Kamis, 19 Mei 2022

SISTER IN LAW (2)

 Bab 2


Keesokan harinya Lily dan Marry menghampiri saat aku menyapu halaman.

"Puas kau ya, sudah membuat keluarga orang berantakan!" seru Marry sambil menjambak rambutku. 

Aku meringis kesakitan. 

"Kalau tidak mau mengurus orang rumah ini, sana cari kontrakan! Gak usah tinggal disini!" kata Lily, matanya membelalak.

"Nanti aku bicarakan dengan Bapak, aku akan pergi dari sini," jawabku.

"Bapak, Bapak, itu Bapak kami, bukan Bapakmu!" kata Marry, telapak tangannya mendorong keras pipiku.


Aku masuk ke rumah.

Mengemasi pakaian anakku.

"Mau kemana?" tanya Nandean. 

Dia dari kamar mandi, tidak tahu keributan di depan tadi.

"Kita pindah saja," jawabku. 

Tak bisa kutahan air mata.

"Ada apa memangnya?" tanyanya bingung.

"Lily bilang, aku gak usah tinggal disini," jawabku.

Nandean diam.

Dia duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap-usap pipi Leang.

"Bapak sudah tahu?" tanyanya lagi.

Aku menggeleng.

"Mama juga belum pulang," kata Nandean.

" Kita cari dulu saja kontrakannya," jawabku.

Aku sudah tak tahan lagi. 

Mereka sudah menggunakan kekerasan fisik.

Nandean ke luar kamar. Tak lama ku dengar teriakan mereka bersahutan. Bertengkar. Aku tak ingin tahu isi pertengkaran mereka, aku hanya ingin secepatnya pergi dari rumah ini.

"Ayo, kita pergi!" ajak Nandean saat ia kembali masuk kamar.

Aku menggendong Leang, Nandean membawa perlengkapan bayi.


Seharian itu kami mencari rumah kontrakan. Menjelang malam, kami menemukan sebuah rumah petak kecil. Nandean langsung membayar biaya sewa untuk satu bulan. Kami putuskan untuk langsung bermalam disana malam itu. 

Seorang tetangga di rumah petak sebelah meminjamkan tikar untuk kami tidur. Bahkan kami hanya memakai pakaian yang melekat di badan.

Esok harinya Nandean pulang dan kembali ke kontrakan membawa beberapa helai pakaian.

Kehidupan baru kami di rumah kecil ini pun dimulai. Tanpa ipar, tanpa mertua. Tanpa drama pagi-pagi.

Kami membeli tempat tidur dan peralatan dapur yang dibutuhkan.

Disini bahkan Nandean menjadi lebih rajin dan tidak segan membantuku menyelesaikan pekerjaan rumah. Menyapu lantai, mencuci pakaian, dan hal-hal kecil lain.

Kurasa keputusanku untuk mengajaknya keluar dari rumah itu memang sudah tepat.


Seminggu kemudian, Mama mertuaku sudah pulang dari Medan. Kami kesana, berpamitan, dan membawa pakaian yang tersisa.

Mama terkejut mendapati kami sudah seminggu tidak di rumah mereka lagi. Pelan-pelan mama menanyakan padaku apa yang terjadi selama beliau pergi. Aku hanya mengatakan bahwa sudah waktunya kami pindah untuk mandiri, itu saja.

Meski tampaknya masih banyak hal yang ingin ditanyakan tapi mama tak bertanya apa-apa lagi.

"Kalian bilanglah sama Bapak," kata Mama.


Kami menemui Bapak yang sedang duduk di teras, menyampaikan maksud kami.

"Sudah bulat tekadmu mau keluar dari rumah ini?" Tanya Bapak.

Aku dan Nandean mengiyakan.

"Yah, mau bagaimana lagi. Memang harus ada yang mengalah," kata bapak.

"Saudara-saudara mu ini belum menikah, maka mereka masih menjadi tanggungjawab saya. Sementara kalian pun sudah punya tanggungjawab sendiri," katanya lagi.

"Kalau memang dirasa baik untuk pindah, silakan pindah, belajar mandiri, itu juga bagus," lanjut Bapak.


Aku melihat bayangan Marry berkelebat di balik jendela. Seperti biasa ia mencuri dengar pembicaraan.

"Baik-baiklah dengan tetangga baru disana ya, Nay," pesan mama.

"Pandai-pandailah kalian membawa diri di lingkungan baru," pesan Bapak.

Kami mengangguk. Lalu menyalami kedua orangtua itu dengan hormat.

Tanpa membawa barang apa pun kami keluar dari rumah itu, satu buah sendok pun tidak. Padahal aku tahu Mama dan Bapak memiliki kebiasaan memberi hadiah perlengkapan rumah pada kerabat yang akan memulai pisah rumah dari orangtuanya.

Kulihat ada kesedihan di wajah keduanya, juga di wajah Nandean.

Sempat kulihat bayangan dua kepala di balik jendela kamar depan saat kami keluar dari halaman rumah.


Sejak itu aku hanya sesekali berkunjung ke rumah mertuaku, saat hari raya atau hari tertentu jika Mama meminta kami datang. 

Lily dan Marry masih menampakkan permusuhan. Terutama Marry, bahkan dia sudah membanting pintu saat melihat aku memasuki halaman rumah.

Kadang aku membawakan oleh-oleh untuk mertuaku, kue-kue atau makanan lain yang kubuat sendiri. Namun aku pernah melihat kue itu telah masuk ke tempat sampah saat Mama hendak memindahkan ke piring atau wadah lainnya. Sehingga Mama sering menyimpan oleh-oleh dariku di kamarnya.


Anakku, Leang, tumbuh semakin besar, sehat dan lincah. Ia selalu ketakutan melihat Marry yang sering membelalakkan mata saat melihatnya. Marry juga kerap menakuti anakku dengan mengacungkan tinjunya. Bahkan aku pernah melihat Marry menyalakan api di sepotong kayu dan mendekatkankannya ke wajah Leang, untung saat itu aku segera datang. Dia langsung melempar potongan kayu itu ke jalan. Tapi itu membuatku jadi lebih berhati-hati saat membawa Leang ke rumah kakek dan neneknya.

Aku jarang masuk ke dalam saat berkunjung ke rumah mertuaku untuk menghindari pertemuan dengan ipar-iparku. Aku tahu diri, mereka tak ingin melihatku. Bagi mereka mungkin aku seperti kotoran yang menjijikkan.

Maka setiap kali berkunjung aku hanya mengobrol dengan kedua mertuaku di teras depan, dengan tim pencuri dengar yang setia duduk dibawah jendela. Aku tak habis pikir, betah sekali mereka seperti itu. Tak mau bertemu tapi ingin tahu isi pembicaraanku.


Suatu hari kami berkunjung kesana. Leang sudah berumur dua tahun. Dia sangat aktif, berlari cepat dan tak bisa diam. 

Seperti biasa aku dan mama mengobrol di teras depan. Leang bermain di halaman.


Tak lama Marry keluar dari kamar.

"Aku mau pergi, Ma!" Dia berteriak kepada Mama 

"Gerah aku di rumah ini kedatangan anak set*n!" katanya.

Aku dan mama hanya diam, tidak menanggapi.

Dia berjalan ke arah pintu pagar, membuka pagar lebar-lebar. 

"Jangan lebar-lebar, nak. Ada anak kecil ini, nanti dia lari ke jalan," kata Mama mengingatkan, sambil bangkit hendak menutup pintu pagar.

"Biar saja! Biar mati ketabrak mobil sekalian!!" jawab Marry keras.

Hatiku miris, sebegitu benci hatinya pada kami.


Tiba-tiba Leang berlari cepat ke arah pintu pagar yang terbuka. Aku berlari mengejar anakku. Tapi Leang sudah keluar pagar, melesat cepat ke arah jalan. 

Di saat bersamaan sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi. Tak bisa menghindar dari Leang yang berlari. Tubuh kecilnya terlempar ke udara lalu jatuh beberapa puluh meter mengenai ujung mobil yang juga sedang melintas di jalur lain.

Leang tergeletak di aspal. 

Aku menjerit.

Berlari menubruk tubuh Leang, darah mengalir dari mulut, hidung, dan telinganya. Matanya tertutup. 

"Leeeaaaaaaangng....!!!!!" Teriakanku mengangkasa menyebut namanya.

Orang-orang ikut menjerit. 

Aku melihat ke arah Marry tadi pergi.

Ia masih terlihat, belum jauh berjalan dan sama sekali tidak berhenti. Padahal orang-orang berlarian ke arah tempat kejadian.

Kuletakkan tubuh Leang dan bangkit berlari mengejar Marry. Kutarik pakaiannya. Tenagaku berlipat ganda. Kutinju wajahnya, kudorong tubuhnya, kuinjak-injak perutnya, dadanya. Ia berteriak-teriak. Orang-orang berusaha memegangi aku.

"Sudah, Mbak! Sudah, Mbak. Kita urus anaknya mba saja!" Lerai mereka.

Tapi aku sudah kerasukan setan.

Aku terus menendangnya. Kulepaskan diri dari pegangan orang-orang.

Aku benar-benar kalap. Kulihat sebuah batu besar di pinggir jalan. Kuangkat dan kulemparkan ke arah kepala Marry yang sedang dibantu duduk oleh beberapa orang. Mereka berteriak, tapi aku tak perduli.

Terbayang tubuh anakku yang bersimbah darah. Aku pun ingin melihat dia bersimbah darah. Kuambil lagi batu tadi, kuhantamkan berkali-kali ke kepala Marry. Orang-orang menjerit. Darah muncrat dari kepalanya, mengalir membasahi jalan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...