Minggu, 26 Juni 2022

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berada di klinik kecantikan terkenal di kotaku.

Aku berhenti men-scroll layar pipihku, mencermati foto dan caption tersebut. Dua hari yang lalu, Sherly, temanku itu, meminjam uangku sepuluh juta rupiah, dengan alasan untuk dana talangan yang digunakan suaminya sebagai syarat pencairan pinjaman nasabah. Suaminya seorang broker di sebuah bank simpan pinjam swasta. Karena pinjamannya besar, maka dana talangannya juga besar, begitu alasan Sherly. Dia berjanji akan mengembalikan dalam waktu dua sampai tiga hari. 

Baiklah, ini baru hari kedua. Mungkin dia sedang menikmati fee pencairan pinjaman nasabah suaminya tersebut, pikirku.

Seminggu berlalu. Tak ada basa basi dari Sherly untuk memperpanjang akad pinjaman. Aku masih menunggu. Sementara foto-fotonya berseliweran di media sosial dengan latar sebuah mobil baru. Meski bukan mobil mewah, tetap saja butuh uang banyak untuk membelinya. Paling tidak perlu uang puluhan juta untuk pembayaran uang muka jika mobil itu dibeli secara kredit. Dari beberapa orang teman, kuperoleh informasi bahwa Sherly bercerita tentang suaminya yang membeli mobil baru.

Beberapa hari kemudian Sherly bercerita tentang nasabah suaminya yang terus menghindar setelah pinjamannya dicairkan, sehingga fee yang diharapkan belum mereka dapatkan. Aku hanya menyimak ceritanya. Berusaha memahami bahwa secara tidak langsung ia sedang meminta tambahan waktu untuk mengembalikan pinjamannya padaku.

"Happy holiday with family ..." Seminggu berikutnya Sherly mengunggah lagi foto-foto bersama suami dan anaknya di sebuah tempat wisata dengan pakaian seragam keluarga, di atas sebuah kapal motor kecil (bukan perahu nelayan) menuju pulau kecil yang terkenal indah. Berbagai gaya dan pose bahagia pun ditampilkan.

Ada yang terasa sesak didadaku. Uang yang dipinjam Sherly beberapa minggu lalu adalah uang suamiku, modal kami berdagang. Kami mengabaikan liburan, agar uang bisa cepat terkumpul dan berputar sesuai sirkulasi dagang. Tetapi si peminjam uang bahkan dengan leluasa menikmati liburan.

Dua hari berlalu, aku sama sekali tak pernah menyinggung uang atau pun foto-foto liburannya. Bahkan aku membayari makanannya saat kami makan bersama di kantin kantor. Ia pun bercerita lagi tentang iparnya yang datang berkunjung untuk meminjam uang karena melihat foto-foto mereka yang sedang liburan. Padahal liburan itu dibiayai oleh seorang rekan suaminya yang mendapat banyak bonus dari bank simpan pinjam tempat mereka bekerja, cerita Sherly.

Aku menatap ke arah mata dan gerak bibirnya saat ia bercerita. Berusaha mencari kejujuran disana. Ia tampak agak grogi, lalu beralih membicarakan pekerjaannya yang belum selesai.

Bukan berikutnya, aku menandatangani tanda terima gaji di meja bendahara, Sherly pun ada disana. Saat aku keluar dari ruangan, Sherly memanggilku.

"Mba, aku mau bicara sebentar sih...," katanya berbisik.

"Ada apa?" tanyaku. Aku berharap dia berniat membayar utangnya, bukankah kami habis gajian?

"Sini dong," ajaknya ke sebuah sudut ruang yang agak sepi.

"Aku mau pinjam uang sih, adikku mau bayar uang kuliah, uangnya masih kurang ...," bujuknya dengan suara pelan.

"Aku ...," suaraku langsung terputus saat dia langsung menarik amplop di tanganku.

"Cuma seminggu kok, Mba. Sekalian kubayar dengan yang sepuluh juta kemarin," ujarnya cepat sambil tertawa renyah.

"Jangan takut sih, Mba. Pasti kubayar, tenang saja," tambahnya lagi.

Aku menatapnya kesal.

"Ya gak bisa gitu dong, Sher. Bahkan aku belum memakai serupiah pun uang yang ada di amplop itu," ucapku.

"Ini penting, Mba. Daripada adik saya yang kuliah di kedokteran di DO," katanya, masih sambil tertawa.

Aku menghela nafas.

"Aku juga harus bayar uang kuliah anakku, Sher," ujarku.

"Kan bukan hari ini," kilahnya. "Cuma seminggu kok, Mba."

Aku berdecak.

"Udah sih, Mba, gak usah cemberut gitu. Uang suami Mba kan banyak. Pasti kebayar lah biaya kuliah anak Mba. Lagian lima juta mah kecil bagi suami Mba." Dia pergi meninggalkanku sambil tertawa kecil.

Gila! Dia terang-terangan merampas gajiku.

Aku menenangkan diri. Berusaha menahan emosi. Bagaimanapun usiaku di atas para pegawai kantor yang lain, aku harus menunjukkan sikap tenang dan dewasa menghadapi berbagai keadaan. Aku berjalan pelan menuju meja kerjaku. Sherly juga sudah duduk di kursinya. Memainkan gawai, wajahnya penuh senyum.

Gajiku memang tak banyak, tapi setidaknya lumayan untuk membeli kebutuhan harianku atau sekedar mengajak makan anakku ke fast food sesekali. Untuk kebutuhan rumah tangga, semua dicukupi oleh hasil dagang suamiku. Ya, suamiku pedagang, profesi yang dulu sering dipandang sebelah mata oleh Sherly.

Aku masih ingat saat dengan terkejut yang sangat natural dia menanggapi ceritaku tentang keluarga kecil kami.

"Suami Mba pedagang?" Matanya penuh tanya. "Aku kira suami Mba itu pegawai kantor pemerintah, atau karyawan BUMN gitu," ujarnya.

"Memang kalau pedagang kenapa?" tanyaku.

"Ya gak papa juga sih, kaget aja, jabatan Mba disini lumayan. Kok suaminya cuma pedagang," jawabnya seraya tersenyum.

'Cuma' dia bilang? Tapi saat itu aku tak terlalu mengambil hati ucapannya. Apalagi dia sering bercerita suaminya seorang karyawan bank swasta yang cukup besar. Mungkin baginya profesi pedagang sangat menyedihkan dibandingkan pekerjaan suaminya. Aku tak pernah membahas hal itu.

Namun seiring berjalannya waktu, justru aku yang dianggap menyedihkan oleh Sherly, tak pernah meminjam uangnya se rupiah pun. Malah dia yang dengan alasan dompet tertinggal, tak ada uang kecil, dan sebagainya, sering meminjam uang padaku dalam jumlah-jumlah kecil. Pinjamannya yang sedikit-sedikit itu membuatku sungkan untuk menagih dan akhirnya menganggap pinjaman itu sebagai sedekah saat Sherly tak juga ingat untuk mengembalikan.

Kulanjutkan pekerjaanku hari itu dengan perasaan campur baur. Kesal, sedih, marah, yang kutahan-tahan hingga jam pulang. 

"Nebeng ya, Mba," ujar Sherly, saat aku beranjak keluar ruangan. Aku tak menjawab. Aku menuju kantin kantor, memesan segelas minuman dingin dan sengaja berlama-lama disana. Saat sudah mulai sepi aku baru keluar area kantor.

Kulihat Sherly masih berdiri di pintu keluar halaman, dia belum dijemput. Kulajukan kendaraanku tanpa menoleh. Terdengar suaranya memanggilku, aku pura-pura tak mendengar dan terus melaju.

"Begitu aja ngambek, uangnya juga gak cukup kok untuk nambahin." Malam itu terbaca sekilas status WA Sherly tanpa kubuka.

Keesokan harinya kusibukkan diri dengan pekerjaan, sama sekali aku tak membuka komunikasi dengan Sherly. Dia pun tampaknya tak terlalu perduli. Bahkan saat makan siang, ia memilih bergabung dengan teman-teman lain. Sempat kudengar ia minta dibayari oleh seorang teman kami yang lelaki.

"Kebersamaan" caption foto Sherly di status WA nya, dua hari kemudian. Tampak ia sedang bersama beberapa orang lain sedang menghadapi sebuah meja dengan berbagai hidangan di sebuah restoran seafood.

Di media sosial, kulihat Sherly ditandai dalam beberapa foto yang sama dengan yang ada di statusnya.

"Terimakasih atas traktirannya 'Sherly Liera' , sering-sering ya bikin moment bahagia seperti ini." Teman yang menandainya menuliskan itu sebagai caption foto.

Wow! Jadi Sherly lah yang mentraktir mereka, pikirku. Gelombang emosi pun mengikis kesabaranku. Untuk bayar utang, uangnya tak ada, tapi untuk perawatan kecantikan, wisata, traktir teman, dan entah kegiatan bersenang-senang apalagi yang tidak aku tahu, uang Sherly ada.

Tepat seminggu dari hari yang dijanjikan, aku menghampiri Sherly di meja kerjanya.

"Sherly, aku butuh uang!" Suaraku kukeraskan, agar teman lain mendengar.

"Tolong kembalikan gajiku yang kau rampas minggu lalu," ujarku tanpa basa basi.

"Ya belum ada lah! " jawabnya sengit.

"Kau janji seminggu untuk mengembalikan, sekarang sudah dua minggu," sahutku.

"Ya sabar sih! Uangnya juga belum ada. Lagian siapa yang merampas uang gaji Mba. Kan aku bilang pinjam," ujarnya.

"Pinjam dengan cara paksa? Bahkan amplopnya pun kau bawa?" Aku mulai membentaknya.

"Gak usah bentak-bentak ya, Mba! Uang yang di amplop Mba juga gak cukup untuk bayar uang kuliah adikku, aku harus pinjam lagi pada teman yang lain!" Dia balas membentak.

"Apa urusanku? Aku hanya minta uangku dikembalikan. Sekalian pinjamanmu beberapa bulan lalu sepuluh juta, jadi totalnya limabelas juta tujuhratus limapuluh lima ribu rupiah," ujarku keras. Sengaja kurinci jumlahnya.

Beberapa teman mendongak. Tapi tak ada yang berkomentar, mungkin mereka enggan ikut campur.

"Kalau yang sepuluh juta kan suamiku yang pinjam, tagih ke dia lah!" kelitnya.

"Yang pinjam padaku bukan suamimu, tapi kau sendiri! Jadi aku hanya berurusan denganmu," jawabku.

"Ya nantilah!" sentaknya kasar. "Uang segitu aja pakai acara marah-marah!" 

"Kalau menurutmu 'cuma segitu', tolong dibayar sekarang!" desakku.

Sherly berpura-pura sibuk menghubungi beberapa nomor. Aku tetap berdiri di depan mejanya. Berkali-kali ia pura-pura bicara dengan orang lain di telepon. Aku tahu ia berbohong, tak ada suara apa pun dari gawai yang ditempelkan ke telinganya. Jarak kami hanya sekitar limapuluh centimeter, mustahil tak kudengar suara apa pun dari seberang.

"Bagaimana?" tanyaku, setelah beberapa menit membiarkannya pura-pura bertelepon.

Sherly tak menjawab. Wajahnya berlipat.

"Harus sekarang tah, Mba?" tanyanya ketus.

"Ya, hari ini jadwal pembayaran uang kuliah anakku," sahutku datar.

"Pakai uang suami Mba kan bisa," tukasnya.

"Yang sepuluh juta kemarin itu uang suamiku!" bentakku kembali emosi.

Sherly memberengut.

"Gadaikan saja mobilmu untuk bayar pinjaman padaku," usulku.

"Itu mobil mertuaku!" sanggahnya.

"Bukannya itu mobilmu? Untuk apa kau pamer-pamer kalau bukan mobilmu?" tanyaku sinis.

"Kalau Mba tidak percaya, tanya saja pada mertuaku," jawabnya ketus.

"Bukan urusanku untuk bertanya-tanya pada mertuamu. Kau terlalu banyak membohongiku, aku tak percaya lagi padamu!" ujarku.

"Itu mobil mertuaku, Mba. Biar terbakar mobil itu kalau aku bohong!" teriaknya.

Teman-teman di ruangan itu beristighfar. "Jangan bicara seperti itu, Sher!" Seorang teman mengingatkan.

"Habisnya gak percaya banget sih!" gerutu Sherly. 

Kutinggalkan ia dalam sumpah palsunya.

***

Sebuah mobil terbakar di area parkir liar. Diduga, kebakaran dipicu oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan di bawah mesin mobil.

Kubaca berita di sebuah situs media online.

Handphoneku berdering. 

"Beres, Mba. Tak ada jejak tertinggal, aman!" suara di seberang sana terdengar jelas.

Kubuka aplikasi M-banking di gawai, kulakukan proses transfer. Transaksi berhasil.

Terlalu murah biaya yang kubayar untuk mewujudkan ucapan Sherly. Terlalu mahal kepercayaan yang kuberikan padanya dan telah disia-siakan. Sangat tak sebanding!



CLBK

"Raiya, ini Dinda," ujar suamiku, mengenalkan seorang perempuan bertubuh langsing dengan tinggi semampai.

Wajahnya halus, tatapannya teduh. Hidungnya kecil dan bangir, bibirnya tipis kemerahan. Usianya kutaksir empat atau lima tahun diatasku. Kulitnya kuning kecoklatan dan tampak bersih.

Perempuan itu menampilkan senyum terbaiknya dengan gugup. Dia mengulurkan tangan, hendak berjabat denganku. Kusambut uluran tangannya.

"Raiya, istri Mas Bram," ujarku memperkenalkan diri dan menegaskan status.

"Aku, Dinda, teman Bram," ucapnya. Tanpa embel-embel sapaan di depan nama suamiku. Terdengar aneh namun terkesan akrab, saat ia yang menyebut nama itu. Nama yang kupikir hanya ada dalam untaian doaku dan ibu mertuaku, ternyata nama itu juga demikian istimewa di bibir perempuan ini. Bagaimana tidak kukatakan istimewa, bibirnya bergetar saat menyebut nama suamiku.

Aku mendahului mereka duduk di ruang tamu kami, sama sekali tak kupersilakan perempuan itu duduk. Mas Bram mengikuti gerakanku, duduk.

"Duduk, Din," ujarnya pada perempuan itu. Terdengar sangat manis hingga membuat sebagian besar ujung gigiku ngilu.

Perempuan bernama Dinda itu duduk.

"Aku teman Bram sejak remaja, Mba," Dia memulai pembicaraan setelah beberapa menit kami dalam keheningan.

"Dia teman baikku, Ray," ujar suamiku menambahkan.

"Kami berteman dekat," lirih suara perempuan itu menimpali.

Sayatan demi sayatan dihatiku terasa mulai mengalirkan darah.

"Seberapa baik? Seberapa dekat?" tanyaku perlahan. Tak yakin dengan pertanyaanku sendiri. Sekedar basa-basi atau benar-benar ingin tahu.

"Sangat dekat," jawab perempuan itu.

"Hingga harus ada chat romantis?" tanyaku.

Mereka terdiam.

"Maafkan aku, Raiy," ujar suamiku lirih.

Yaah, dua hari lalu Mas Bram sudah menjelaskan semuanya. Mereka adalah pasangan CLBK (Cinta Lama Belum Kelar). Aku tak bisa marah, aku sangat mencintai suamiku. Jika perempuan ini adalah bagian dari kebahagiaannya, aku bisa apa?

Masih teringat jelas di benakku percakapan di chat aplikasi WhatsApp mereka.

[Kita, seperti gunung dan awan. Meski rindu, hanya bisa saling memandang.] Tulis perempuan itu. 

Nalarku mengatakan, kami pernah bertemu entah dimana, saat aku bersama Mas Bram, sehingga mereka tidak saling menyapa. Satu paku besar berhasil menancap di hatiku dengan kalimat itu.

[Jika engkau menjadi langit, aku tak ingin menjadi laut, yang hanya bisa memandangmu, tanpa bisa menyentuh,] tulisnya lagi di lain waktu.

[Jika aku langit dan engkau jadi laut, kita tak akan pernah bisa bertemu. Engkau tak mungkin naik dan aku tak mungkin turun,] balas suamiku.

Paku besar berikutnya pun sukses membuat lubang besar dihatiku.

[Mengapa kita tidak menjadi angin dan hujan, agar bisa saling menguatkan?] tanya perempuan itu 

[Angin dan hujan yang bersatu akan menimbulkan badai. Tetapi angin dan awan, akan sulit dipisahkan.] Balas suamiku.

Darah mengalir deras di setiap sudut hatiku. Lelaki yang kukira hanya mencintaiku, ternyata juga menyimpan cinta bagi perempuan lain.

[Sejauh apa pun jarak yang kita tempuh, sesungguhnya kita tak pernah berjarak. Sebab di dalam hati, kita tetap lekat.] Tulis perempuan itu lagi di waktu yang lain.

[Sebagaimana pikiran dan perasaan kita yang seolah berperekat,] jawab suamiku.

Luka hatiku semakin menganga. Pesan-pesan mereka serupa pisau tajam yang menyayat-nyayat hatiku menjadi jutaan irisan tipis. 

Aku tak sanggup lagi membaca pesan-pesan lainnya. Jika kuteruskan, aku yakin hatiku akan berubah menjadi abon. Maka kuminta suamiku membawa perempuan itu kesini, ke hadapanku. Kubayangkan ia perempuan berpenampilan seksi dan menggoda, dengan lirikan genit dan senyum pemikat. Ternyata bayanganku keliru.

Ia, perempuan yang sekali pandang saja aku bisa paham mengapa suamiku begitu mencintainya. Jiwaku semakin rengkah.

Aku beranjak ke belakang, menyiapkan minum untuk tamuku. Saat kembali lagi ke depan, perempuan itu masih duduk terpaku. Tangannya menopang dagu, sementara suamiku duduk di teras dengan tatapan sendu.

Kuhidangkan dua gelas air beraroma buah lychee, kesukaan suamiku. Aku yakin perempuan itu pun tahu. Satu toples kue kering menemani minuman itu. Kupersilakan "teman baik" itu minum dan memanggil suamiku untuk masuk.

Mereka menikmati Syrup buatanku tanpa bicara. Tiga puluh menit kemudian mata mereka pun tertutup.

***

Kupandangi dua pasang mata dalam kotak kaca yang telah kusiapkan. Aku ingin membuat mereka, terutama suamiku bahagia. Agar mereka tak perlu sembunyi-sembunyi saling pandang di belakangku. Mata mereka bisa berpandangan selamanya dalam kotak kecil ini.

Kusentuh kotak kaca lainnya. Sepasang hati tergeletak disana. Biarlah hati mereka dekat, tak berjarak lagi. Agar bisa melekat dan selamanya menetap disana.

Di kotak lainnya, sepasang jantung kuletakkan bersisian. Agar bisa saling merasakan debar dan denyut masing-masing meski dalam ketiadaan detak. Bukankah dalam cinta yang tak ada pun bisa menjadi ada?

Pasti mereka berbahagia sekali. Aku menatap kotak-kotak kaca itu dengan perasaan lega. Akhirnya aku bisa mempersatukan dua jiwa yang saling mencintai.

Masih ada dua pasang ginjal dan dua pasang paru-paru. Aku memikirkan kemungkinan untuk menjualnya atau kusumbangkan saja bagi orang lain yang membutuhkan. Sebaiknya kuhubungi komunitas pendonor organ tubuh agar bisa secepatnya mengambil keputusan.


Minggu, 22 Mei 2022

LUKA DI WAJAH ISTRIKU

 Luka berbentuk bintang dengan empat garis bersilangan di wajah perempuan itu mengejutkanku. Seperti luka yang kutorehkan di wajah istriku duapuluh dua tahun yang lalu...

Cerita tentang Monang dan Alya ini cukup keren, sayang kalau dilewatkan... 


Bab 1

Hari sangat terik, posisi matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Tetapi belum ada satu orang pun yang menggunakan jasaku.  Kuusap kotak kayu berisi peralatan sol sepatu, apakah hari ini juga harus seperti kemarin? Rejeki yang kudapatkan hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi berlauk telur dadar dan dua batang rokok saja. Dua tahun belakangan ini memang terasa sulit, tapi bulan-bulan terakhir kurasa lebih sulit lagi.

Aku memang tidak menghidupi anak dan istri, aku hidup sendiri di rumah peninggalan orangtuaku yang telah wafat beberapa tahun lalu. Aku pernah punya istri dan dua orang anak, tapi entah dimana mereka kini. Kalaupun mereka ada bersamaku mungkin kehidupanku lebih sulit lagi, ataukah kesulitanku sekarang akibat perbuatanku di masa lalu? Kuusap dadaku yang mendadak terasa sakit mengingat itu semua.

Seorang perempuan setengah baya dan seorang pemuda berjalan ke arahku. Langkah si perempuan agak tertatih, si pemuda, mungkin anaknya, tampak menuntun sang ibu sambil tersenyum.

"Pak, sol sepatu ya?" tanya pemuda itu. Ia berwajah tampan dan berkulit bersih, meski sebagian wajahnya tertutup masker sekali pakai berwarna biru. Matanya tajam, alisnya tebal. Rambutnya tersisir rapi. Tubuhnya proposional. Kelihatannya dia terpelajar.

Aku mengangguk, "iya, ada yang bisa dibantu?" tanyaku sambil mengucap syukur dalam hati.

"Ini sendal ibu saya, talinya ada yang lepas, bisa minta tolong dijahitkan?" tanyanya sambil meminta sang ibu melepaskan sendal dimaksud dan mengulurkannya padaku.

Aku memperhatikan sendalnya, kualitas baik, mungkin harganya cukup mahal.

"Bisa,"jawabku.

"Tolong dijahitkan ya, Pak," ujar pemuda itu. Aku mengangguk dan menyiapkan peralatan.


 Kuangsurkan kotak kecil berisi karet dan bahan-bahan sol lainnya kepada ibu tadi, kupersilakan ia duduk menunggu.

"Bu, duduk disini, adek mau beli minum dulu disana ya," kata pemuda itu. Ia menunjuk ke arah booth jus buah yang tak jauh dari kami.

"Ibu mau jus apa?" tanyanya.

"Mangga saja," jawab si Ibu.


Si pemuda berlalu. Kuperhatikan si ibu sejenak. Suaranya seperti sering kudengar, entah dimana. Wajahnya tertutup masker, kulitnya berwarna coklat muda dan bersih, seperti anaknya tadi. Ia berkacamata, dengan lensa berwarna abu-abu dan pantulan cahaya kebiruan dibawah sinar matahari. Tubuhnya ramping dengan outfit sederhana tapi kekinian. Mereka pasti keluarga berada, pikirku.


Aku mengerjakan pekerjaanku tanpa suara. "Bu, ini dijahit saja semua sisinya ya, supaya lebih kuat," ujarku pada perempuan itu. 

"Iya, pak. Bagaimana paling baik menurut Bapak saja. Itu tadi tidak sengaja terinjak orang yang berjalan di belakang saya waktu melangkah, malah tali sampingnya lepas," terangnya sambil tersenyum. 

Sempat kulihat kilatan kejut dimatanya saat ia menatapku. Tapi sedetik kemudian ia memandang ke arah anaknya yang masih menunggu jus buah pesanannya. 

Suara ibu ini, aku yakin sekali tidak asing. Tapi entahlah!


Si pemuda kembali ke arah kami, membawa tiga cup jus buah. Ia memberikan pesanan ibunya lalu mengangsurkan satu cup jus alpukat padaku, "untuk Bapak," ujarnya. Aku agak terkejut, tapi kuucapkan terimakasih. Dari pagi aku memang belum minum apa pun.


"Itu punyamu jus apa?" tanya si ibu.

"Strawberry campur apel," jawabnya sambil tertawa, memamerkan geliginya yang rapih dan bersih. Ah, aku teringat gigiku sendiri yang mulai banyak ditempeli karang gigi dan plak nikotin.

"Setelah ini kita kemana, Bu?" tanya si anak.

"Kita ke Masjid Al-Furqon ya, sekalian sholat Zuhur disana," jawab sang ibu.

"Dimana itu?"

"Di Jalan Diponegoro, nanti ibu beritahu arahnya,"

"Kenapa harus kesana?" 

"Ada yang ingin ibu lihat,"

Si pemuda mengangguk sambil ber-oh.


Masjid Al-Furqon, aku pun punya banyak kenangan disana. Saat aku dan istriku masih menjalin hubungan kasih sebelum kami menikah dulu. Kami sering menikmati siang hingga sore di kerimbunan taman kota yang ada di depan halaman masjid, memandangi kendaraan yang melintas, sambil berbincang tentang apa saja. Saat bertengkar pun kami memilih pergi ke tempat itu, untuk sekedar duduk menenangkan hati dengan semilir angin yang berhembus rapat disana.


Dimanakah perempuan itu kini? Perempuan baik yang kusia-siakan hidupnya, yang baru kusadari sangat berharga saat ia telah pergi meninggalkanku dengan luka yang kutorehkan duapuluh dua tahun lalu.


Pekerjaanku selesai. Aku menyorongkan sepasang sendal itu ke kaki si ibu.

"Sudah, Bu," ujarku.

"Berapa, Pak?" tanya si pemuda.

"Sepuluh ribu rupiah," jawabku. Terbayang nasi sayur dan telur dadar di benakku.

Si anak mengeluarkan uang dari kantungnya, tapi si ibu lebih cepat, diulurkannya pecahan seratus ribu kepadaku. 

"Tidak usah dikembalikan, untuk Bapak saja," katanya pelan. Ia menatapku lama.

Aku terpaku, tak menyangka dapat rejeki sebanyak ini. Kuucapkan terimakasih dengan suara serak.


"Ibu tidak minum?" tanya si anak.

"Nanti saja di mobil," jawab si Ibu.

"Cupnya penuh, diminum sedikit saja dulu, agar tidak tumpah saat dibawa," saran anaknya.

Si ibu menunduk, menatap cup jus mangga miliknya. Perlahan ia menurunkan masker, lalu menyesap jus melalui pipet plastik.


Aku terperanjat, ribuan jarum terasa menusuk hatiku. Dadaku terasa nyeri. Aku menatap wajah si ibu tak berkedip. Meski tak terlalu kentara, aku melihat guratan halus berbentuk bintang, empat garis lurus saling bersilangan di pipi kanannya. Seperti bekas luka akibat benda tipis dan tajam seperti silet, halus tapi dalam dan membekas selamanya.


Ia perlahan bangkit, mengabaikan aku yang masih tercengang memandanginya. Benarkah ia Alya? Alya istriku, ibu dari anak-anakku?


 Bekas luka itu, tak mungkin aku lupa, aku yang memberikannya. Aku melukainya secara sadar saat aku kalut dan terjebak emosi yang meluap. Aku sengaja melukainya agar ia tak pergi meninggalkanku karena wajahnya telah rusak. Tapi ia tetap meninggalkanku.


Ibu dan anak itu berlalu, si pemuda menggandeng lengan ibunya dengan kasih. Wajahnya bahagia, tetapi ada mendung di wajah sang ibu.


Sepuluh meter jarak mereka dariku, aku merasa harus mengambil kesempatan, menuntaskan rasa penasaran.

"Dik!" panggilku, "terimakasih jusnya," ucapku. 

Si pemuda menoleh, "iya, pak, sama-sama." Ia menebarkan senyum ramahnya. Si Ibu tak menoleh sedikit pun.

"Tinggal dimana?" tanyaku sambil berjalan mendekat.

"Kami hanya sedang berkunjung kesini," jawab si pemuda. 

"Seperti sering lihat," ujarku, beralasan.

Pemuda itu hanya tersenyum, "mari, pak," pamitnya sopan.


Aku mengiyakan. Ada yang berdenyut nyeri di dalam dadaku. Jika perempuan itu benar Alya, maka pemuda tadi adalah Alka, anakku yang kedua. Betapa tampannya ia. 


Aku kembali duduk diatas kotak peralatan sol sepatu dengan pikiran mengembara. Jika ia benar Alya, betapa beda nasib kami kini. Terlihat dari penampilannya dan anaknya, mereka pasti berpunya. Anak itu pasti sekolah tinggi, minimal sarjana strata satu. Gerak geriknya, gaya bicaranya, ibunya berhasil mendidik putranya.


Semakin kupikirkan, semakin aku yakin bahwa kemiskinan dan ketidakberdayaanku saat ini adalah buah dari perbuatanku di masa lalu. Aku, suami dan Bapak yang tidak bertanggungjawab, suami dan Bapak yang dzalim. Hingga di setengah abad usiaku, aku masih dalam kesulitan hidup. Bahkan untuk mengisi perutku sendiri setiap hari pun nyaris tak sanggup.


Kupandangi kotak sol sepatu, satu-satunya harta berharga yang kumiliki saat ini. Penyesalan kembali menderaku, meninggalkan bilur-bilur membiru dalam kalbu.


Benarkah mereka Alya dan Alka? Pertanyaan itu terus bergelayut hingga matahari luruh ke barat, tak kurasakan perutku yang kosong. Pikiranku yang penuh tentang perempuan dan pemuda tadi mengalahkan rasa lapar sepanjang siang.

Kamis, 19 Mei 2022

SENJA BERSAMA AISHA (Cerpen)

Matahari hampir luruh ke barat, saat mobilku memasuki sebuah area wisata pantai di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Aku bersama Aisha, putriku. Sudah dua Minggu ia merengek, minta rekreasi ke laut. Baru sore ini aku berkesempatan mengajaknya kesini.


Wajah Aisha terlihat gembira, matanya berbinar. Senyum tak henti terkembang di bibirnya yang tipis dan mungil. Senyum yang membawa bahagia sekaligus membuatku sedih hingga kini. Senyum putriku, mengingatkan aku pada seseorang yang kini entah ada dimana.

#

Umurku belum genap 17, saat aku jatuh cinta pada Ahsya, kakak kelasku di SMA. Dia baik, ramah, dan perhatian. Wajahnya manis, murah senyum. kulitnya putih kemerahan. Aku mengenalnya di sebuah kegiatan ekstrakurikuler. Dia pembimbing kami.

"Muthia!" panggilnya setiap kali lewat depan kelasku.

Teman-teman sekelas hafal kebiasaan Ahsya Biasanya mereka akan meledekku. Aku hanya tersenyum malu.

Pernah suatu hari panggilannya disahut oleh Eddy, teman sekelasku.

"Muthia gak masuk! Sakit!" teriaknya.

Teman yang lain tertawa.

Ahsya berhenti sejenak di depan kelas, melongok dari jendela dan melihat ke arah tempat dudukku. Kemudian berlalu sambil tersenyum.


Seperti remaja SMA umumnya, aku melalui hari-hari yang indah dan menyenangkan, apalagi ditambah Ahsya, hariku menjadi lebih berwarna. Saat bersama Ahsya, pelangi pun menjadi pudar keindahannya.


Aku dan Ahsya sangat dekat. Tak ada hari tanpa Ahsya di sampingku. Ia menungguku saat pulang sekolah, mengantarku sampai ke rumah. Kadang-kadang kami bermain dulu ke taman kota atau pusat perbelanjaan, sekedar melihat-lihat dan jajan.


Suatu hari Ahsya mengajakku pergi agak jauh, ke sebuah resort di Lampung Selatan. Aku menyetujuinya. Jujur, aku pun ingin pergi yang jauh berdua saja bersama Ahsya. Maka kami pun berangkat. Hanya berdua.


Setelah puas bermain-main di pantai, Ahsya mengajakku mampir ke resort. Memesan kamar untuk istirahat. Aku agak terkejut.

Ahsya tersenyum, memahami keterkejutan ku.

"Kita pulang nanti sore, tidak menginap," katanya.

Aku sedikit tenang, meski masih agak takut.


Kami menghabiskan siang yang panas itu dalam kamar peristirahatan. Aku capek sekali setelah berjam-jam bermain air di pantai. Aku pun tertidur. 

Dalam tidur aku dan Ahsya berkejaran di tepi pantai, menangkap ikan-ikan kecil dan memasukkannya ke dalam botol. Kami penuh tawa. Tiba-tiba aku merasa dadaku sesak, mulutku tersumbat oleh sebuah mulut lain.

Aku terbangun.


Tubuh Ahsya ada diatas tubuhku, dia menciumi wajahku, tangannya bergerak kesana kemari ke sekujur tubuhku. Aku berteriak, memukuli punggungnya. Tapi ia tak berhenti. Aku mencakar wajahnya, mendorong tubuhnya yang menghimpit ku. Lalu Ahsya berteriak pelan, dan melepaskan tubuhnya dari tubuhku.


Aku merasakan sakit dan pedih di organ intimku. Ahsya telah memperkosaku. Aku menangis. Ahsya memelukku, berusaha menenangkanku, tapi aku terlanjur takut.

Kukenakan pakaianku, melesat keluar kamar, berlari meninggalkan resort. Masih kudengar Ahsya memanggil-manggil namaku.

#

"Bunda, Bunda," Aisha menggoyang-goyang tanganku. 

Aku terkejut. Melamun terlalu lama.

"Ya, sayang," jawabku.

"Aish main kesana ya, tangkap ikan," katanya sambil menunjukkan jaring kecil yang dibawanya dari rumah.

Aku mengangguk.

"Hati-hati ya, jangan ke tengah," pesanku.

"iya, Bunda," jawabnya.

Kaki kecilnya menapaki pasir, menuju air.

Aku masih memandanginya. Aisha, ia tumbuh menjadi anak pemberani dan mandiri, tentu saja itu tidak lepas dari didikan ayah, ibu, kakak, dan adik-adikku.

Ya, aku membesarkan Aisha bersama keluargaku.

Angin laut bertiup agak kencang, membawa kembali aku dalam lamunan.

#

Aku berlari keluar resort, mencari taxi. Pulang.

Sesampainya di rumah, aku mandi berjam-jam. Aku merasa jijik sekali pada tubuhku. Tubuhku kotor, penuh dosa. Aku menangis tak henti dibawah shower. Berkali-kali menggosok badanku dengan sabun dan spon mandi, hingga habis sabun cair satu botol. Tapi aku tetap merasa kotor.


Aku benci sekali pada Ahsya. Mengapa ia melakukan itu padaku?


Aku menghindari Ahsya di sekolah. Aku tak mau bertemu dengannya. Pokoknya aku benci, benci sekali padanya.


Kekalutanku bertambah di bulan berikutnya, saat siklus menstruasiku terlambat. Aku bingung. Dan menelan sendiri semua kebingungan ku hingga Minggu keempat. Pada siapa aku harus bercerita?

Ahsya tak pernah lagi tampak di sekolah. Menurut berita yang ku dengar ia pindah bersama orangtuanya yang mendapat tugas ke kota lain.


Aku pun menangis. Takut dan bingung menderaku. Tapi tak mungkin aku menghadapinya sendirian. Aku mengajak tanteku bicara. Kuceritakan semuanya. Tante Lily tampak terkejut. Ia berusaha menghiburku dan berjanji akan membicarakan ini pelan-pelan pada ayah dan ibu.


Ayah dan Ibu sangat shock. Tapi mereka mampu mengendalikan emosi. Diambillah keputusan, untuk sementara aku harus pergi dari kota ini, ikut pada keluarga pamanku di Pekanbaru. Ayah mengurus segala sesuatunya. 


Aku tinggal bersama Paman Jauhari. Bibi Yuli baik sekali padaku. Mereka tak memiliki anak. Maka akulah yang menerima limpahan kasih sayang mereka. Aku yang hamil, tapi seolah mereka yang akan mendapatkan bayi. Mereka bahagia sekali.

Setiap kali janin dalam perutku bergerak, Bibi akan berteriak kegirangan sambil memanggil Paman, lalu paman ikut mengelus perutku yang mulai membesar. Mereka berpandangan dan tertawa bahagia.


Awalnya aku membenci kehamilanku, tapi sikap paman dan bibi merubah perasaanku. Mereka ingin sekali memiliki anak, tapi tidak bisa. Sedangkan aku, belum waktunya memiliki anak tapi aku hamil.

Betapa anehnya hidup ini.


Paman dan bibi sering menasehati, bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Mereka selalu mengingatkan aku untuk bersabar atas ujian ini.


Tujuh bulan kemudian bayiku lahir, seorang putri cantik. Paman dan bibi memberi nama "Aisha". Melihatnya, semua kesakitan dan kesedihanku terasa sirna. Aku bertekad akan membesarkan bayi ini, meski tanpa ayahnya.


Paman dan bibi mendaftarkan aku sebagai murid pindahan di sebuah sekolah swasta di Pekanbaru. Aisha diakui sebagai putrinya. Hingga aku menyelesaikan pendidikan di SMA. Paman dan Bibi masih menahanku untuk tinggal, namun ayah memintaku untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi di kota kami. Aku pun kembali ke rumah saat Aisha berusia dua tahun.


Aisha anak yang lincah dan lucu, keluargaku menyayanginya. Terutama Ibu. Tak pernah kudengar sekalipun mereka mengungkit tentang ayahnya, apalagi tentang masalahku di masa lalu. Maka aku bisa menyelesaikan kuliahku dengan tenang.


Kini Aisha berumur tujuh tahun. Aku sudah bekerja di sebuah bank swasta. Secara ekonomi hidup kami cukup. Paman dan Bibi setiap tahun datang untuk menjenguk Aisha. Tahun lalu aku yang membawa Aisha ke Pekanbaru.

#

Tiba-tiba aku mendengar teriakan Aisha. Aku menoleh kearahnya. Tampak Aisha sedang tertawa gembira dengan jaring dan wadah ikan ditangannya. 

Tapi aku terkesiap melihat seorang lelaki yang bersama Aisha. Aku menatapnya tak berkedip. Sosok itu, ah.... Tak mungkin!

"Bunda!!" seru Aisha

"Aish dapat ikan banyak!" serunya gembira.

Lelaki itu mengikuti arah Aisha bicara. Ia tampak terpaku.

Aisha berlari membawa wadah ikan ke arahku. Lelaki itu mengikutinya.

Aku semakin yakin, dia Ahsya.


Kini ia berdiri di hadapanku.

"Muthia..." bisiknya. Suaranya bergetar.

Aku membuang muka.

"Ini anakmu?" tanyanya sambil mengelus kepala Aisha.

Aku tak menjawab.

"Om kenal bunda?" tanya Aisha polos

Ahsya diam. Matanya terus menatapku. Tangannya mengelus kepala Aisha.

"Aish, kita pulang, sayang," ajakku pada Aisha.

Ahsya membungkuk, mengelus pipi Aisha.

"Aisha sudah sekolah? dimana?"

"Sudah, om. Di SD Pelita. Kelas satu A," jawab Aisha.

"Aisha!" panggilku, sambil berjalan menuju mobil.

"Aisha lahir tanggal berapa?" tanya Ahsya.

"4 September. Om mau kasih kado ya?" tanya Aisha polos.

Ahsya tertawa. Tapi kemudian tertegun.

"Aish!" panggilku agak keras.

Aisha berlari ke arah mobil.

"Dadah, oom !!" Aisha melambaikan tangan pada Ahsya.

Ahsya mengejar, berdiri di samping jendela mobil.

"Muthia, Aisha, Aisha... apakah Aisha...." kata-katanya terputus.

Aku menginjak pedal gas. Berlalu dari hadapannya.

Aisha menatapku, bingung.

Kulihat dari spion, Ahsya menatap kepergian kami...

SUATU PAGI DI MASA PANDEMI (Cerpen)

 SUATU PAGI DI MASA PANDEMI


Aku masih ingat salah satu pagi di Bulan Juni 2020, langit biru cerah, sinar matahari kemilau di arah timur. Cuaca yang membangkitkan harapan terutama bagi orang-orang yang beraktifitas di sektor-sektor non formal, pedagang pasar, pedagang keliling, usaha laundry, ojek, dan profesi lain yang selalu berharap cuaca cerah. Seperti biasa aku berangkat ke sekolah, melaksanakan tugas mulia sambil berharap menjadi ladang amal dan pahala. Jalan lengang. Sejak diberlakukan pembatasan sosial karena pandemi covid-19, jalan-jalan kota cenderung lebih sepi, tidak seramai hari-hari sebelumnya.

Tiba di sekolah suasana juga lengang meski beberapa petugas harian tetap beraktifitas. Peserta didik sejak minggu ketiga Bulan Maret sudah menjalani pembelajaran jarak jauh dengan metode daring. Biasanya ketika datang ke sekolah pemandangan yang dilihat adalah remaja-remaja berseragam putih abu-abu dengan senyum ceria dan suara yang penuh semangat, terdengar lantunan tadarrus atau lagu-lagu perjuangan dari sentral audio sekolah, serta kesibukan guru-guru mempersiapkan pembelajaran. Namun beberapa bulan terakhir suasana itu menjadi berbeda. Kami hanya disambut gedung megah yang sunyi, ruang-ruang kelas kosong, serta guru-guru yang serius menyampaikan materi belajar melalui gawai. 

Aku menapaki anak tangga agak cepat, mensupport diri sendiri agar bersemangat. Di teras ruang guru terlihat empat orang sedang duduk, dua orang dewasa, dua lagi peserta didik kami. Berbeda dengan cuaca cerah diluar, wajah mereka terlihat agak muram. 

Melihat kedatanganku, peserta didik tersenyum dan menyalami.

“Assalamu’alaikum, ibu,” sapa mereka

“Walaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Apa kabar, anak ibu yang cakep-cakep soleh dan soleha ini? Sudah cuci tangan?” Aku menjawab salam mereka.

“Baik, ibu.. Alhamdulillah, sudah pakai handsanitizer juga.” Mereka menjawab serentak.

Dua orangtua yang sedang duduk ikut tersenyum, aku menyalami mereka.

Memasuki ruang guru, Pak Arief, wakil kepala sekolah menghampiriku.

“Bu, orangtuanya Lukman dan Asyifa mau menghadap ibu.”

“Ada masalah apa, pak?”

“Belum bisa membayar biaya sekolah.” 

Aku ingat Lukman Hakim, peserta didik kelas 11, rajin, berkarakter tenang dan soleh. Sering memimpin tadarrus pagi dan mengimami sholat dzhuhur di musholla kecil sekolah kami. Ayahnya seorang karyawan toko. Asyifa peserta didik kelas 11 dari jurusan lain, aktif di ekstrakurikuler seni dan olahraga, ayahnya sopir bus antar provinsi.

“Dipersilakan masuk saja,” kataku kepada Pak Arief yang langsung mengiyakan.


Beberapa saat kemudian seorang Bapak yang tadi bertemu di teras memasuki ruangan.

“Assalamu’alaikum, bu. Saya Yusuf, orangtuanya Lukman Hakim,” sapanya sambil memperkenalkan diri.

“Walaikumsalam, pak. Mari silakan duduk. Ada yang bisa kami bantu?”

“Sebentar lagi Ujian Kenaikan Kelas ya, bu? Tapi mohon maaf sebelumnya, saya belum bisa membayar biaya pendidikan Lukman. Minta tolong penangguhan waktu ya, bu. Sejak Februari toko tempat saya bekerja omzetnya turun dan terus menurun hingga bulan kemarin. Karyawannya dari 10 orang terus dikurangi setiap bulan. Bulan kemarin saya pun kena giliran. Saat ini saya belum memiliki alternatif penghasilan lain, untuk biaya sehari-hari masih pakai simpanan yang ada, itu pun tidak seberapa. Mungkin dipakai untuk kebutuhan dua bulan juga habis.”

Aku diam mendengarkan, memahami permasalahannya. 

“Kalau kondisinya seperti itu, pak, kami cuma bisa memberi kelonggaran waktu pembayaran. Lukman harus tetap mengikuti ujian kenaikan kelas, nanti kami bicarakan dengan wali kelasnya. Bapak dan keluarga tidak perlu sedih atau putus asa, di luar sana masih banyak orang lain yang mungkin kondisinya lebih sulit dari kita. Bapak yang sabar, semoga nanti ada rezeki lain untuk keperluan biaya pendidikan Lukman.” Aku menanggapi keluhan sekaligus memberi penghiburan.

Pak Yusuf tersenyum, mengucapkan terimakasih, berjanji mengupayakan biaya yang dibutuhkan, lalu keluar ruangan.

Berikutnya orangtua Asyifa, Ibu Erni, begitu beliau memperkenalkan diri. Dia juga mengutarakan permasalahannya. Ayah Asyifa masih tertahan di wilayah Jawa Timur karena perusahaan Otobusnya sudah tiga bulan tidak mengizinkan perjalanan ke luar provinsi. Sehingga pekerjaan tidak ada, pulang belum bisa, uang pun tidak punya. 

“Saya sudah berusaha mencari tambahan, bu. Bekerja di laundry dekat rumah. Tapi laundry juga sekarang sepi,” keluhnya. Aku mengangguk tanda mengerti.

Kepada Bu Erni aku juga cuma bisa menanggapi keluhan dengan penghiburan kecil, menyarankan untuk bersabar dan mengupayakan hal-hal lain yang dianggap bisa menjadi sumber pemasukan keluarga.

Seperginya Bu Erni, aku termangu. Begitu mudahnya aku memberi penghiburan kepada orang lain, tapi apakah mudah bagi mereka untuk menjalani kondisi seperti ini? Kebingungan menyiasati hidup yang berubah secara tiba-tiba.

Seperti mereka sekolah kami juga punya permasalahan. Sebagai sekolah swasta, kami harus membiayai sendiri kegiatan operasional sekolah, termasuk honor guru. Selama masa pandemi ini sirkulasi keuangan sekolah mengalami kendala, lebih banyak biaya keluar daripada dana yang masuk. RKAS berkali-kali mengalami perubahan, disesuaikan dengan kebutuhan yang dianggap lebih mendesak, membeli alat-alat protokol kesehatan, mengadakan dan memperbaiki bak cuci tangan, menyemprot disinfektan di lingkungan sekolah dan lain-lain. 

Meski agak sulit, kami mengupayakan pembayaran honor guru tetap lancar setiap bulan. Bukan karena lebih mementingkan guru, tetapi honor guru di sekolah swasta itu besarannya hanya ratusan ribu rupiah, banyak yang dibawah angka limaratus ribu. Alangkah sedihnya kalau honor yang sedikit itu pun harus kami abaikan. Biaya listrik, jaringan internet, langganan surat kabar, setiap bulan harus dibayar. Bulan ini masih bisa ditanggulangi, bagaimana bulan-bulan berikutnya? 

Pak Yusuf dan Bu Erni hanya sedikit contoh dari banyak permasalahan yang dihadapi masyarakat kecil. Tiga bulan masa pandemi sudah menimbulkan rentetan masalah, sementara angka-angka pasien yang terpapar covid-19 terus meningkat. Pemerintah aktif memperbaharui berbagai kebijakan terkait pandemi sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Melalui jendela kaca aku memandang keluar, jalan kota membentang, satu dua kendaraan lewat. Pedagang bakso, batagor, es kacang, buah potong, duduk termangu di trotoar, di sisi gerobak masing-masing. Diam. Tak ada obrolan. Meski tanpa suara, terpotret kegalauan hati mereka.

Aku menatap langit, biru cerah dengan sedikit awan. Terbersit harapan tentang sebuah keajaiban. Berlalulah masa pandemi. Agar kehidupan kami normal dan membaik lagi.


===



SISTER IN LAW (15)

 Bab 15


Siang hingga sore aku menjaga Leang ditemani ibu dan mama. Keduanya terlibat dalam pembicaraan tentang masa lalu, masa-masa saat mereka masih muda. Sesekali mereka tertawa satu sama lain. Ibu dan Mama memang akrab sekali, dibandingkan dengan besan yang lain hubungan Mama dengan Ibu bisa dibilang paling dekat. 

Ayah dan Bapak setengah harian mengobrol di lobby, entah apa isi obrolannya tetapi tampaknya seru dan tak terputus-putus. Ditingkahi tawa dan gerakan tangan kesana-kemari. Sama seperti Ibu dan Mama.

Kadang aku berpikir, apakah hubungan mereka yang harmonis ini juga menjadi pemicu kebencian saudara-saudara iparku?

Rossy ditemani Anggun menjaga Marry. Saran Nandean atas penjagaan Marry sudah disampaikan pada Anggun dan Naura. Mereka menyetujui. Bahkan mereka langsung menyusun jadwal menjaga Marry. Lily dan Rara tetap dilibatkan tetapi tidak pada hari dan jam yang sama, selain itu mereka tetap mengupayakan penjagaan bertiga.

Agar tak banyak protes dari Lily dan Rara, Bapak sendiri yang akan memberitahukan pelaksanaan jadwal penjagaan tersebut. Jika mereka menolak, maka mereka dihapus dari jadwal dan tidak diperkenankan datang ke rumah sakit. Tapi memang hingga siang tak ada bayangan mereka datang.

"Aku khawatir Lily melakukan sesuatu yang membahayakan jika dibiarkan sendirian menjaga Marry," ungkap Nandean saat kami berjalan-jalan sebentar keluar dari area rumah sakit.

"Itukan adiknya sendiri. Apa dia tega melakukan hal-hal jahat pada adiknya?" Tanyaku.

"Kau tidak tahu," jawab Nandean.

"Saat aku kecil dia pernah menyiram dadaku dengan air panas, ia marah karena dimintai tolong Mama untuk membuatkan aku susu. Tapi dia beralasan bahwa akulah yang tidak sabar merebut gelas susu yang masih panas untuk diminum," cerita Nandean.

Aku tersentak.

"Lalu?" Tanyaku

"Pokoknya dia paling pintar cari alasan dan mengelabui kami, terutama Bapak. Pada Bapak dia selalu mencari muka dan bersikap seperti orang tak punya dosa," jelas Nandean.

"Tapi kan sekarang Bapak sudah tahu," kataku.

"Bapak baru tahu semua kelicikannya saat Naura akan menikah. Dia terus menghalang-halangi pernikahan Naura, akhirnya Naura menceritakan semua perbuatan Lily pada kami," kata Nandean.

"Makanya Bapak tetap menikahkan kita meski Lily marah dan mengamuk saat itu. Bapak tak mau menunjukkan bahwa selama ini dia dipengaruhi Lily. Bahkan ketika kita tinggal di rumah Bapak, Lily selalu memberikan laporan buruk tentangmu kepada Bapak. Tetapi Bapak sudah banyak tidak percaya lagi kepadanya, terlebih yang sering berada di rumah bersamamu adalah Mama. Maka ucapan Mama yang lebih didengarkan Bapak. Itu sebabnya ada kalimat Marry seolah Mama sudah dipengaruhi dukun, itu hasutan Lily." Papar Nandean.

"Lalu kenapa kau diam saja saat itu? Bahkan tidak pernah memperingatkan aku." Aku menggerutu.

"Maaf ya, saat itu sebenarnya aku memang bingung. Aku mencoba bersikap netral diantara saudaraku dan istriku. Jika aku marah pada mereka pasti mereka akan semakin membencimu," jawab Nandean sambil menggenggam tanganku.

"Aku tahu kau sudah memberi sinyal saat Leang lahir, ketika kau mengatakan bahwa saat itu kau tidak sendiri lagi tapi ada anak yang harus kau bela. Aku merasa keributan akan terjadi dan kau tidak akan mau mengalah lagi. Itu sebabnya aku langsung mengikuti keinginanmu untuk keluar dan pindah dari rumah itu," kata Nandean lagi.

"Kau tak perlu takut. Kau tak sendiri. Aku disampingmu," ujarnya sambil mencium punggung tanganku.

"Aku hanya menyesalkan, kenapa sampai harus jatuh korban." Aku bergumam.

"Sudah tertulis dalam takdir dunia bahwa kejadiannya harus seperti ini," kata Nandean.

"Segala peristiwa, baik atau buruk, menyenangkan atau menyedihkan, semua terjadi atas pengetahuan dan izin dari Tuhan. Kita tidak bisa mengelak. Tugas kita hanya menerima dan menjalani skrip hidup yang telah ditentukan," lanjutnya.

Kami terdiam beberapa waktu. Sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

Lalu kami kembali ke kamar Leang saat terdengar adzan Ashar berkumandang.

Ada Naura dan Anggun sedang berbincang dengan ibu, bercanda dengan Leang. Mama bergantian menjaga Marry bersama Rossy.

Naura undur diri terlebih dahulu. Hendak pulang ke rumah, berjanji pada Anggun akan datang lagi nanti malam. Rupanya jadwal dari Bapak sudah berlaku dan dilaksanakan. 

Sempat kudengar Naura berkata kepada Anggun:

"Lily tidak perlu diberitahu dulu, tunggu dia datang saja. Kalau dia tidak datang jangan ditelpon suruh datang, biar saja," katanya.

Anggun menyetujui.


Usai Ashar ayah dan Ibu berpamitan pulang demikian juga dengan Bapak dan Mama. 

"Mungkin besok pagi kami baru bisa kesini lagi," kata Bapak.

"Jangan lupa berdoa terus untuk kesembuhan anakmu dan saudaramu, kalau ada perubahan apa pun segera hubungi kami," pesan Bapak.

Mereka berempat, berbarengan meninggalkan ruang perawatan. Aku memandang punggung keempatnya dengan rasa yang sulit kujelaskan.

Memang benar bahwa setiap orang diberi ujian sesuai porsinya. Ada yang diuji dengan pasangan, ada yang diuji dengan mertua atau ipar, ada yang diuji dengan orangtua, ada yang diuji dengan anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menerima ujian itu dengan ikhlas dan menjalaninya sesuai skenario Tuhan.

Seorang teman pernah berkata, jangan mencari jawaban dari ujian hidup. Sebab saat kita temukan jawaban, hidup telah mengganti ujiannya. Percaya saja bahwa Tuhan memberikan ujian lengkap dengan jalan keluar atau jawabannya.

Leang asyik menonton televisi, sesekali bertanya ini itu kepada Anggun.

"Halo, ya. Kenapa, Ra?" Anggun menjawab panggilan telponnya.

[ ............. ....... ....... ] Suara tak begitu jelas dari lawan bicara Anggun.

"Marah-marah kenapa?" Tanya Anggun.

[..... ..... .... .... .... ....]

"Ngapain juga kau ngurusin dia. Biar aja semau dia, kan dari dulu juga begitu," Anggun menggerutu.

[.... ..... .... .... .... ....]

"Ya kalau dia bilang begitu suruh kesini aja, ngomong sama dokternya minta dirawat gitu," kata Anggun sambil tertawa.

[.... ..... .... .... .... ....]

"Tidak ada yang membicarakan dia disini. Tidak penting!" Kata Anggun.

"Sudahlah suruh dia istirahat saja di rumah. Ada aku, Naura dan Rossy yang jaga Marry," putus Anggun.

Telpon ditutup.

"Aneh..." Gerutu Anggun.

"Kenapa?" Tanya Nandean.

"Si Lily marah-marah katanya. Dia juga sakit tapi kok tidak ada yang memperhatikan, semua cuma sibuk menjaga Marry. Dia juga tanya, kita disini membicarakan dia gak," jawab Anggun.

"Kalau dia pengen dirawat di rumah sakit juga ya tinggal datang saja. Dirawat. Nanti siapa yang mau jaga suruh jaga," kata Nandean.

"Atau dia ingin dijaga Naya?" Nandean meledek.

Anggun tertawa.

Aku menanggapi dengan senyum saja.

"Jangan-jangan benar ucapanku kemarin, Marry sadar, dia yang masuk rumah sakit," kata Nandean.

Anggun diam saja.

Sore hingga malam itu terasa tenang. Kondisi kesehatan Marry juga terus membaik, dia sudah mulai bisa berkomunikasi mesti terbata-bata. 

Aku menjenguknya malam itu, masih ada tatapan ketakutan di matanya namun tak menolak saat tangannya kusalami.

Rossy menjelaskan padanya bahwa aku sudah mengetahui jika Lily yang selama ini menyuruhnya bersikap buruk padaku. Dengan terbata-bata ia mengatakan sesuatu kepada Rossy, aku tak tahu apa yang dikatakannya. 

Tapi aku mendengar Rossy mengatakan:

"Rara juga?"

Marry mengangguk.






SISTER IN LAW (14)

 Bab 14


Tigapuluh menit proses radiologi selesai.

"Radiografi nya nanti kami serahkan kepada dokter spesialis yang menangani Leang ya, Bu." Kata petugas di ruang radiologi.

"Baik, mas. Terimakasih." Jawabku.

Bersama perawat kami membawa Leang kembali ke kamar.

"Bagaimana?" Tanya suamiku.

"Tunggu hasil analisa dulu." Jawabku.

"Leang istirahat lagi ya," kata perawat yang mengantar kami.

"Mari, pak, Bu." Pamit mereka.

Kami mengucapkan terimakasih pada keduanya.

Tiba-tiba ada suara tangis mendekat.

"Naya..huhuhuhu.. Naya.." ternyata Rara.

"Maaf ya, Nay. Kakak baru jenguk Leang..huhuhu.." katanya.

"Iya, kak." Jawabku sambil menatapnya heran.

"Kau nangis kenapa?" Tanya Nandean.

"Bapak mengusirku pulang, tidak boleh ke rumah sakit." Jawabnya.

"Ya pulanglah. Kok malah nangis." Kata Nandean.

"Aku juga ingin mengurus adikku, melihat keponakanku." Katanya.

"Sudah banyak adikmu yang mengurus, kau urus saja anak-anakmu." Jawab Nandean.

"Kau ini seperti Bapak. Bapak juga bilang begitu tadi. Apa laki-laki di keluarga kita memang begitu semua?" Tanyanya sengit.

"Iya, yang berbeda itu suamimu, bukan anak Bapak." Jawab Nandean.

"Anaknya jugalah." Rara ngotot.

"Kalau suamimu anaknya Bapak bagaimana kau bisa menikah dengan dia?" Tanya Nandean.

Aku menahan tawa.

Rara terlihat berpikir sejenak.

"Bodo amat lah!" Katanya.

Nandean terbahak.

"Rara, Rara, anak sudah tujuh tapi kelakuanmu seperti anak-anak. Nangis-nangis di tempat umum, apa entah." Kata Nandean lagi.

Rara diam saja.

"Nay, maafkan kakak kalau ada salah ya." Tiba-tiba ia memelukku.

"Iya, kak." Jawabku. Masih dengan perasaan heran pada sikapnya.

"Ya sudahlah, aku mau pulang dulu. Bapak Leang, aku minta ongkos sih untuk naik gr*b." Katanya.

Nandean menatapnya, tapi dikeluarkannya juga selembar uang pecahan seratus ribu.

"Terimakasih ya, Bapak Leang, Nay. Semoga rejeki kalian lancar, semoga Leang cepat sehat." Katanya.

"Amin..." Sahut kami.

Rara pun secepat kilat pergi.

"Aneh..." Gumam Nandean.

Aku tertawa pelan.

Keenam iparku punya karakter masing-masing yang benar-benar istimewa.

"Ibu, mamanya Dzaki itu kenapa?" Tanya Leang.

"Dia sedang sedih." Jawabku.

"Apakah Dzaki juga sakit?" Tanyanya lagi.

"Tidak, Dzaki sehat-sehat saja. Leang juga cepat sehat ya, biar bertemu Dzaki." Ucapku.

"Eang mau tidur." Katanya.

"Tidurlah, nak.." kataku sambil mengusap lembut kepalanya yang kini tidak berperban lagi.

Leang memejamkan mata.

Ada ketukan di pintu, aku menoleh. Rossy masuk.

"Kakak sama Abang, dipanggil Bapak dan Mama." Katanya.

"Biar aku yang jaga Leang" sambung Rossy.

"Assalamualaikum..." Suara yang kukenal terdengar mengucap salam.

"Ibu.. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh.." jawabku sambil menyambut. Kucium punggung tangannya. 

Ternyata ayah juga datang. Nandean dan Rossy pun menyalami keduanya.

"Bagaimana kondisi Leang?" Tanya mereka.

"Alhamdulillah, sudah banyak perkembangannya," Jawab Nandean.

"Tadi baru selesai Rontgen, tunggu hasil analisanya besok," sambungku.

Mereka mendekat ke pembaringan.

"Lho? Sudah tidak diperban lagi?" Tanya ayah.

"Kata dokter sudah boleh dibuka," jawabku.

"Ooohh.." mereka berucap bersamaan.

"Ayah, ibu, kami mau ke kamar Marry dulu, ditunggu Bapak dan Mama," kata suamiku.

"Oh, ya, ya. Tidak apa-apa. Tinggal saja Leang bersama kami," sahut ayah.

Rossy terlihat bingung.

"Ikut kami saja, sy," ajak Nandean.

"Iya, ikut saja. Ponakannya aman bersama kami disini," canda ayah sambil tersenyum.

Rossy tertawa.

"Kami keluar dulu, Yah, Bu," pamit Nanden.

Ayah dan Ibu mengiyakan.


Kamar Perawatan Marry berselang satu blok dari ruang perawatan Leang.

Tampak Mama dan Bapak duduk di sisi kiri pembaringan.

Kami menuju ke sisi kanannya.

"Marry, ada adikmu, nak," kata Mama lembut sambil menyentuh tangan Marry.

Marry menggeliat, membuka matanya.

Ia menatap Nandean dan aku dengan ketakutan. Dipejamkannya lagi matanya.

Nandean menyentuh tanganku, memberi isyarat.

Aku mendekati tempat tidur.

"Kak," aku menyapanya, kugenggam tangannya. Dingin.

"Kak, aku minta maaf. Kakak cepat sembuh ya," ucapku terbata.

Marry mengepalkan tangan.

"Marry, adikmu minta maaf, dimaafkan ya, nak. Kau juga harus minta maaf atas sikap kasarmu pada Naya dan anaknya," bujuk mama.

Tak ada reaksi.

Matanya dipejamkan rapat-rapat. Bibirnya kian memucat.

"Kak, Ibunya Leang selalu mendoakan kak Marry, semoga cepat sembuh," kata Rossy.

Marry tak merespon.

"Marry, maafkan istriku ya," kata Nandean di telinganya.

Marry melenguh.

"Salam dari Leang untuk Tante Marry cantik," kata Nandean lagi.

Bulir bening mengalir dari mata Marry. Lalu Isaknya perlahan terdengar.

Ternyata dia bisa takut, dia juga bisa menangis. Pikirku. Entah menangis marah atau menangis menyesal.

"Marry, semua orang menyayangimu. Saya dan Mamamu juga sangat menyayangimu. Meski kau suka melawan, sering buat kami marah, kami tetap menyayangimu," kata Bapak.

"Siang malam kami mendoakan keselamatanmu, siang malam kami mengharapkan kesembuhanmu. Cepatlah kau sembuh dan mulai hidupmu yang baru," lanjut Bapak.

Marry terisak semakin keras. Tapi ia tak mengatakan apa pun.

Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. Yang kutahu, saat ini aku merasa lega karena Marry sudah dalam keadaan sadar kembali, rasa bersalahku sedikit berkurang.

Mama mengusap-usap lengan Marry, memberinya penguatan dan penghiburan.

"Cepat sembuh ya, nak," ucap mama berkali-kali.

Rossy berdiri di ujung tempat tidur, memandangi kakaknya.

"Naura dan Anggun sudah kau beritahu, Rossy?" Tanya Bapak.

"Sudah, pak. Siang ini mereka kesini," jawab Rossy.

"Pak, Lily jangan dibiarkan menjaga Marry sendirian," Kata Nandean.

"Kalau Lily jaga, harus ada orang kedua. Jadi kalau yang jaga berdua, harus ada orang ketiga. Supaya Lily terpantau terus. Bukan aku berprasangka buruk, tapi ada baiknya berjaga-jaga. Semua sudah tahu bahwa peristiwa ini berawal dari hasutan Lily, kita harus tetap waspada Lily akan berupaya menghilangkan jejak. Kemungkinan pertama, dia kembali menghasut Marry, kemungkinan kedua dia mengancam Marry, kemungkinan ketiga dia mencelakakan Marry supaya rahasianya tidak terbongkar, dan menekan Naya supaya terus merasa bersalah," papar Nandean panjang lebar.

Bapak dan Mama tampak merenung.

Aku teringat mimpiku.

"Aku setuju dengan Bapak Leang," ungkap Rossy. "Kita harus menjauhkan kak Marry dari pengaruh buruk kak Lily," sambungnya.

"Intinya, jangan memberi mereka kesempatan hanya berdua," tegas Nandean.

"Mestinya kak Rara juga dijauhkan dari kak Lily," kata Rossy.

"Sudah kubilang sama si Ishaq, jangan boleh si Rara dekat-dekat sama si Lily. Tapi ya namanya kakak beradik. Tetap saja hubungan itu ada," kata Bapak.

"Hubungan memang harus tetap ada, tapi komunikasi harus dibatasi," kata Nandean.

"Ah, entahlah. Bingung saya sama si Lily ini. Mau saya usir, dia belum punya suami, masih ada tanggungjawab saya. Saya suruh cepat-cepat nikah, calonnya pun belum ada. Jadi macam manalah!" keluh Bapak.

"Mereka bukan anak kecil lagi, pak. Umurnya sudah berapa. Harusnya sudah jadi orangtua. Sudah tak pantas lagi menjadikan Bapak tameng, apalagi untuk melindungi kejahatan hatinya," ucap Nandean.

"Mengerikan anak Bapak satu itu," timpal Rossy. "Jahat sejak dalam pikiran," katanya lagi.

"Tapi terserah Bapak, kalau masih mau terus-terusan melindungi dia. Paling nanti ada korban baru lagi," kata Nandean.

"Jangan sampailah, nak," sela Mama.

"Kita harapkan yang baik-baik untuk keluarga ini." 

"Kapan rencana operasi?" Tanya Nandean.

"Masih menunggu hasil pantauan beberapa hari ke depan dulu. Baru nanti diputuskan, harus operasi atau tidak," jawab Bapak.

Aku menatap wajah mertuaku yang terlihat lelah dan tampak lebih tua dalam beberapa hari belakangan.



KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...