Kamis, 19 Mei 2022

SISTER IN LAW (11)

 Bab 11


Hingga Nandean datang, Rossy masih menangis.

"Kenapa?" bisik Nandean kepadaku.

Aku menggeleng, tak mampu bersuara. Tenggorokanku seperti tercekat.

Aku menghampiri Rossy yang tertelungkup di samping Leang. Mengusap-usap punggungnya. Bahkan aku saja terperanjat mendengar ceritanya, apalagi dia yang mendengar langsung dan mengetahui fakta tentang kejahatan kakaknya. 

"Bapak sama Mama mau kesini katanya," ujar Nandean memecah kebisuan.

Aku membereskan makanan yang tadi dibawa Nandean. 

"Kok banyak amat ini?" Tanyaku.

"Bapak dan Mama mau makan bareng disini," jawab Nandean.

Rossy bangkit mengusap matanya, kemudian ke kamar mandi. Gemercik suara air terdengar, tampaknya ia mencuci muka.

Tak lama ada suara salam dan ketukan di pintu kamar. Aku gegas membukanya, tampak wajah Bapak dan Mama yang terlihat letih.

"Bagaimana si Leang?" Tanya Bapak

"Sedang tidur, pak. Tadi demam tinggi, tapi sudah mulai agak turun," jawabku.

"Apa yang dirasa katanya?" Tanya Bapak lagi.

"Kepalanya sakit," ujarku.

"Sudah bisa bilang dia apa sakitnya, pintar anak ini," kata Bapak sambil tersenyum.

Aku menyiapkan makan.

Rossy keluar dari kamar mandi, mengisi baskom kecil yang ada di washtafel dengan air dan membawanya ke tempat aku meletakkan makanan.

"Biasanya Bapak makan pakai tangan, jadi perlu tempat cuci tangan," katanya.

Bapak memandang ke arah Rossy. Pasti beliau melihat wajah sembab anaknya. Tapi diam saja.

"Ayo, Pak, Ma, makan," ajakku.

"Kami malam ini pulang dulu, biar istirahat mamamu di rumah, dari kemarin belum tidur. Sama seperti Naya, belum sempat tidurnya kurasa," kata Bapak sambil makan.

"Rossy disini dulu ya, nak. Gantian jaga Leang biar kakakmu bisa tidur dulu," Kata Mama.

"Iya, ma. Aku juga sudah bilang tadi sama Ibunya Leang," jawab Rossy.

"Kalau ada yang marah karena kau disini, bilang sama saya," kata Bapak.

Masih terlihat kegusaran di raut wajahnya.

"Saya bilang sama si Ishaq, bawa istrimu pulang, suruh atur rumah tangganya, jangan ngatur rumah tangga orang lain! Sudah tujuh anaknya masih bikin malu orangtua," cerita Bapak.

"Tak ada jawaban Bapak si Sultan?" Tanya Mama.

"Macam mana dia mau jawab, tak ada haknya menjawab saya," kata Bapak.

"Sama seperti Bapak si Leang ini, tak ada hak nya menjawab kalau Pak Ikram marah," lanjut Bapak.

"Katanya Lily sakit, pak?" Tanya suamiku.

"Sakit jiwa," gerutu Bapak.

Aku dan Mama tertawa.

"Merongrong, tak bisa lihat orang lain senang," lanjut Bapak.

"Katanya Hipertensi ya, Ma?" tanyaku pada Mama.

"Sudah mau tujuh tahun hipertensi," jawab Mama.

"Macam mana tak darah tinggi, manas-manasi orang lain saja kerjanya, hatinya sendiri yang jadi lebih panas. Pikirannya tak bisa tenang, selalu cari kesalahan orang," sahut Bapak.

"Siang malam kudoakan cepatlah menikah orang-orang ini. Biar berubah kelakuannya. Biar tahu rasanya punya suami, punya anak." Bapak terus bicara.

"Tapi itu mamak si Sultan masih begitu," sela Mama.

"Ah, dasar tak ada otaknya orang itu. Anaknya sakit ngemis-ngemis dia sama saya minta uang berobat, entah kemana semua gajinya suami istri. Jangankan mau ngasih orangtuanya, untuk anak sendiri pun tak ada dia biaya. Anak saya sakit disuruhnya saya minta biaya sama besan saya. Dasar sinting! Udang saja masih ada otaknya kurasa," Omel Bapak.

"Berapa katanya si Rara sama si Lily mau nyumbang, Rossy?" Bapak bertanya pada Rossy.

"Masih seperti yang ada dalam catatanku itu lah, pak," jawab Rossy.

"Nol," gerutu Bapak.

"Entah kemana hasil kerjanya selama ini, tak ada yang kelihatan."

"Kalau kita lahir miskin, itu bukan salah kita. Tapi kalau kita mati masih dalam keadaan miskin, ada yang salah sama hidup kita. Bukan miskinnya yang salah, tapi kenapa kita jadi miskin itu yang salah. Sebab Tuhan itu menciptakan siang dan malam, laki-laki dan perempuan, kecukupan dan kekayaan. Tak ada kemiskinan."

"Jadi kita pulang, pak?" Tanya Mama.

Tak terasa makan malam sudah selesai dari tadi.

"Ayolah," ajak Bapak.

"Kami pulang dulu, hubungi kami kalau ada yang penting bagaimana perkembangan si Leang. Jangan berhenti berdoa pada Tuhan untuk kesembuhan anakmu." Bapak berpesan sambil berpamitan.

"Iya, pak. Semoga kondisinya terus membaik," jawabku.

"Kau pantau-pantaulah si Naura dan Anggun, cari kabar si Marry," kata Bapak kepada Nandean.

"Iya, pak," jawab suamiku.

Mama memelukku.

"Sabar ya, Nay. Titip cucu Mama," katanya.

Aku mengiyakan.

Nandean pergi mengantar Bapak dan Mama pulang.


"Sy, aku tidur dulu ya," kataku pada Rossy setelah kupastikan suhu tubuh Leang sudah mendekati normal.

"Iya, kak," jawabnya.

Aku pun tertidur.

Entah berapa lama. Saat aku mendengar percakapan Rossy dan Nandean. Dua orang kakak beradik ini jarang sekali komunikasi dua arah. Tapi malam ini mereka bercakap-cakap. Sebagian besar isi percakapannya tentang apa yang sudah disampaikan Rossy padaku.

Alarmku belum berbunyi, berarti belum waktunya untuk sholat malam. Aku memutuskan tidur lagi.

#

Aku berdiri di bawah sebuah pohon mangga yang besar dan berbuah lebat. Buah-buahnya yang matang jatuh berserakan di sekeliling pohon. Kupungut buah-buah yang jatuh dan kumasukkan dalam sebuah keranjang besar hingga keranjangku hampir penuh.

Lily dan Marry datang mendekat, mereka memetik buah yang masih tergantung di pohon.

"Kak, tidak boleh mengambil yang masih di pohon. Ambil yang sudah jatuh saja!" Aku mengingatkan.

Lily menatapku marah. Dia pergi dan kembali lagi membawa sebuah golok panjang. Disuruhnya Marry memotong dahan pohon.

"Biar dapat banyak buahnya," katanya kepada Marry.

Aku tak bisa mencegah mereka, karena pohon ini pun bukan milikku.

Susah payah Marry memotong dahan sementara Lily hanya berteriak-teriak mengatur begini dan begitu, bahkan sesekali marah jika Marry tak bisa menjangkau dahan pohon.

Tiba-tiba dahan pohon patah, jatuh menimpa Marry. Aku berteriak mengingatkan, tapi terlambat. Marry jatuh rebah tertimpa dahan pohon yang besar dan lebat.

Aku mendekat, memeriksa keadaannya. Lily berteriak-teriak memanggil orang-orang dan mengatakan aku lah yang telah mencelakakan Marry. Aku diam saja dan terus berusaha menyingkirkan dahan dan daun yang menutupi tubuh Marry.

Tiba-tiba seekor ular besar bergerak dari balik dahan dan mengejar Lily. Dia berteriak minta tolong, tetapi orang-orang hanya diam. Lily berlari jatuh bangun hingga tiba di tepi sebuah jurang, ular terus mengejar, kali ini seekor anjing pun ikut mengejar. Tak ada tempat bagi Lily untuk berlari. Ia memanjat sebuah batu, namun batu itu lepas dan masuk ke dalam jurang. Aku berteriak ngeri seiring dengan teriakan Lily.

#

"Kak, kak, " tubuhku terasa diguncang, pipiku ditepuk-tepuk.

Astaghfirullah... Ternyata aku mimpi.

Aku mengusap wajahku sambil terus beristighfar.

"Mimpi apa, kak?" Tanya Rossy

Aku tak menjawab.

Kulihat Nandean tidak ada.

"Bapak Leang kemana, Sy?" Tanyaku.

"Barusan keluar, menemui Kak Naura dan Kak Anggun," jawabnya.

Aku bangkit menuju kamar mandi. Sekalian berwudhu dan bersiap sholat malam. 

Kuraba dahi putraku, normal. Tampak ia tidur dengan tenang. Nafasnya teratur. Kucium pipinya sekilas.

Kembali aku menghadapkan wajah dan hatiku, menengadahkan kedua belah tangan, mengetuk pintu langit dengan doa-doa. Merayu Tuhan agar mendengar permohonan-permohonanku. Meminta pertolonganNya untuk menyelesaikan urusan-urusanku.

Terdengar langkah tergesa di lorong. Pintu kamar kami dibuka dari luar. Nandean.

"Marry tadi sadar sebentar," katanya.

"Alhamdulillah..." ucapku dan Rossy berbarengan.

Rossy memandangku yang masih menggunakan mukena.

"Terimakasih, kak," katanya lirih.

Ia pun ke kamar mandi, berwudhu, lalu sholat dua raka'at.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...