jawabku sambil mengelus tangannya.

"Eang suka bicara baik-baik sama kucing, seperti ibu bicara baik-baik pada bunga," katanya.

Aku tersenyum.

Anakku sedang berada dalam fase golden age, kami harus bisa menanamkan kebaikan padanya.

"Ibu sholat dulu ya, sayang," ucapku

"Kalau sedang sakit, boleh tidak sholat ya, Bu?" Tanyanya polos. 

Aku baru ingat, sejak Leang sadar dan ditempatkan di kamar ini aku tidak mengajaknya sholat saat Dzuhur dan ashar tadi.

"Harus tetap sholat, nak. Tapi boleh dilakukan sambil duduk atau berbaring," jawabku.

"Ibu sholat dekat Eang saja, biar Eang ikuti sambil rebahan," katanya.

Aku tersenyum. Tak terasa air mataku mengalir. Terharu.

"Bapak juga sholat disini saja ah, biar bareng sama ibu dan Leang," kata suamiku.

Leang tersenyum riang.

Kami sholat berjamaah dengan Leang yang tetap berbaring di tempat tidur.

Tak dapat kutahan tangis saat suamiku membaca surat Al-Insyirah setelah Alfatihah.

"Bukankah telah kami lapangkan dadamu, dan menurunkan beban yang memberati punggungmu, dan kami tinggikan sebutan namamu, maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila telah selesai suatu urusan kerjakanlah urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmu engkau berharap."

Kami menyelesaikan tiga rakaat dengan khusyuk, larut dalam bacaan-bacaan kami, bersungguh-sungguh dalam setiap kalimat yang kami lafadzkan. 

Betapa kami hanya sebutir debu di semesta yang luas ini, tak ada daya dan kekuatan kami kecuali dengan izin Allah. Maha suci Allah dari segala persekutuan, hanya kepadaNya kami menyembah dan memohon pertolongan.

Aku mencium punggung tangan suamiku seusai sholat, aku berharap Allah mengizinkan lelaki ini menemani dan membimbingku dalam setiap langkah kami menyusuri perjalanan hidup. Menangis dan tertawa bersama melalui suka dan duka, dalam senang dan sedih, saat sehat dan sakit.

###

Rossy berkunjung ke kamar saat Maghrib usai.

"Kak, kalau kakak mau istirahat, biar aku yang jaga Leang," katanya.

Aku tersenyum.

"Siapa yang jaga Marry malam ini?" Tanya suamiku pada Rossy.

"Kak Anggun dan Kak Naura," jawabnya.

"Bapak dan Mama nanti mau pulang dulu, istirahat," lanjut Rossy.

"Rara dan Lily pulang juga?" Tanya suamiku.

"Kak Rara diajak Bang Ishaq pulang, Dzaki rewel katanya. Lily hipertensinya kambuh," urai Rossy.

"Bang Ishaq tampaknya marah." Rossy bergumam.

"Kenapa?" Tanya Nandean.

"Katanya karena kak Lily nyuruh kak Rara minta biaya rumah sakit pada ayahnya kak Naya, kak Lily juga marah pada kak Rara karena menceritakan dalam pertemuan tadi sore," jawab Rossy.

Kami tersenyum, ada-ada saja mereka ini.

"Kalian sudah makan belum?" Tanya suamiku.

"Belum. Kakak dan Abang juga belum kan? Nanti sekalian aku pesan," jawab Rossy.

"Tidak. Biar aku saja yang beli, sekalian keluar nanti," kata suamiku.

Suamiku beranjak keluar kamar.

Rossy duduk di sisi pembaringan, tangannya mengelus pipi Leang perlahan. Selama ini jarang sekali dia melakukan kontak fisik dengan anakku.

"Kak, maaf ya atas kelakuan kakak-kakak kami." Tiba-tiba Rossy bersuara.

Aku tersenyum, "tidak apa-apa."

"Kak, bisa tidak kakak memaafkan kak Marry?" Tanyanya.

Aku tertegun.

"Berat ya, kak?" Tanyanya lagi.

"Kak, kalau aku ceritakan satu hal, maukah kakak memaafkan kak Marry?" Tanya Rossy lagi, kali ini air matanya berlinang.

"Kenapa?" Tanyaku.

"Sebetulnya apa pun yang dilakukan Marry kepada kakak, itu adalah perintah Lily," kata Rossy.

Aku tercengang.

Kutatap wajah Rossy, aku tak menemukan kebohongan disana. Wajah Rossy adalah wajah tulus Mama, hanya ia lebih pendiam.

"Waktu Abang bilang akan menikah, Lily mengamuk, dia tak terima, tak mau dilangkahi oleh Abang. Dia bilang, dia sudah dilangkahi oleh Naura dia bisa terima karena Naura perempuan, tapi kalau dilangkahi adik lelaki sampai mati pun dia tidak terima. Dalam persepsi Lily, dilangkahi menikah oleh adik lelaki berarti menutup jodohnya. Tetapi waktu itu Bapak tetap menikahkan Abang dengan kakak, karena umur Abang juga sudah tigapuluh. Kata Bapak, kasihan kalau Abang terlalu tua menikah, nanti saat anaknya butuh biaya banyak malah Abang sudah terlalu tua untuk cari uang.

Lily memprovokasi Anggun dan Marry untuk melawan Bapak, tapi mereka tidak berani. Makanya kemudian kak Naya yang dijadikan sasaran. Lily sering bilang pada kami bahwa Bapak akan mewariskan semua miliknya kepada Abang, kami tidak akan mendapatkan apa-apa, justru nanti istrinya abanglah yang dapat semuanya, makanya kami harus mencari cara agar kak Naya tidak betah bahkan bercerai dari Abang."

Astaghfirullah... Aku beristighfar.

"Lily selalu memperingatkan kami terutama Marry, jangan sampai Kak Naya berkuasa di rumah. Itu sebabnya mereka sengaja membuat kakak mengerjakan semua pekerjaan rumah, terutama saat Mama tidak ada. Bapak pernah menegur kami karena hal itu, tapi Lily menjawab tidak ada yang harus dijadikan 'bos' di rumah ini.

Kami pernah ditegur tamu-tamu Bapak dan Mama saat mereka datang dan kakak yang menyediakan minum, saat tamu pulang Bapak mengomeli kami. Lily semakin benci pada kakak. Itu sebabnya setiap ada tamu bapak dan mama aku buru-buru melayani, menyiapkan dan menyuguhkan minum dan makanan. Aku tak mau ribut-ribut. Walaupun hasilnya aku juga yang dimarahi Lily dan Marry," lanjut Rossy.

Aku kehilangan kata.

"Marry itu bodoh, kak. Dia lah yang paling bisa diatur dan dimanfaatkan Lily. Semua yang dia lakukan pada kakak, memaki, marah, bahkan sampai kekerasan fisik, itu atas suruhan Lily.

Saat Bapak marah, dia bilang: aku kan sudah bilang aku gak terima dilangkahi jadi aku gak terima perempuan itu jadi iparku dan tinggal disini.

Kami pun selalu diancam untuk tidak menikah sebelum dia sendiri menikah. Bapak pernah memintanya membawa calon suami ke rumah, tapi dia tidak merespon. Bapak bilang, kalau kau minta nikah sekarang pun aku nikahkan sekarang juga.

Dia selalu bilang berulang-ulang bahwa dia tak ikhlas melihat Abang membawa istrinya tinggal di rumah. Apalagi melihat Bapak dan Mama sayang pada Kakak, dia semakin benci. Puncaknya setelah Leang lahir. Dia semakin merasa terancam. Sebab Bapak bilang, yang berhak tinggal di rumah bapak adalah anak, cucu, cicit lelaki.

Itu sebabnya Marry disuruh berlaku jahat juga pada Leang. Bahkan sampai Abang dan kakak pindah, kami masih diprovokasi walaupun tidak se-intens saat kakak dan Abang masih tinggal di rumah."

Aku benar-benar terperangah.

"Saat kakak dan Abang membeli rumah tahun lalu, sepertinya dia agak lega. Mungkin dia pikir posisinya akan tetap aman. Tapi tiap kali kakak dan Leang tidak berkunjung ke rumah, bapak selalu bertanya-tanya: kemana lah cucuku ini, apa sudah tidak mau ke rumah kakeknya, kenapa dia jarang dibawa kesini, padahal disinilah rumahnya nanti. Lily pun panas lagi. Makanya dia cari cara menyingkirkan Leang. Dan yang bisa diperalat selama ini cuma Marry. "

Aku bingung harus berkata apa. Aku bingung untuk percaya atau tidak. Kenapa ini seperti cerita dalam sinetron?

"Aku sendiri selalu diingatkan oleh kak Naura dan kak Anggun untuk tidak ikut-ikutan. Itu sebabnya aku hanya diam. Bahkan untuk memperingatkan kak Naya pun aku takut. Tapi sekarang sudah mengancam nyawa, aku tak bisa terus-terusan diam."

Rossy menangis. Air matanya tumpah.

Aku memandangi tubuh kecilnya. Terbayang betapa sesak dadanya menyimpan begitu banyak rahasia, betapa kuat jiwanya menjadi tabir kakak-kakaknya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...