Kamis, 19 Mei 2022

SISTER IN LAW (3)

 Bab 3


Suara sirine dua ambulans meraung-raung beriringan membelah jalan kota, bersaing dengan raunganku yang mendekap Leang. Aku menyebut nama putraku dan nama Tuhan berganti-ganti. Aku mengiba, memohon, agar Tuhan memberikan keajaiban bagi anakku.

Leang tak bergerak, kesadarannya telah lenyap, nafasnya yang lambat terdengar seperti dengkuran halus, matanya terpejam rapat, detak jantungnya yang kurapatkan ke dada adalah harapan terbesarku agar ia terus terpompa dan mendenyutkan nadi-nadi kecilnya.

Aku tergugu pilu. 

Tuhan, aku tak ingin kehilangan anakku. Ia cahaya mataku, pelipur laraku, penguat semangatku.

Setiba di rumah sakit tampak beberapa petugas berlari menyongsong ambulans. Mereka membawa brankar dan bergegas menyambut Leang dari dekapanku. Beberapa petugas lainnya menurunkan brankar yang berisi tubuh Marry dari ambulans kedua. Bergegas mereka mendorong brankar masuk ke Instalasi Darurat Medik.

Aku terus tersedu-sedu melihat kondisi putraku. Mama mertua menghampiriku, kami menangis sambil berpelukan. Tak kuhiraukan pakaianku yang masih penuh noda, darah anakku.

"Mengapa harus seperti ini, Nay? Mengapa jadi seperti ini?" Isaknya.

Lily tampak sebal menatap kami. Ia berbisik-bisik dengan Naura dan Anggun. Lalu mendekat kearah kami.

"Anak mama itu lagi sekarat di dalam, mama malah peluk-pelukan sama menantu mama. Menangis pun percuma, Ma. Tak akan membuat Marry langsung sembuh," ujarnya setengah membentak.

Aku menatapnya sengit.

"Kau pikir cuma adikmu yang sekarat? Kau tahu, anakku juga sekarat disana." Aku menekan suaraku.

"Kau tak punya adik, jadi tak tahu rasanya!" Lily menjawab.

"Kau tak punya anak, jadi kau pun tak tahu bagaimana rasanya," sahutku.

Lily terdiam, wajahnya merah padam. 

Di usianya kini, mestinya dia sudah memiliki lima anak. 

Aku tahu ucapanku menyakitinya, tapi aku tak peduli.

"Sudah, sudah, jangan ribut, malu!" Naura, adik Lily, menengahi.

Selama ini Naura memang tak terlalu ikut campur urusan kami, meski aku tahu ia pun sering menerima laporan-laporan palsu tentang aku dari Lily dan Marry. Ia tinggal bersama keluarga kecilnya di kelurahan yang berbeda, hanya sesekali dalam sebulan ia datang ke rumah mertuaku. Sementara Anggun menghampiri Mama dan mengajak duduk di kursi tunggu.

Di kejauhan nampak Nandean berlari-lari dari halaman parkir menuju ke arah kami, di belakangnya terlihat Bapak berjalan tergesa. Seorang tetangga telah menghubungi mereka dan menganjurkan untuk langsung ke rumah sakit ini.

"Kenapa jadi begini sih?" Tanya Bapak, entah ditujukan pada siapa.

"Kau tahu sendirilah anakmu itu seperti apa dengan si Naya." Mama menjawab.

"Tak habis pikir aku, ada dendam apa lah anak itu sama si Naya," gerutu Bapak.

Nandean menghampiriku. 

Air mataku semakin membanjir.

"Tenanglah," bisiknya sambil merengkuh bahuku.

Seorang perawat keluar dari ruangan,

"Keluarga Ananda Leang!" panggilnya lembut.

Aku langsung menghampiri nya, "saya ibunya, mba," jawabku.

"Silakan masuk, Bu. Bapak, ayahnya?" Tanyanya kepada Nandean. 

Kami mengiyakan. 

"Berdua boleh masuk," ujarnya sambil tersenyum.

Aku dan suamiku memasuki ruang IDM. Kulihat Leang terbaring tenang. Darah sudah bersih dari wajahnya, perban terbalut penuh hampir di seluruh tubuhnya. Air mataku tak henti mengalir. Kucium pipinya penuh kasih. Demi Tuhan, aku tak ingin kehilangan anak ini. 

Nandean mengusap pipi Leang perlahan, tangisnya pecah.

Orangtua mana yang tahan melihat penderitaan anaknya?

Dokter mengajak kami duduk.

"Bapak dan ibu, kita mengupayakan yang terbaik yaa. Kondisinya sangat parah, perlu pemeriksaan lanjutan bagi Leang untuk mengetahui cedera tubuh di bagian dalam. Diduga ada beberapa retakan di bahu dan kaki kanan. Namun mengingat Leang masih anak-anak, biasanya retakan lebih cepat pulih. Kita berharap semoga saja retakan itu tidak ada. Pendarahan di bagian kepala kita harapkan juga tidak sampai ke bagian otak. Namun untuk hasil diagnosa pastinya kita tunggu hasil rontgent.

Bapak dan ibu, mohon bersabar dan terus berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan anak ini," papar dokter.

Kami hanya bisa mengangguk. Ribuan tanya tertumpuk oleh jutaan harap.

"Saat ini hanya perawat yang boleh menunggu disini, kami akan panggil bapak dan ibu jika ada tindakan lanjutan," kata dokter lagi.

"Baik, dokter. Terimakasih," jawabku dan Nandean berbarengan.

Aku menghampiri anakku, mengecup pipinya. Membisikkan doa-doa penuh pengharapan. Lalu keluar ruangan.

"Bagaimana?" Tanya Bapak dan Mama.

"Masih tunggu pemeriksaan lanjutan,"

Jawab Nandean pelan.

"Marry bagaimana?" Lily menyela ketus.

"Kau tanya sendiri sama dokternya sana!" jawab Nandean tak kalah ketus.

"Kalian kan dari dalam, kenapa tak menyempatkan melihat Marry?" gerutu Anggun.

"Sudah ada panggilan untuk keluarga Marry belum?" Nandean balik bertanya.

Mereka diam.

"Kalau belum dipanggil berarti belum ada yang bisa dikonsultasikan dokter. kok maksa, aneh!" gerutu Nandean.

"Sabar sih, nak. Keluarga kita ini sedang dalam musibah. Yang sabar, jangan saling menyalahkan, bertengkar, tak enak didengar orang." Mama urun bicara.

"Suruh siapa juga datang ke rumah, bawa sial!" Lily bergumam.

Plak! 

Sebuah tamparan mendarat di pipi Lily. Tampak Bapak menatapnya dengan penuh amarah.

"Bukan kau yang dikunjungi, bukan rumahmu yang didatangi. Tapi kami, mertuanya, neneknya, yang dikunjungi. Rumah kami yang didatangi. Lebih berhak mereka yang ada di rumah kami daripada kau. Paham kau?" Bentak Bapak.

Naura dan Anggun memegangi Bapak.

"Sudah, pak. Sudah, Malu dilihat orang," bujuk mereka.

Beberapa pasang mata menatap kami. Ada yang hanya diam memperhatikan, ada juga yang berbisik-bisik.

"Pergi kau dari sini!!" Usir Bapak 

Wajah Lily pucat. Dia tak menyangka Bapak akan marah padanya. Selama ini dia beranggapan Bapak paling menyayanginya.

"Aku mengkhawatirkan Marry, pak," ujarnya terbata.

"Kau pikir aku tak khawatir pada anakku? Pada cucuku? Khawatirku berlipat, sebagai Bapak dan sebagai kakek," jawab Bapak.

"Sudah, ly. Kita pergi dulu," ajak Naura.

Mereka berlalu menjauh.

"Tunggu disini, Nay. Aku keluar sebentar," ujar Nandean. Aku hanya diam, lidahku terasa kelu untuk berkata-kata. Pikiranku dipenuhi bayang anakku yang terbaring di dalam.

Beberapa menit kemudian Nandean kembali, membawa sebuah bungkusan yang disodorkan padaku.

"Ganti pakaianmu," katanya.

Kubuka bungkusan yang diberikan, satu stel baju. Entah dia beli dimana, mungkin di mini market depan rumah sakit.

Aku bergegas ke toilet, bersih-bersih tubuh dan mengganti pakaianku disana lalu sekalian berwudhu.

Aku berpamitan pada Nandean untuk ke musholla rumah sakit.

"Mau kemana, Nay?" Tanya mama.

"Ke musholla, Ma," jawabku.

"Mama ikut," katanya.

"Pergilah, Ma. Kalau ada panggilan dokter biar saya sama si Anggun yang masuk," ujar Bapak.

Aku bergandengan tangan dengan Mama ke musholla. Kami tidak seperti mertua dan menantu, tetapi benar-benar seperti ibu dan anak.

Kami sholat hajat dua raka'at, dalam deraian air mata yang tak henti mengalir. Memanjatkan doa, melangitkan permohonan, mengiba kasih sayang, dari Sang Pemilik Semesta. Isak kami bersahutan. Masing-masing khusyuk dan tenggelam dalam lautan permohonan. Hanya kepadaNya kami meminta pertolongan.

Aku menyalami Mama dan bersimpuh di pangkuannya, memohon maaf karena telah melukai anaknya dan lengah pada cucunya. Mama pun memohon maaf atas segala perlakuan Marry kepadaku dan kepada Leang, memintaku untuk mengikhlaskan semua kesalahan Marry. Kami menangis sejadi-jadinya.

Seburuk-buruknya Marry, tetaplah anaknya. Tak ada orangtua yang ingin kehilangan anak. Sesedih-sedihnya aku, mungkin kesedihan mama jauh lebih dalam, memikirkan kelakuan anak-anaknya.

Aku sendiri heran, mama dan bapak begitu baik, begitu santun, mengapa anak-anaknya memiliki temperamen dan karakter yang jauh berbeda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEPERCAYAAN

 "Perawatan duyuuuu ..." Terbaca caption seorang teman pada unggahan sebuah foto di media sosial, menampilkan dirinya sedang berad...