Bab 1
Suamiku berasal dari sebuah keluarga besar. Ia anak ke enam dan lelaki satu-satunya dari tujuh bersaudara. Usia mereka delapan hingga duabelas tahun diatasku, kecuali Rossy, adik Nandean (suamiku) ia satu tahun dibawahku. Dua orang dari mereka sudah menikah, Rara dan Naura namanya. Rara memiliki enam anak lelaki, satu perempuan. Naura memiliki dua orang anak, lelaki dan perempuan. Empat Iparku yang lain belum menikah, mereka adalah Lily, Anggun, Marry, dan Rossy.
Dari keenam iparku, dua orang membenciku. Sebabnya? aku tidak tahu. Mereka menunjukkan ketidaksukaannya sejak pertama bertemu. Terutama Marry, dia terang-terangan menunjukkan kebenciannya dengan cara yang vulgar. Sedangkan Lily, lebih pada munafik. Di depanku ia baik, di belakangku ia mempengaruhi Marry agar bersikap jahat padaku.
Nandean selalu meminta kesabaranku dalam menghadapi saudara-saudaranya. Itu sebabnya aku tetap bersikap baik, meski tak selalu dibalas baik. Tetap menyapa dengan sopan, meski sapaanku seperti angin yang tak diperhitungkan.
Berbeda dengan iparku, kedua mertuaku sangat baik. Mungkin itu juga penyebab mereka benci padaku, karena iri. Semakin baik mertua memperlakukan aku, mereka semakin benci dan jahat padaku.
Mertuaku tak punya asisten rumah tangga. Segala sesuatu dikerjakan sendiri oleh Mama. Memasak, beres-beres, bersih-bersih. Iparku hanya membantu saat mereka libur. Itu pun tidak dilakukan secara rutin. Dengan alasan libur adalah waktu istirahat, maka hari libur mereka gunakan untuk bermalas-malasan atau jalan-jalan seharian. Praktis aku lah yang sering membantu Mama mengurus rumah. Aku kasihan dan tak sampai hati melihatnya kerepotan sendiri.
Subuh-subuh aku sudah bangun. Setelah sholat subuh aku menyiapkan teh dan sarapan untuk mertuaku. Sehingga Mama bisa agak santai sholat subuh dan memperpanjang dzikir. Aku membereskan piring kotor bekas mereka makan malam, membersihkan dapur dan menyapu halaman.
Suara sapu lidi bersentuhan dengan tanah dan kerikil menjadi alasan bagi Marry untuk memakiku. Kepalanya muncul di jendela kamar dan berujar: "Iblis! pagi-pagi ganggu orang tidur," matanya membelalak.
Aku pura-pura tidak melihat dan mendengar. Aku terus membereskan sampah-sampah daun mangga dan nangka yang berguguran.
Saat aku kembali ke belakang, dia sudah ada di ruang makan. Berdiri di samping meja. Melihatku masuk dari pintu samping, dia langsung berucap:
"Setan! cari muka." Lalu dia membanting sendok teh yang tadi kuletakkan di sisi gelas Bapak.
Aku diam saja.
"Apa sih, nak? pagi-pagi kok sudah ngomong gak karuan," Mama keluar dari kamar, selesai dzikir.
"Mama minum teh yang sudah didukunin sama setan itu, makanya nurut," kata Marry.
Aku terkejut.
"Astaghfirullahal'adziem, jaga mulutmu, Marry. Tak baik bicara seperti itu," kata Mama.
Tapi Marry sudah melengos, masuk kamar sambil membanting pintu.
Mama hanya menggelengkan kepala dan mengurut dada.
"Sabar ya, Naya," bisiknya kepadaku.
Aku cuma tersenyum.
Sedih rasanya setiap pagi mengalami hal seperti ini. Selalu saja ada alasan Marry untuk memakiku.
Tak lama Bapak mertuaku pulang jalan pagi, ia membawa bungkusan makanan.
"Untuk si Naya," katanya kepada Mama.
Sambil tersenyum mama memberikannya padaku.
"Terimakasih ya, Pak," sambutku.
Kubuka bungkusan itu, ada bubur kacang hijau dan kue lupis. Kuhidangkan di meja sarapan, bersamaan dengan nasi goreng yang sudah kusiapkan.
"Makanlah berdua mamamu, aku makan nasi goreng saja," kata Bapak.
"Mana si Nandean?" Tanyanya lagi.
Aku memanggil suamiku.
Kami sarapan bersama.
Iparku, Lily, keluar kamar.
"Banyak amat sarapan ini? Boros," gerutunya.
"Bapakmu yang beli," mama berkata pelan dan halus.
"Kenapa kau pusing? Uangku yang kupakai," kata bapak.
"Untuk siapa bapak beli bubur itu?" Tiba-tiba Marry sudah berdiri di samping Lily.
"Terserah saya untuk siapa," jawab Bapak.
"Anak orang bapak beliin, anak sendiri gak bapak pikirin," gerutu Marry.
Nandean berdiri.
"Kau mau bubur ini? Nih, ambil!" katanya pada Marry.
"Haram aku makan makanan yang sudah diberikan pada setan!" Jawab Marry sambil melangkah pergi.
"Astaghfirullahal'adziem... " Mama istighfar.
"Yah.. apa boleh buat, begitulah iparmu, Naya. banyak-banyaklah kau bersabar," kata bapak.
Aku diam saja.
Menurut Nandean, tingkat kecerdasan Marry dibawah normal. Itu sebabnya kami semua harus memaklumi.
Begitulah drama yang kulalui setiap pagi.H ingga aku melahirkan Leang, putraku. Kami masih tinggal disana. Alasan klise, suamiku anak lelaki satu-satunya.
Kebahagiaan Mama dan Bapak bertambah dengan hadirnya Leang, sementara kebencian Lily dan Marry semakin tebal. Mereka kian sering menyebarkan fitnah ke kakak adik mereka yang lain, Rara, Naura, Anggun, dan Rossy. Seringkali tanpa sebab yang jelas mereka memusuhiku.
Suatu kali Mama pergi mengunjungi rumah kerabatnya di Medan. Maka tugas-tugas harian mama beralih semua kepadaku. Tak satu pun dari iparku yang mau membantu. Padahal aku juga repot dengan urusan bayiku.
"Begitulah ibu rumah tangga," ujar Lily, tiap kali dia melihat aku menjemur cucian atau memasak sambil menggendong Leang.
Anggun memilih pura-pura tak melihat. Rossy yang agak baik hati, kadang mbamtu menyapu dan mengepel lantai. Kadang ia pun kena sasaran kemarahan marry dan Lily karena membantu meringankan pekerjaanku.
Rara, iparku yang sulung, datang ke rumah. Mengeluhkan dirinya yang sudah hampir dua bulan tidak berangkat kerja karena ketiadaan pembantu rumah tangga. Ia kerepotan mengurus ke tujuh anaknya.
Lily dan Marry menyarankan Rara untuk menitipkan anaknya ke rumah ini. Mereka pun mencari orang yang ditugaskan untuk menjaga Dzaki, anak bungsunya yang seumur Leang. Keesokan harinya rumah mertuaku ramai. Enam orang anak kecil yang besarnya hampir rata dan seorang bayi, dititipkan di rumah ini.
Anehnya, pembantu yang ditugaskan menjaga Dzaki, hanya boleh menjaga Dzaki, tidak boleh melakukan pekerjaan lain. Sehingga tugas-tugas lain, membereskan rumah, mainan, menyiapkan makanan, seolah menjadi tugasku.
Hari pertama dan kedua, aku memaklumi. Hari ketiga dan keempat aku bersabar hati. Hari kelima dan keenam aku menahan diri. Hari ke tujuh, aku mulai emosi. Apalagi Leang sampai terjatuh dari ayunan bayi saat aku sibuk membersihkan ikan di dapur, menyiapkan makan siang untuk anak-anak itu.
Esoknya saat Nandean dan Bapak pergi bekerja, aku pun pergi ke luar rumah. Tanpa tujuan. Aku menggendong Leang, berkeliling kota naik angkot. Dari satu terminal ke terminal lain. Dari satu pasar ke pasar lain. Seharian.
Aku pulang menjelang Maghrib. Lily dan Marry duduk di teras rumah, aku pura-pura tak melihat. Di dapur, Rara sedang memasak sambil membanting-banting perkakas.
Aku masuk ke kamar. Nandean sudah pulang.
"Darimana?" tanyanya.
"Dari pasar," jawabku.
"Seharian?" Tanyanya lagi.
Aku diam.
"Sudah makan?"
Aku menggeleng.
Nandean menyorongkan sepiring buah pepaya. Mungkin diambilnya dari pohon di samping rumah.
Aku memakannya, sambil menyusui Leang.
"Bukan cuma kau yang lapar, bayimu juga lapar," kata Nandean.
Aku mulai menangis.
Aku memang lelah sekali.
"Kenapa kau pergi?" Tanyanya.
Aku tak menjawab.
"Kau tak mau mengurus anak-anak itu kan?" Tuduh Nandean.
"Kau pergi seharian, mereka kelaparan," katanya.
Aku merasa disalahkan.
"Mereka lapar, itu bukan tanggungjawabku. Itu urusan orangtuanya," jawabku.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku.
"Kau tinggal disini, jadi siapa pun yang ada disini, itu menjadi tanggungjawab kita," katanya.
Aku menatapnya tak berkedip. Ia tak ada beda dengan saudara-saudaranya. Ini pasti racun yang dijejalkan Lily dan Marry kepada Nandean saat aku tak ada.
Aku kembali menggendong Leang. Mengemas pakaian bayi, keluar kamar.
"Mau kemana?" Tanya Nandean keras.
Aku tak menjawab. Melesat keluar dari kamar.
"Jangan pulang lagi!" seru Nandean.
Marry berdiri dekat pintu kamar, ia menguping pertengkaran kami.
Pertengkaran aku dan Nandean, ini memang tujuan mereka.
Aku terus berjalan, melintasi dapur, menuju pintu keluar.
Nandean menangkapku.
Enam orang anak berbaris memperhatikan kami.
"Kau lihat Mama Tari kerepotan sendirian? Lalu kau masih mau pergi ?" Bentak Nandean.
"Bukan urusanku!" Aku juga berteriak.
"Aku bisa mengurus anakku, tapi aku capek kalau harus mengurus delapan anak sekaligus!" teriakku.
"Iya, itu memang urusanku! Aku tak memintamu mengurus anakku!" Teriak Rara.
"Tapi kenapa aku yang harus menyiapkan makanan mereka setiap hari?" Tanyaku.
"Jadi kau keberatan? Hah?" Tanya Nandean.
Aku sempat melirik Marry dan Lily yang tersenyum simpul.
Tiba-tiba Bapak muncul.
"Ada apa sih?" Tanyanya.
"Gak tau. Ribut aja!" Marry bersungut-sungut.
"Bikin malu!" timpal Lily.
"Diam kau!" bentak Bapak pada keduanya.
"Jangan kau tambah-tambah keributan disini!"
Lily dan Marry diam.
"Kau, Ra. kenapa kau marah-marah, teriak-teriak di rumah saya?" Tanya Bapak.
"Aku capek, pak! Kerja seharian, Anakku di rumah kelaparan!" Jawab Rara tak kalah keras suaranya.
"Itu urusanmu! Kenapa pula kau marah-marah disini?" gerutu bapak.
"Siapa yang nyuruh kau taruh anakmu disini?" tanya Bapak lagi.
"Lily dan Marry yang nyuruh aku nitip anak-anak disini, biar aku bisa kerja!" jawab Rara.
"Ini rumah saya, sudah izin kau sama saya?" tanya Bapak.
Rara terdiam.
"Bukan haknya Lily dan Marry mengatur orang-orang ini. Saya yang berhak ngatur di rumah ini, paham kau?"
"Bodohnya kau, diatur-atur adikmu."
Diam-diam Lily dan Marry meninggalkan ruangan.
"Kau juga, Nandean. Kenapa pula kau marah-marahi Mama Si Leang?"
"Dia pergi seharian," jawab Nandean.
"Sudah kau tanya kenapa dia pergi?" Tanya Bapak lagi.
"Dia capek ngurus anak-anak ini," kata Nandean. "Iya kan?" Tambahnya lagi kepadaku.
"Macam mana dia tak capek. Sudah capek pun dia urus bayimu, dia urus urusan rumah ini, ditambah pula urusan anak si Rara. Wajar kalau dia capek. Dia bukan ibu asrama, bukan ibu panti asuhan," kata Bapak.
"Naya, kau masuklah. Istirahat di kamarmu," ujar bapak kepadaku.
"Jangan kau marah-marahi istrimu karena urusan orang lain," ucap Bapak kepada Nandean.
"Dan kau, Rara. Tak pantas kau marah-marah di rumah ini, marah-marah pada menantu kami. Kurang ajarnya kau ini. Pulang ke rumahmu sana, bawa semua anakmu. Jangan kau merecoki rumah tangga orang lain!" Bapak membentak Rara.
Aku masuk ke kamar. Mendekap anakku erat-erat. Nandean masuk, memelukku.
Ku dengar Rara memanggil anak-anaknya. Lalu rumah sepi. Mereka pulang.
=Bersambung=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar