Kamis, 19 Mei 2022

SISTER IN LAW (12)

 Bab 12



Menjelang subuh Leang terbangun.

"Ibu..." Gumamnya.

"Ya, sayang," sahutku sambil menciumnya.

Malaikat kecilku tersenyum.

"Mau minum," pintanya.

Aku mengambilkan minum.

"Aku buatin susu ya, kak," tawar Rossy.

"Sayangnya ibu mau minum susu gak?" Tanyaku pada Leang.

"Mau.." jawabnya.

Rossy bergegas membuat susu.

Leang memandanginya. Ia tak kenal akrab dengan Rossy. Setiap kali kami berkunjung ke rumah Bapak dan Mama, Rossy tidak di rumah. Kami hanya bertemu saat kunjungan hari raya. Itu pun hanya selintas saja. Rossy tipe pendiam dan tak suka ngobrol.

"Disuapi Tante ya? " Tawar Rossy kepada Leang.

Leang mengangguk.

Adzan subuh terdengar dari musholla dan masjid di sekitar rumah sakit. Aku membangunkan Nandean yang baru beberapa menit tertidur. Ia segera bangkit menuju musholla, setelah menyapa Leang sebentar.

Kudengar Rossy mengajak Leang bercakap-cakap dan mencandainya sambil menyuapkan sesendok demi sesendok susu.

Aku larut dalam perbincangan ku dengan Tuhan.

Segelas susu telah dihabiskan Leang. 

Rossy beranjak sholat subuh.

Aku duduk di sisi pembaringan. Kugenggam tangan Leang, kucium pipinya.

"Cepat sembuh ya, nak," bisikku.

Menurut dokter jaga tadi malam tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi Leang. Perkembangan kesehatan nya meningkat pesat. Bahkan dugaan retakan di tangan dan kakinya ditengarai tidak ada, hanya sedikit memar dan kaku otot yang tidak terlalu serius.

"Ibu, apakah kain-kain ini boleh dilepas?" Tanyanya menunjuk perban yang masih melilit bagian kepala, kaki, dan tangan.

"Nanti kita tanya dokter ya, nak," jawabku sambil tersenyum.

'Kepala Leang masih sakit?" Tanyaku.

Leang menggeleng.

Nandean datang membawakan sarapan.

"Abang dari kemarin membawakan sarapan untuk mereka, jangankan bilang terimakasih, menegur saja tidak," kata Rossy.

"Itu kan kakak-kakakmu," Jawab Nandean sambil tertawa.

Rossy tersenyum datar.

"Tapi tadi Anggun bilang: Terimakasih, Bapak Leang," Kata Nandean.

"Tapi Abang langsung pergi?" Tanya Rossy.

"Ya mau ngapain?" Nandean balik bertanya.

Aku mendengarkan percakapan mereka sambil tersenyum. Mereka ini aneh sekali. Selama aku menjadi menantu di keluarga ini jarang kulihat mereka berbincang akrab antar kakak beradik bersama-sama. Mereka hanya berkumpul saat Bapak memanggil untuk merapatkan sesuatu yang suasananya selalu formal cenderung tegang.

"Kak, aku mau ke lobby IDM dulu ya. Siapa tahu ada kabar terbaru tentang Kak Marry,"pamit Rossy usai sarapan.

"Leang, Tante keluar dulu ya. Nanti siang kita nonton kartoon sama-sama," janjinya pada Leang.

Leang tampak tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Hati-hati ya, Tante!" serunya, membuat kami tertawa.

Belum lama Rossy keluar, Anggun datang.

"Hai, Leang!" Sapanya.

"Sudah bisa ketawa ya sekarang?" Ujarnya ramah.

Leang tersenyum dan mengangguk.

"Mau minta dibelikan apa kalau sembuh?" Tanyanya

"Pesawat," Jawab Leang.

Anggun tertawa.

"Uang Tante belum cukup kalau untuk beli pesawat," Jawabnya.

"Beli tiketnya saja, seperti Pakde," Kata Leang sambil tertawa.

Tawa Anggun berderai. 

Baru kali ini aku melihatnya tertawa bebas pada anakku.

"Sudah bisa tidur, Nay?" Tanyanya padaku.

Anggun juga termasuk jarang sekali mengajak bicara padaku.

"Sudah, kak," Jawabku.

"Tadi malam Marry sempat sadar sekitar 15 menit," Katanya.

"Syukurlah.." tanggapku.

"Nay, kalau misalnya nanti Lily melaporkan kasus ini ke polisi, kamu jangan takut. Laporkan juga tentang perbuatan tidak menyenangkan yang sudah mereka lakukan pada kamu," Kata Anggun.

"Memang dia mau laporan katanya, Gun?" Tanya Nandean.

"Dia bilang sih begitu," Jawab Anggun.

"Bilang sama dia, aku mau buat laporan bahwa mereka melakukan percobaan pembunuhan berencana, Naya juga buat laporan tentang perbuatan tidak menyenangkan," Kata Nandean.

"Sampaikan juga padanya, tidak perlu mengancam-ancam kami. Kami tidak takut. Aku pastikan dia yang akan berlutut minta maaf padaku nanti," lanjut Nandean.

Anggun terdiam.

"Kupikir setelah kami mengalah pergi dan keluar dari rumah itu, dia mau berubah. Ternyata semakin parah," gerutu Nandean.

"Aku bisa saja berkeras tetap tinggal disana, siap perang menghadapi mereka, tapi aku memikirkan anak dan istriku. Tak mungkin aku membiarkan mereka dirundung setiap hari. Bisa gila istri dan anakku nanti," sambungnya.

Aku mengajak Leang bercakap-cakap, mengalihkan perhatiannya dari perbincangan Anggun dan Nandean.

"Assalamualaikum.." terdengar ucapan salam dan ketukan di pintu kamar. 

Lalu pintu terbuka, menampilkan wajah Naura.

"Nay..." Sapanya.

Aku tersenyum.

Dia menghampiri Leang.

"Apa kabar, Leang? Sudah mau sembuh yaaa?" Tanya Naura.

"Iya, Eang mau cepat sembuh. Mau naik pesawat," jawab Leang tersenyum.

"Tante boleh ikut?" Tanya Naura.

"Boleh, tapi bayar." 

"Berapa bayarnya?"

"Berjuta-juta."

"Kalau tak ada uang?"

"Minta saja pada Pakde."

Kami semua tertawa mendengar percakapan Leang dan Naura.

"Rossy sendirian disana?" Tanya Nandean.

"Ada Rara baru datang." Jawab Naura.

"Tadi dia cerita, Bang Ishaq marah-marah katanya di rumah. Tapi aku malas mendengarkan makanya aku kesini sekalian lihat Leang," jawab Naura.

"Dia pagi-pagi kesini terus anaknya sama siapa?" Tanya Nandean.

"Dibawa ke rumah mama katanya." Kata Naura.

"Ya Allah..." Anggun bergumam lirih.

"Makanya tadi kutelpon Bapak, kubilang agar Bapak dan Mama segera kesini. Biar Lily saja yang jaga anaknya Rara di rumah," kata Naura lagi.

Anggun tertawa.

"Kalau gitu aku pulang ganti baju saja, langsung berangkat ke kantor," ujarnya.

"Iya, Gun. Kalau Rara masih mau disini biar nanti aku juga pulang dulu," kata Naura.

Aku hanya jadi pendengar pasif diantara mereka.

"Bapak Leang sudah tahu belum, Lily mau lapor polisi?" Tanya Naura.

"Tadi sudah ku beritahu," kata Anggun.

"Biar saja dia lapor polisi," jawab Nandean.

"Beritahu pada kakak kalian itu, daripada uangnya untuk bikin laporan ke polisi lebih baik untuk biaya pengobatan Marry," kata Nandean lagi.

"Sampaikan juga, kalau Marry dan Rara bisa digertak dan ditakut-takuti, tapi Naya tidak," ujar Nandean.

"Sebenarnya waktu Naya marah kemarin dia sudah agak takut sih," kata Anggun. 

"Tubuhnya gemetar, malam itu dia mengeluh kepalanya sakit, dadanya berdebar-debar. Terus dia bilang: apa aku keracunan ya, Gun?"

"Lalu maksudnya dia mau bilang dia keracunan, yang dimakan makanan bawaanku, dia mau menuduh aku meracuni makanannya begitu?" Tanya Nandean.

"Itulah kalau kita selalu berbuat buruk pada orang lain maka kita juga akan selalu berprasangka buruk pada orang lain. Otaknya yang beracun, menuduh orang mau meracun."

"Benar kata Bapak, entah dimana si Lily ini menyimpan otaknya," lanjut Nandean.

Mereka tertawa.

"Mudah-mudahan Marry segera pulih kondisinya, biar bisa dinasehati perlahan-lahan, jangan selalu mengikuti anjuran Lily. Akhirnya dia sendiri yang menanggung akibatnya," kata Naura.

"Kalau saya terus terang, Nay. Saya tidak menyalahkan Naya. Dalam situasi yang sama mungkin saya juga akan bertindak seperti itu. Bahkan mungkin lebih buruk lagi, mengingat perlakuan buruk Marry juga sudah dari dulu. Siapa yang tidak khilaf melihat anak berlumuran darah. Apalagi sebelumnya mendengar sumpah serapah, pasti emosi," papar Naura.

"Kita tunggu sajalah perkembangan kondisi Marry, mudah-mudahan pagi atau siang ini ada kesadarannya kembali walaupun cuma beberapa menit," kata Anggun.

"Marry sadar nanti gantian Lily yang masuk rumah sakit, lihatlah!" Kata Nandean.

"Pak, Jangan mendoakan yang buruk," Tukasku cepat.

"Bukan mendoakan, ini memprediksi," Jawab Nandean.

"Tapi tidak boleh mendahului Tuhan," ucapku dengan perasaan yang masygul.

Kulihat Naura dan Anggun saling berpandangan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...